
Pelipis wanita itu dipenuhi dengan buliran keringat kecil, dadanya naik turun seolah kehabisan udara untuk bernapas.
"Mama" gumamnya pelan masih dengan mata yang tertutup.
"Mama, Mou takut" isaknya begitu pilu namun matanya tetap terpejam.
Bahkan buliran bening keluar dari ujung mata lentiknya.
"Mou" panggil Mila yang baru saja terpejam, namun terusik dengan gumamam Mou yang begitu menyedihkan.
"Mama" panggilan itu terasa begitu menyayat ketika diucapkan.
"Mou, bangun sayang" ucap Mila mengusap pipi Mou.
Namun Mila begitu panik ketika melihat Mou kesulitan untuk bernafas "Mou, bangun!" teriak Mila.
Dan benar saja, mata sipit yang sudah basah itu langsung terbuka. Mou memegangi dadanya yang begitu nyeri.
"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Mila mengusap rambut Mou dengan khawatir.
Mou segera duduk dan memeluk Mila begitu saja. Pelukan yang begitu erat sekali.
"Mamii" isaknya yang malah menangis "peluk Mou hiks, Mou takut".
Mila memeluk Mou tak kalah erat, mengusap-usap punggung dan rambutnya begitu lembut.
"Tenang sayang, ada Mamii disini" Mila terus mengeluarkan kalimat penenang. Meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang tengah terjadi dengan gadis ini.
"Ada apa?" tanya seseorang tergopoh-gopoh berlari menuju mereka. Teriakan Mila yang begitu nyaring membuat Gemilang yang berada diluar kamar khawatir.
"Mou" panggilnya pelan pada wanita itu, terus memeluk Mamii nya dengan isakan kecil.
"Gem, ambilkan minum sebentar" ucap Mila.
Gemilang segera mengambilkan minuman untuk Mou, lalu duduk disisi ranjang dan menatap Mou dengan khawatir.
"Atur nafas dulu sayang" ucap Mila lembut "minum dulu ini biar tenang" ucapnya menyerahkan minuman pada Mou.
Mou segera mengusap air matanya dan meneguk minuman itu perlahan. Bahkan tangannya bergetar ketika memegang minuman.
"Kamu mimpi buruk ya" tanya Mila. Mou masih diam tanpa menjawab sepatah katapun.
Mila beralih menatap Gemilang, Mou pasti masih sungkan padanya. Biar Gemilang saja yang memenangkan Mou untuk sementara.
Usapan lembut Mila berikan pada rambut Mou "Yasudah, cerita sama Gem dulu. Mamii bikinin teh anget dulu ya biar enakan" ucap Mila tersenyum.
Mou meraih tangan Mila yang hendak beranjak "Mou nggak papa Mam, Mamii nggak usah repot" ucap Mou dengan suara seraknya.
"Enggak, nggak repot kok" Mila segera berdiri dan menatap Gemilang agar mendekat.
Setelah Mila pergi Gemilang merengkuh tubuh lemah itu "Mimpi apa?, ada apa?" tanya nya begitu khawatir.
Mou menggeleng "Mou mau dipeluk saja".
"Iya" jawab Gemilang mempererat pelukannya dan memberikan kecupan pada dahi wanita itu. Mungkin Mou masih syok dan belum siap bercerita atau memang itu sekedar mimpi buruk saja.
.
.
.
"Yakin nggak mau pulang nanti saja sama Mamii" ucap Mila yang kesekian kalinya. Seolah tak rela Mou meninggalkan rumah ini.
"Nggak usah Mam" jawab Mou tersenyum. Mila begitu perhatian padanya, bahkan sampai membelikan baju untuk dirinya pagi-pagi sekali.
Saat ini mereka sudah berada diambang pintu. Gemilang akan mengantar Mou terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor.
"Kita berangkat dulu ya Mam" ucap Gemilang mencium tangan Mamii nya.
Lalu bergantian dengan Mou, Mila malah membawa Mou dalam pelukannya "Kalo ada apa-apa cerita, jangan dipendam sendiri".
Mou mengangguk "iya Mam, salam buat Papii ya".
"Mou ayo" teriak Gemilang yang sudah menaiki mobilnya.
"Iya".
Mou melangkahkan kakinya dengan ragu, detik selanjutnya ia berbalik menatap Mila "Mamii" panggilnya.
"Iya sayang".
"Jika suatu saat nanti Mou harus mengecewakan Mamii, Mou harap Mamii selalu berlapang dada untuk memaafkan Mou".
Mila mengernyit mendengar hal itu.
"Hehe, misalnya aja kok Mam, semoga tidak akan pernah ya" ucap Mou tersenyum hambar.
.
__ADS_1
.
.
"Kamu mimpi apa semalam?" tanya Gemilang ketika sudah melajukan mobilnya.
"Cuma kangen Mama aja kok" jawab Mou. Tangannya terulur untuk menekan tombol on pada audio mobil.
...Andai engkau tahu...
...Betapa 'ku mencinta...
...Selalu menjadikanmu...
...Isi dalam doaku...
...Kutahu tak mudah...
...Menjadi yang kau minta...
...Ku pasrahkan hatiku...
...Takdir 'kan menjawabnya...
...Jika aku bukan jalanmu...
...Ku berhenti mengharapkanmu...
...Jika aku memang tercipta untukmu...
...Ku 'kan memilikimu 🎵...
Mou memejamkan matanya sejenak. Kenapa mendengarkan lagu ini liriknya seperti mencabik-cabik begitu keras pada hatinya.
Gemilang meraih tangan Mou untuk digenggam. "Kamu nggak mau minta apa gitu ke aku" ucap Gemilang mengusap tangan halus itu.
"Minta apa?"
"Ya, apa saja sebelum kamu berangkat".
Mou menggeleng "Barang-barang dari Abang udah banyak".
Gemilang memberhentikan mobilnya di depan rumah Roman. Keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Mou.
"bukan barang" sambung Gemilang "seperti permintaan misalnya".
Mou tampak berpikir "Mou cuma pengin Abang bahagia" ucapnya tersenyum kecut.
Ditatap seperti itu membuat Mou benar-benar gugup, ia menelan ludahnya kasar sebelum akhirnya angkat bicara "i-itu, nanti kan Mou bakalan sibuk benget jadi bisa aja Abang nggak bahagia".
Entah, hanya kata-kata itulah yang bersemayam dalam otak nya.
Gemilang mengangguk, mengusap rambut Mou dengan lembut "Aku berangkat, nanti malam nikmati waktumu dengan keluarga mu" ucap Gemilang, karena itulah janjinya dengan Sam, jika hari ini akan membebaskan Mou untuk menikmati waktu dengan keluarganya.
"besok pagi, aku akan mengantarmu ke bandara" lanjut Gemilang yang entah mengapa malah membuat Mou kecewa.
Tapi ia hanya bisa mengangguk pasrah "Abang hati-hati ya".
"iya" jawab Gemilang seraya mengecup pipi mulus Mou.
.
.
.
"Hati-hati ya dek" ucap Jen memeluk Mou.
"iya kak, maaf ya Mou selalu merepotkan kak Jen".
Jen menggeleng "Enggak kok, enggak repot kakak malah seneng kalo kamu disini".
Mou mencubit pipi mungil yang malah asik dengan mainannya sendiri itu, gemas sendiri dengan tingkah anak itu.
"Aunty bakal kangen sama Ara".
"Ara lebih kangen digendong dan dibobokin sama auty" sahut Jen.
"Udah sana berangkat" ucap Jen ketika tiga laki-laki itu terlihat kesal menunggui di mobil.
Ya, Sam Roman dan Gemilang mengantarkan Mou untuk ke bandara. Sam mengijinkan Gemilang ikut mengantarkan Mou dengan satu syarat.
Yaitu harus ia yang menyetir mobilnya, sialan bukan Gemilang terus menggerutu sedari tadi, sepertinya Sam memang benar-benar niat mengerjainya.
Di dalam mobil Sam tersenyum puas melihat kekesalan Gemilang, kapan lagi bisa disupiri oleh Dirut Elang Group.
Mou yang baru saja masuk, duduk di bangku belakang "maaf ya lama" ucapnya pada Roman yang duduk disebelahnya.
"nggak papa dek" jawab Sam yang duduk di bangku depan "ayo jalan" ucapnya penuh perintah pada Gemilang.
__ADS_1
Mendengus kesal lalu melajukan mobilnya, jika bukan karena Mou mana Sudi ia diperbudak seperti ini oleh Sam.
.
.
.
"Mou pamit dulu ya bang" ucap Mou mencium tangan Sam dan dibalas pelukan hangat oleh sang Abang.
"Hati-hati dek, semangat skripsinya ya" ucap Roman seolah tak rela Mou pergi, pasalnya setiap hari ia mulai terbiasa memanjakan adiknya saat dirumah nya.
"iya bang".
Setelah itu Mou beralih pada Sam yang Sepertinya sangat tidak rela melepaskan nya. Sam langsung memeluk Mou "sabar ya dek" lirihnya yang ikut merasakan kesedihan atas apa yang dialami adiknya.
Mou mengangguk "doain Mou ya bang".
"pasti",
Sam sudah terlanjur bekerja disalah satu rumah sakit di Jakarta, jadi mau tidak mau ia tidak bisa mengikuti Mou untuk ke Bali, lagipula disana sudah ada papa nya.
Setelah melepaskan pelukannya dari Sam mata Mou beralih menatap sosok laki-laki yang tersenyum hambar padanya.
"Abang, Mou pamit ya" sesak sekali dadanya untuk sekedar bernafas saja.
Gemilang langsung merengkuh tubuh Mou dalam dekapannya "Kamu jaga diri ya, kalau sudah sampai kabari aku. Jangan lupa makan, nggak boleh begadang" ucapnya panjang lebar.
Mou hanya mengangguk dan terisak dipelukan laki-laki itu, takut tidak bisa merasakan pelukan seperti ini lagi nantinya.
Gemilang segera mengusap air mata Mou "Jangan cengeng, aku pasti sering samperin kamu kesana kok".
Mou menggeleng "ijinin Mou fokus sama skripsi Mou dulu, yang penting kita berdua sama-sama baik-baik saja".
"udah-udah" ucap Sam kesal, merusak suasana romantis nan haru ini.
"Apaan sih" gerutu Gemilang lalu kembali menatap Mou.
Menyerahkan koper besar itu dengan ketidakrelaan "hati-hati".
"iya" jawab Mou kemudian melambaikan tangannya pada tiga laki-laki itu. Melangkahkan kakinya meninggalkan mereka semua dengan koper besar ditangannya.
"Mou!" teriak Gemilang tiba-tiba, ia segera berlari menghampiri Mou yang sudah lumayan jauh. Menerobos orang-orang yang tengah berjalan disana.
"Ada apa?" tanya Mou mengerutkan keningnya.
Nafas Gemilang masih terengah-engah "Aku melupakan sesuatu" ucapnya mencari-cari sesuatu yang berada dalam saku jaketnya.
Gemilang mengeluarkan kotak beludru berwarna abu-abu.
"Apa?" tanya Mou tak paham, namun matanya membulat ketika melihat sepasang cincin berlian begitu bersinar didalam sana.
Gemilang segera mengambil cincin itu dan hendak memakaikannya pada jari lentik Mou, namun Mou malah menyembunyikan tangannya "ini apa bang maksudnya".
"Aku mohon terima ini sebagai tanda keseriusan untuk hubungan kita berdua, dengan ini tidak akan ada yang berani mendekatimu. Dan itu bisa membuatku sedikit tenang saat kita berjauhan".
Bukannya menjawab malah air mata kembali bercucuran pada pipinya, Mou harus bagaimana jika sudah seperti ini, sangat tidak rela menyakiti laki-laki ini.
Gemilang meraih tangan Mou dengan lembut, lalu menyematkan cincin berlian cantik itu pada jemari lentiknya. Tak lupa ia mengecup cincin itu.
Lalu menyerahkan cincin satunya lagi pada Mou "pakaikan cincin ini padaku".
"Abang-" ucapan Mou terhenti ketika ada panggilan untuk segera memasuki pesawat.
"cepat" ucap Gemilang.
Mou tampak menghela nafasnya dan memilih untuk mengalah, ia segera menyematkan cincin itu pada tangan Gemilang dengan terburu-buru.
Gemilang mengecup kening Mou saat Mou memakaikan cincin itu "hati-hati" ucapnya lagi saat Mou terburu-buru meninggalnya.
"iya Abang" ucapnya segera berlari kecil dengan air mata yang berjatuhan.
Selamat tinggal...
"hiks".
Mengalah bukan berarti kalah, aku hanya sedang beristirahat dalam mencintaimu...
Bukan, lebih tepatnya aku sedang membiasakan ragaku tanpa sentuhan hangat dari tanganmu...
Dikarenakan takdir yang begitu tidak memihak pada kita berdua.
Maafkan aku memilih menjadi seorang pecundang akut, yang berani-beraninya meninggalkan sosok yang sesempurna dirimu...
Gemilangku ❤️
.
.
__ADS_1
.
Like komen and vote gaess, part terpanjang sepanjang masa wkwk sudah 1562 kata loh💋