
Ya, Moon Beauty House adalah hasil keringat Mou selama dua tahun ini. Berusaha mati-matian di negeri orang hanya untuk impian kecilnya.
Rumah kecantikan ini sudah dilengkapi dengan teknologi modern. Mou banyak belajar di London, dan akhirnya menerapkan semuanya disini. Zafra yang tengah belajar bisnis juga bersedia membantu Mou untuk menjalankan rumah kecantikan ini.
Meskipun tidak mudah, Mou tetap yakin tentang layanan dan kualitas. Dan syukurnya sekarang sudah banyak yang mempercayai Moon Beauty House ini. Rencananya ia akan membuka cabang di Bali, bulan depan.
"Kamu juga seharusnya bilang sama mereka Mou, kalau kamu itu bosnya." Zafra memang tidak berubah, masih saja cerewet seperti dulu.
Segera merangkul bahu Zafra, tanpa mempedulikan kata-katanya. "Ayo, aku tidak sabar ingin berkeliling."
"Maaf Bu Resa, kita tidak tahu jika ibu..."
"Sudah tidak apa-apa, kalian kembali bekerja saja." Mou tersenyum pada beberapa karyawan yang menghampirinya.
"Baik, Bu sekali lagi maaf atas kelalaian kami." Mereka menunduk hormat pada Mou.
.
.
.
Setelah selesai berkeliling, Mou menuju ruangan yang dikelilingi oleh kaca itu. Hingga pemandangan kota Jakarta terlihat jelas disana. Bunga-bunga tampak menghiasi ruangan bernuansa modern tropis yang tidak terlalu besar ini.
"Suka kan?" tanya Zafra duduk dihadapan Mou.
Mou mengangguk, semua yang Zafra desain memang sesuai permintaannya. Semuanya begitu baik dibawah pimpinan Zafra.
"Makasih Za," ucap Mou segera duduk di kursi kerjanya, kursi yang selama ini ia impi-impikan.
"Sekarang tanggung jawab aku udah selesai Mou. Aku harus segera ke perusahaan papa ku. Sesuai perjanjian kita kan,"
Mou mengangguk, "iya Za. Sekarang aku sudah kembali, dan kamu boleh pergi. Tapi ajari aku dulu, aku masih perlu banyak pengetahuan tentang kepemimpinan."
"Kamu salah kalau minta ajarin sama aku. Selama ini mereka takut sama aku karena aku cerewet, tapi yang menjalankan semuanya kan Abang kamu." Zafra tersenyum kecil mengingat sosok itu.
"Iya, aku juga nggak nyangka ternyata bang Sam juga punya bakat di bidang bisnis."
"Kamu bisa belajar dari dia Mou, bang Roman, atau papa kamu. Ehmm.. dan aku berharap kamu juga bisa belajar dari Gemilang, dia ilmunya luar biasa."
Mou tersenyum, "semoga saja."
"Tahun kemarin, dia baru saja dapat penghargaan sebagai CEO termuda dengan otak brilian."
"Oh ya," ucap Mou yang ikut bahagia. "Sepertinya aku harus memberikan selamat."
.
__ADS_1
.
.
Musik klasik menemani perjalanan Mou ditengah kemacetan sore ini. Bibirnya terus melengkung ketika melihat langit cerah kota Jakarta.
Sangat tidak sabar untuk menemui sahabatnya. Sangat disayangkan karena saat ini Ibel tengah berada di rumah sakit untuk menjalani kemo. Padahal Mou sudah ingin sekali berkeliling kota Jakarta dengan Ibel.
Mou menuruni mobil dengan beberapa paper bag ditangannya. Segera melangkahkan kaki untuk menuju kamar inap Ibel.
Mou selalu menunduk dalam ketika berpapasan dengan orang. Haha, padahal belum tentu mereka mengenalinya. Namun tetap saja ada kekhawatiran tersendiri dalam benaknya.
Tangannya mengetuk pelan pintu itu, tidak menunggu lama pintu itu terbuka dengan sendirinya.
"Wah, ada siapa ini." Juna tersenyum melihat kehadiran seorang yang sudah lama ia tak jumpai.
"Apa kabar, Jun?" Mou segera memasuki ruangan. Matanya tertuju pada sosok yang tengah terpejam. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya begitu pucat.
"Aku baik, ayo duduk."
Mou segera mengikuti Juna untuk menghempaskan tubuhnya pada sofa. Namun pandangan tak teralihkan pada sahabatnya yang begitu ia rindukan.
"Dia gimana?" tanya Mou yang jantungnya seperti diremas kuat melihat Ibel tak berdaya seperti ini.
"Kalau ditanya tentang perkembangan memang tidak ada. Intinya sekarang dia sedang bertahan untuk hidup."
Mata Ibel sayup-sayup terbuka, langsung tersenyum pada sahabat yang begitu ia rindukan.
"Kangen," ucap Ibel yang membuat Mou segera memeluk tubuh sahabatnya.
"Aku lebih kangen," sahut Mou tak terima.
"Iya-iya, oleh-olehnya mana?" cicit Ibel sedikit terkekeh, melihat Mou yang hampir menangis. Ia tidak suka ketika semua orang menangis untuknya.
"Itu," kata Mou menunjuk paper bag besar yang berada disofa.
Mou benar-benar menghabiskan waktunya untuk mengobrol bersama Ibel. Sekarang sudah tengah malam, hanya mereka berdua yang berada di sana.
"Mou," panggil Ibel pada Mou.
"Iya?" Mou segera menoleh.
Tangan Ibel terulur untuk menggenggam tangan Mou. "Gimana, sudah ketemu sama Gemilang?"
Mou mengangguk, tersenyum hambar.
"Gue harap kalian bisa bersama, karena jika tidak gue akan merasa bersalah seumur hidup."
__ADS_1
"Bel," ucap Mou menggenggam tangan Ibel dengan erat. Ibel memang selalu meneleponnya dan berkata ia menyesal. Ia menyesal melihat hidup Gemilang yang berantakan saat Mou pergi.
"Ini semua bukan salah kamu, sudah takdirnya jika aku dan Abang harus menjalani kisah serumit ini."
Ibel menggeleng, "nggak Mou memang gue yang salah."
Mou segera memeluk tubuh Ibel.
.
.
.
"Tumben Papii ikut meeting hari ini?" tanya Gemilang yang merasa aneh ketika sang Papii mengikuti meeting sampai selesai.
"Untuk produk kali ini Papii yang akan memilih brand ambassador. Papii juga ada sedikit ide untuk produk parfum yang baru saja kita luncurkan." Elang merangkul bahu Gemilang menuju ruang kerja.
"Tapi Gemilang sudah ada beberapa pilihan untuk brand ambassador nya."
"Keputusan Papii sudah bulat. Dia sudah di ruangan kamu." Elang berkata sembari membuka pintu ruangan itu.
Dahi Gemilang mengernyit heran, tidak sabar untuk segera memasuki ruangan.
"Selamat pagi," ucap sosok cantik yang tengah duduk disana.
"Pagi, Mou." Elang segera mendekati Mou. Berbeda dengan Gemilang yang masih mematung diambang pintu.
"Pap, jangan bilang kalau.."
"Iya, Resa Moon yang akan menjadi brand ambassador untuk produk terbaru Elang Group."
Mou tersenyum sembari mencium tangan Elang.
"Tapi, Pap... ini nggak sesuai." Gemilang masih mencoba mengelak, ia tahu betul bagaimana tidak nyamannya nanti saat bekerja sama dengan Mou.
"Semuanya sudah Papii pikirkan matang-matang Gem. Karir Mou sedang bagus, jadi tidak ada alasan untuk itu. Papii yakin produk kita akan benar-benar meledak dipasaran, karena baru kali ini seorang Resa Moon menjadi brand ambassador merk negeri sendiri." Elang berkata panjang lebar, meskipun ada tujuan lain. Namun yang ia bicarakan memang benar adanya.
Mou mengulurkan tangannya pada Gemilang. "Kita bisa profesional dan tidak mengaitkan hubungan pribadi."
.
.
.
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋
__ADS_1