
Detik detik selanjutnya, hari-hari selanjutnya. Bahkan sudah tiga minggu lamanya Gemilang sudah cukup bersabar dengan wanita itu.
Selalu sibuk yang menjadi alasannya, ya mungkin memang benar skripsi sangat menguras otak dan waktu, namun yang ia kecewakan adalah wanita itu terkesan mengabaikan dirinya.
Ia tidak menyusul Mou karena sedang dalam perencanaan proyek untuk membangun Munaj Resto, bahkan pak Toro sendiri yang sering kali datang ke kantornya.
Jadi ia tidak ingin mengecewakan Toro hanya karena ketidak profesionalannya. Toh, semua ini juga untuk wanita itu untuk hubungan mereka berdua.
Tapi Minggu ini ia akan tetap ke Bali jika Mou tetap sibuk seperti itu.
.
.
.
Sedangkan pada detik yang sama seorang wanita tengah berbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Sayang, gimana udah enakan?" tanya Toro mendekati putrinya yang terlihat pucat itu. Belum ada sebulan sudah dua kali bolak-balik rumah sakit.
Mou mengangguk "Cuma belum nafsu makan aja kok Pa" jawab Mou dengan suara seraknya.
"Kamu mikirin apasih sampai tifus kamu kambuh kaya gini" Toro paham betul dengan putri nya, jika sedang banyak pikiran sakitnya akan kambuh begini.
Mou menggeleng "Cuma capek aja" elaknya.
"Kalau ada apa-apa cerita sama Papa" Toro mengusap rambut yang sedikit berantakan itu.
"iya pa".
Duduk disisi ranjang ,menatap Mou dengan serius.
"Sudah beberapa minggu ini Papa bolak-balik Jakarta Bali. Sebelumnya Papa memang tidak pernah membicarakan hal ini secara serius dengan kamu. Tapi Papa bisa melihat sendiri keseriusan Gemilang terhadap putri Papa".
Mou tidak berani menatap Papa ketika mendengar nama Gemilang.
"Dia anak yang cukup cerdas, gigih dan juga bisa dipercaya selain itu etika nya juga bagus. Jadi menurut Papa nggak ada lagi yang diragukan. Tapi Mou, sanggupkah kamu hidup dengan seorang seperti Gemilang. Karena tidak akan mudah untuk menjadi istri seorang konglomerat seperti Gemilang".
"Mou mau fokus dulu sama skripsi pa" ucap Mou mengalihkan pandangannya.
Toro hanya mengangguk, mungkin mood wanita itu sekarang sedang buruk.
__ADS_1
.
.
.
Setelah beberapa hari meninggalkan rumah sakit, Mou hanya berdiam diri di kamarnya. Terdiam sendiri sebelum nantinya menangis ketika memandangi wallpaper pada ponselnya.
"Nona" ketukan pintu membuat Mou menoleh.
"masuk Bi" ucap Mou mempersilahkan.
Sosok wanita tua itu memasuki kamar Mou, bagi Mou beliau sudah ia anggap seperti ibu kedua baginya. Sudah bertahun-tahun Bi Eti bekerja sebagai assisten rumah tangga di rumah ini.
"Ada mas Rama dibawah" ucap Bi Eti mendekati Mou yang tengah duduk di sofa, membelai rambut panjang itu.
Mou mengangguk "Suruh nunggu sebentar ya Bi, Mou mau cuci muka sebentar".
"Iya nona".
.........
"Gimana?, udah sembuh" tanya Rama ketika Mou datang menghampirinya.
"Sori Mou, kemarin aku nggak bisa ikut anak-anak jenguk kamu karena masih di Palembang" Rama tampak memperhatikan Mou yang memang terlihat sedikit pucat.
"Ada masalah ya?" tebak nya.
Mou tersenyum kecut karena itu, Rama adalah yang paling tua diantara sahabat-sahabat Bara, kadang juga berperan sebagai kakak-kakak mereka. Intinya Rama yang sikapnya paling dewasa dan yang sering memberikan nasehat untuk mereka semua.
"Cerita Mou" ucap Rama lagi, ia paham betul Mou memang type orang yang akan memendam segala masalah nya karena tidak ingin menyusahkan orang lain. Dan berujung pada sakit seperti ini.
Mou mengangguk, baiklah jika bercerita dapat mengurangi beban pikirannya.
Lalu Mou menceritakan semuanya tak terkecuali, semua masalahnya dengan Gemilang dan juga tentang Ibel.
Rama mendengarkan dengan seksama, sesekali menyeruput teh hangat nya.
"Kenapa Mou?, kenapa kamu harus sebaik ini" ucap Rama yang membuat Mou menggeleng.
"Ram, kamu pikir aku akan bahagia menjalani hubungan diatas penderitaan orang lain. Apalagi dia sahabat ku sendiri".
__ADS_1
"Baru kali ini aku melihat malaikat di dunia nyata" goda Rama tersenyum mencairkan suasana yang sedikit mencekam ini.
"Rama, serius" gerutu Mou mengusap air matanya.
"Kalau menurut ku ya Mou, dunia bukan hanya tentang cinta. Kamu pikirkan saja mimpi mu, kejar mimpi mu, masalah percintaan biar Tuhan saja yang mengatur".
Rama tampak ragu ketika mengatakannya "Selama ini, dunia kamu hanya tentang percintaan saja. Dan itu berujung menyakiti dirimu sendiri. Coba lihat betapa luasnya dunia ini bukan tentang percintaan saja, masih banyak mimpi yang harus kamu raih".
.
.
.
Semenjak mendengar kata-kata Rama waktu itu, Mou sedikit bisa mengalihkan pikirannya dari laki-laki itu, meskipun tidak sepenuhnya.
Fokus Mou saat ini adalah belajar menuju skripsi yang kurang satu Minggu lagi sebenarnya. Ia memang pembohong akut.
Kini ia mencoba menikmati harinya yang kembali seperti sebelumnya. Berjalan-jalan di pinggir pantai pada sore hari, hanya untuk melihat langit senja yang mengingatkan dirinya pada laki-laki itu. Sekedar untuk mengurangi rasa rindunya.
Setelahnya, malam hari ia akan menyusuri jalan kompleks rumahnya. Sembari membaca buku tebal yang berada dalam tangannya.
Ia menghela nafasnya ketika sudah sampai pada gerbang depan rumahnya, ternyata sudah setengah sembilan malam.
"Selamat malam nona" ucap satpam membukakan pintu gerbang untuk Mou.
"malam pak" jawab Mou tersenyum, namun pandangannya teralihkan pada mobil yang begitu asing dirumahnya.
"Papa ada tamu ya pak?" tanya Mou.
"Tamu nya nona, kata bapak".
Mou segera memasuki rumah dengan langkah terburu-buru. Dan baru saja ia memegang handle pintu rumahnya.
Matanya membulat ketika melihat Gemilang berdiri di depan pintu itu, bukunya sampai terjatuh ke lantai.
.
.
.
__ADS_1
Like komen and vote gaess 💋
gimana nih, mau konfliknya segini aja apa nambah wkwk.