Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 112 ~ Mengakhiri sandiwara?


__ADS_3

Duduk melamun, sembari menatap kosong pada luar jendela yang menampilkan hijaunya pemandangan alam ini. Pikirannya masih menerka-nerka apa yang tengah terjadi.


Memeluk kedua lututnya dan menyandarkan tubuhnya pada sofa. Helaan nafasnya terdengar begitu berat. Entah apa yang terjadi tapi Mou sadar jika mereka menjauhkan dirinya dari benda-benda elektronik. Tidak ada satu pun televisi atau telepon yang berada di sini.


Perlahan mata lentik itu tertutup, rasa kantuk sudah tidak bisa ia kendalikan lagi ketika sepi melanda.


.


.


.


Langit malam mulai menggelap, diiringi dengan suara jangkrik yang bersahutan. Hembusan angin begitu kencang, membuat laki-laki yang baru saja memasuki villa menggosok lengannya yang seolah membeku.


"Dia di mana?" tanya Gemilang pada laki-laki yang sibuk dengan game pada ponselnya.


"Dari tadi nggak keluar dari kamar," jawab Exel tanpa menatap Gemilang. Beberapa bungkus camilan berserakan di meja.


Menggeleng malas Gemilang bergegas menaiki tangga. Langkah nya terhenti ketika menyadari sesuatu lalu kembali menoleh pada Exel.


"Dia udah makan?" tanya Gemilang lagi.


Exel menggeleng, dengan tangan yang semakin menekan-nekan kuat layar ponselnya. "Adanya cuma makanan ringan. Suruh aja dia masak."


Segera melanjutkan langkahnya, menuju kamar yang pintunya masih tertutup dengan rapat.


Gemilang mengetuk pintu itu, tidak ada sahutan. Sampai akhirnya ia membuka pintu perlahan. Sosok cantik tengah terpejam bersandar pada sofa.


Melihat wajah pulas Mou membuat Gemilang tersenyum kecil. Dirinya mati-matian meredamkan berita tidak jelas itu di luar sana, sedangkan yang terlibat skandal malah tertidur pulas disini.


Duduk di samping Mou, sembari terus mengamati wajah gadis itu. Gemilang benci hal ini, benci ketika jantungnya berdegup kencang meski telah di kecewakan. Benci, karena hanya dengan menatap Mou hatinya jadi melemah.


Gemilang berdehem sejenak. "Bangun, sudah malam."


Mata lentik itu mengerjap-ngerjap menyesuaikan pandangannya yang masih sedikit buram. Sosok tampan yang tengah duduk di hadapannya membuat Mou tersenyum.


Mengucek-ngucek matanya yang masih ngantuk. "Abang sudah datang?"


Gemilang mengangguk, "bisakah kamu memasak untuk aku dan Exel. Di sini tidak ada makanan sedikit pun."

__ADS_1


Mou mengangguk dengan bersemangat. Beranjak dari tempat duduknya, tetapi Mou menoleh ketika menyadari sesuatu.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" menatap Gemilang dengan penuh kekhawatiran.


"Lebih baik kamu masak dulu saja, aku sudah lapar." Gemilang memegangi perutnya, bahkan saat ia berkata lapar, ia baru mengingat jika tidak memakan apa pun sejak siang tadi.


Senyuman kecil terbit di sudut bibir Mou. "Abang mandi saja dulu," terlihat laki-laki itu masih mengenakan stelan kantornya. "Biar capeknya hilang, nanti Mou panggil kalau sudah matang."


"Iya," jawab Gemilang segera melepaskan jas nya.


.


.


.


Opor ayam, tempe, dan oseng kacang menjadi menu makanan terenak di meja itu. Tiga manusia yang tengah kelaparan memakan makanan seadanya. Hanya itu bahan yang tersisa di dalam kulkas usang itu.


"Sebenarnya ini villa siapa sih?" tanya Mou, keluarga Gemilang tidak mungkin jika membeli villa sekecil ini.


Exel yang mulutnya masih penuh hanya mengedikkan bahunya dan menatap Gemilang.


"Ini villa ku," jawab Gemilang sembari menyuapkan makanan pada mulutnya.


Mou mengangguk, membersihkan piring kotor bekas makan mereka.


"Makasih, Mou. Masakan kamu enak," ucap Exel mengacungkan jempolnya.


"Iya, tapi besok kita pulang kan. Soalnya persediaan bahan makanan tinggal ini saja."


"Aku tunggu di lantai atas, kita harus berbicara." Gemilang beranjak pergi.


.


.


.


Mou memasuki kamar dengan nampan di tangannya. Menghampiri laki-laki yang tengah duduk di balkon. "Ini teh buat Abang, kenapa harus di luar, kan dingin."

__ADS_1


Gemilang segera meraih teh hangat yang masih mengeluarkan kepulan asap itu. Meneguknya dengan hati-hati, hingga rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Mau cari udara segar saja," ucap Gemilang menepuk sisi kosong di sebelahnya.


Mou segera duduk di sana. Ikut menikmati kegelapan langit malam bersamaan kencangnya hembusan angin malam ini.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Mou menoleh.


Menghela nafasnya panjang lalu beralih menatap Mou. "Kamu harus berjanji tidak akan berlebihan menanggapi hal ini." Gemilang tidak mungkin menyembunyikan ini lebih lama lagi.


"Iya-iya," jawab Mou begitu frustrasi karena rasa penasarannya.


"Tadi berita tentang skandal mu meramaikan media tanah air. Banyak wartawan menunggu mu di perusahaan, maupun di rumah."


Kening Mou mengernyit mendengarnya. "Skandal apa?" tanya Mou yang merasa tidak memiliki masalah apa pun.


"Aku juga belum tahu pasti siapa yang menyebarkan berita. Foto mu dengan Edwin tersebar begitu banyak hingga menjadi sorotan media."


Mata Mou membelalak sempurna. "Tapi.. Mou.."


"Semua menuduhmu telah merebut suami orang karena banyaknya foto," Gemilang tampak ragu mengatakannya. "Juga fotomu yang tengah berpelukan."


"Abang," mata Mou sudah berkaca-kaca.


"Aku akan membereskannya. Lagi pula nama perusahaan ku juga akan jelek." Mengalihkan pandangannya tak kuasa menatap Mou.


Gemilang menoleh ketika merasakan genggaman pada tangannya. "Mou tidak ada hubungan apapun dengan kak Edwin. Mou juga tidak peduli jika semua orang salah paham sama Mou, karena di luar sana pasti banyak orang yang tidak suka sama Mou. Tapi Abang.. Mou hanya tidak ingin Abang salah paham tentang masalah ini."


Mendengar hal itu hati Gemilang menghangat. Ia kira Mou menangis karena akan menerima rasa benci dari orang di luar sana. Tetapi mengapa hanya karena dirinya.


Gemilang tersentak saat Mou menyandarkan kepalanya pada bahunya. "Mou.." lirih Gemilang.


"Aku benar-benar tidak memiliki hubungan apapun dengan kak Edwin. Bahkan kami sudah seperti kakak dan adik." Semakin mencari kenyamanan pada pundak kokoh itu.


"Abang percaya kan, sama Mou?"


Aroma lembut dari tubuh Mou membuat Gemilang membeku seketika. "Kenapa kamu menjelaskan ini semua padaku."


"Karena Mou cinta sama Abang. Terimakasih sudah melindungi, meskipun Abang benci sama Mou." Mou melingkarkan tangannya pada perut laki-laki itu.

__ADS_1


"Mou!"


"Kali ini saja, Mou tahu Abang lelah. Mou juga sangat lelah. Bisakah kita mengakhiri sandiwara ini?"


__ADS_2