Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 142 ~ Mouresa POV


__ADS_3

Tangan lentik ku begitu bergetar saat memegang benda putih memanjang ini. Dua garis merah yang terlihat begitu jelas pada benda kecil ini.


Membungkam mulutku sendiri tak percaya, saat dua testpack itu benar-benar menunjukkan hasil positif semua. Berkali-kali aku menghela nafasku, bukannya tidak senang tetapi putri ku Mezza belum genap setahun.


Jantungku berdetak kencang saat suara pintu terbuka dengan tiba-tiba.


"Sayang," panggil suami ku dan sontak aku buru-buru menyembunyikan tespack itu dibalik tubuhku. Tersenyum dengan hambar nya pada manusia yang sangat aku cintai ini.


"Kamu kenapa?" tanya suami ku yang pasti sudah curiga dengan mimik wajah ku.


Menggigit bibir bawahku dengan gugup, aku ulurkan benda berwarna putih ini.


Dahi Abang berkerut dan segera mengambil tespack itu. Menatap penuh tanya padaku. "Ini apa?"


Memejamkan mataku sejenak, bukankah suamiku adalah laki-laki yang cerdas. Mengapa harus bertanya sih, jujur saja aku takut dengan reaksi Gemilang nantinya.


"A-aku hamil lagi." Menunduk tanpa berani menatap mata tajamnya.


Detik selanjutnya tubuhku ditarik dalam pelukannya yang hangat. Terdengar ia menghela napasnya berkali-kali.


Sebelum tangan besar itu mengusap rambutku dengan lembut. "Apakah kamu tidak apa-apa?" tanyanya terdengar khawatir denganku.


"Apakah tubuhmu siap jika mengandung dan melahirkan lagi?"


Aku mendongak dan menatap netra tajam favoritku. Mengusap jambang tipis milik suamiku aku mengangguk mantap. "Aku sudah sangat siap dengan hal apapun. Tolong jangan sedih atas hadirnya buah hati kita, aku takut dia juga akan bersedih nantinya."


Bibir seksi itu melengkung dengan sempurna. "Aku bahagia, sangat bahagia dengan bertambahnya malaikat kecil yang nantinya akan meramaikan seisi rumah. Hanya saja..." ucap Abang terlihat ragu.


"Apa Daddy?" tanyaku sembari menangkup kedua pipinya.


"Aku takut melihatmu kesakitan lagi," ucapnya dengan lemah tersirat nada kekhawatiran yang kental di dalamnya.


Aku sandarkan kepalaku pada bahu kokoh dan nyaman ini. "Aku tidak apa-apa, dan sangat senang bisa merasakan hal itu untuk menghadirkan mereka di dunia ini. Abang tenang saja, habis ini kita konsul ke dokter biar semuanya aman."


.


.


.

__ADS_1


"Apa!" ucap mertuaku begitu terkejut namun segera tersenyum lebar saat mendengar berita bahagia ini.


"Hamil lagi? pantas saja Mezza nggak mau ikut mommy nya akhir-akhir ini." Mami terlihat begitu antusias dengan berita ini, dan aku senang sekali Mami tidak kecewa pada kami, mengingat umur Mezza yang baru sepuluh bulan.


"Iya Mam," jawab suamiku dengan santainya.


"Wah, kamu gercep banget ya Gem," sahut Papi yang tengah memangku Mezza. "Tapi nggak papa, nanti rumah ini malah tambah rame."


Tangan besar milik Gemilang mengusap-usap perutku yang masih rata. "Kira-kira dia minta yang aneh-aneh kayak Mezza nggak ya," ucap suamiku yang membuat kami semua tertawa.


.


.


.


Suasana riuh dan riang menyelimuti seluruh taman bermain ini. Senyumanku tak luntur ketika mendengarkan ocehan putriku yang tengah berada di gendongan daddy-nya.


Mengusap perutku yang sudah membuncit. Aku terus mengikuti langkah kaki suamiku, tidak melepaskan genggaman tangan kita di tengah-tengah keramaian ini.


Laki-laki tampan dan gagah ini selalu sigap melindungi kami dan aku begitu bersyukur memilikinya.


"Kamu duduk sini ya, Mom." Membantuku untuk duduk di bangku memanjang di bawah pohon rindang ini.


Aku hanya mengangguk dan selalu menuruti kata-katanya. Sebenarnya tidak juga sih, semenjak kehamilan keduaku, aku seringkali mengabaikan suamiku kadang kita sampai bertengkar karena hal itu.


Mungkin ini bawaan bayi atau apa tapi yang pasti aku suka sebal sendiri dengan Abang.


"Mezza haus?" tanya Gemilang pada putri kecil kami yang terlihat kesal sedari tadi. Mezza ingin berlari di bawah tengah teriknya matahari dan tentu saja aku larang.


Menggeleng kesal dengan bibir yang mengerucut. "Mau main Daddy," ucapnya dengan manja.


"Sebentar lagi sayang, kita duduk sini dulu. Biar Daddy belikan minum untuk kalian." Suamiku berkata dengan lembut. Karena Mezza sangat keras kepala, aku selalu mewanti-wanti agar Abang berkata dengan pelan padanya.


Mendengus kesal Mezza hanya mengangguk.


"Tunggu sebentar ya," ucap Abang sembari mengusap kepalaku.


"Iya."

__ADS_1


"Mommy.." panggil Mezza beralih menatapku saat mataku hanya terpaku pada sosok tampan itu.


"Iya sayang."


Tangan mungil Mezza hinggap pada perut buncit ku. "Kalau dedek nendang mommy cakit nggak?" tanya nya dengan raut wajah yang polos.


"Sedikit," jawabku terkekeh.


"Mezza sayang," panggil Abang yang sudah membawa dua minuman di tangannya. "Di cariin tuh." Menunjuk dengan dagunya yang membuat aku dan Mezza mengalihkan pandangan.


"Oma! Opa!" Mezza berlari kecil menghampiri dua orang yang baru saja datang itu.


"Ini minum dulu," ucap Abang menyerahkan sebotol minuman dingin yang sudah di buka tutupnya.


"Panas ya?" tanya nya penuh perhatian. Mengusap dahiku yang di penuhi oleh buliran keringat.


Setiap ku pandang netra tajam ini seolah duniaku hanyut kedalamnya. Sosok keras yang selalu memperlakukan ku dengan lembut ini selalu membuat jantungku berdebar kencang.


Puing-puing kenangan sewaktu ia bersimpuh di hadapanku dengan air mata yang membuat dirinya tak lagi berwibawa membuatku selalu merasa menyesal.


Gemilang bagaikan sayap pelindung bagiku. Selalu dengan sigap membentangkan sayapnya saat aku di lukai, di caci, di buli.


Ia bagaikan sebuah sinar yang masuk dalam kehidupanku yang gelap ini dengan benderangnya.


Sekali lagi Abang ku adalah obat dari segala obat dari penyakit dalam diriku selama ini. Terimakasih Tuhan sudah menghadirkan malaikat yang tampan ini untukku dan juga anak-anak ku.


Tak terasa air mataku luruh. Membuat sosok di sampingku begitu panik. "Kamu kenapa?"


Aku hanya menggeleng dan segera memeluk tubuhnya yang begitu keras dan nyaman. Aroma maskulin yang hanya di miliki oleh suamiku sudah menjadi candu bagiku.


"Mou cinta sama Abang," ucapku tersenyum saat Mezza melambaikan tangan kearah kami.


"Aku lebih mencintaimu, Mouresa." Aku sangat bahagia saat benda kenyal itu menyentuh keningku dengan lembut. Tangan kekarnya mengelus perut buncitku.


Sampai saat ini rasanya masih tidak percaya bahwa laki-laki sempurna ini seutuhnya milikku.


Bahkan sekarang aku bisa menyebutnya..


Gemilang-ku, Gemilangnya Mouresa.

__ADS_1


__ADS_2