Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 133 ~ Kepergian


__ADS_3

"Aku capek Mou," ucap Gemilang saat melihat Mila datang. Melangkah pergi tanpa memperdulikan panggilan Mamii nya.


"Sayang ada apa?" tanya Mila menghampiri Mou yang sudah terisak.


Mou menggeleng dan mencoba tersenyum, tapi gagal. Air matanya membuktikan bahwa ia tidak baik-baik saja saat ini.


Mila membawa Mou dalam pelukannya. "Maafin Mou, ya Mam." Mengeratkan pelukannya, "ini semua salah Mou."


"Nggak sayang, biarin kalian tenang dulu saja." Mila tak tega melihat tangis pilu menantunya. Apapun yang terjadi sebenarnya Gemilang tidak pantas membentak wanita yang sudah mengabdikan seluruh hidup padanya.


"Ada apa?" tanya Elang yang baru saja datang, ia melihat Gemilang membanting pintu dengan nyaring dan sekarang Mou menangis di pelukan Mila.


"Ini semua gara-gara kamu mas," ucap Mila menghunuskan tatapan tajamnya pada Elang.


"Loh, kok aku." Menunjuk dirinya dengan bingung karena merasa tidak melakukan apa-apa.


"Iya anak kamu itu nurunin sikap kamu kalau lagi marah. Teriak-teriak nggak jelas abis itu pergi dari rumah." Hati Mila ikut sakit saat tangis Mou tak juga reda. Ia paham betul bagaimana rasanya dibentak seperti itu. Gemilang memang seperti Elang jika sedang marah.


Mendekati dua wanita itu dan menghela napasnya. "Sabar Mou, yang namanya rumah tangga pasti akan ada gak seperti ini. Justru kalau lempeng-lempeng saja nggak seru."


"Apaan sih mas, pergi sana!" usir Mila.


.


.


.


Tujuan Gemilang adalah mini market dekat dengan rumah Roman. Sebelumnya Roman telah berpesan kepadanya.


"Kalau ada masalah apapun, Abang harap akan menjadi yang pertama kamu beri tahu. Karena Abang tahu betul kejelekan mu dan Mou."


Ternyata Roman sudah menunggunya di sana. Duduk sendirian dengan kopi instan di tangannya. Tersenyum pada Gemilang yang baru saja datang.


"Sudah dari tadi, Bang?" tanya Gemilang berbasa-basi sebelum menjatuhkan tubuhnya pada kursi di sana.


"Baru kok," ucap Roman menyodorkan segelas kopi yang masih mengeluarkan kepulan asap. Selain Gemilang menyuruhnya kesini sebenarnya Elang sudah menelepon untuk mencari Gemilang.


"Gimana enak kan berumah tangga," ucap Roman terkekeh dan penuh sindiran. "Jangan mau enaknya doang tapi, sesekali memang harus ada masalah seperti ini."


Menghela napasnya menatap Roman dengan memelas. "Maaf ya bang, aku bentak Mou tadi."


"Sekarang dia tanggung jawab kamu Gem, mau kamu didik seperti apa itu urusanmu. Tapi pada dasarnya kodrat wanita tidak akan pernah bisa mengalah, tidak suka di bentak, dan harus di kasih tahu pelan-pelan kalau salah. Sebenarnya ada apa sih?"


Gemilang menceritakan semuanya tak terkecuali pada Roman. Mengeluarkan keluh kesahnya yang sedari tadi ia pendam.

__ADS_1


"Komunikasi Gem, kamu harus paham itu. Tanya dulu baik-baik siapa tahu Mou memang belum mengatakannya padamu. Dan kamu bilang saja apa yang kamu rasakan, larang Mou untuk ke rumah sakit kalau perlu."


"Maaf kalau adik Abang masih egois Gem. Karena sedari kecil kami semua selalu memanjakan Mou, itu semua murni salah kami sebagai keluarganya. Ajari dan bimbing pelan-pelan."


Mendengar hal itu membuat rasa bersalah bercongkol memenuhi dadanya. Jangan di pikir setelah membentak istrinya ia tidak menyesal.


"Bang, apa perlu aku mengijinkan Mou untuk main film." Dahi Roman mengernyit mendengar hal itu.


"Kamu ngijinin?"


"Sebenarnya aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan memberikan Mou sedikit kebebasan supaya dia tidak pergi lagi. Tetapi aku ingin Mou mengatakan semuanya baik-baik, bukan menyembunyikannya seperti ini."


"Sudah siap dengan semua konsekuensinya?" tanya Roman yang malah heran.


"Butuh banyak pertimbangan memang, tetapi jika Mou benar-benar menginginkan hal itu aku bisa apa."


Bahkan jika bisa seluruh dunia dan seisinya pun aku berikan padanya, agar dia tidak pernah berpikir meninggalkan ku.


"Bicarakan dulu baik-baik dengan kepala dingin. Menikah itu menyatukan dua manusia dengan karakter berbeda. Jadi, komunikasi adalah kuncinya."


.


.


.


Kembali bangun dan meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Tujuannya adalah untuk menghubungi suaminya yang sedang meredam emosinya.


"Mou tidak butuh apapun kecuali menjadi istri yang baik untuk Abang," gumam Mou pelan.


Ponsel milik Mou berdering, namun bukan telepon dari suaminya.


"Juna?" Segera mengusap tanda hijau pada ponselnya.


"Iya Jun, ada apa tumben?" tanya Mou.


"Mou," ucap Juna dengan ragu.


"Iya, aku dengar ada apa?"


"Dengerin aku baik-baik, kamu tenang dulu ya." Suara berat di seberang sana membuat jantung Mou berdegup kencang.


"A-ada apa?"


"Kamu kerumah sakit sekarang. Ibel telah berpulang dan beristirahat dengan damai disisi-Nya."

__ADS_1


Satu tombak besar menancap sempurna pada jantung Mou detik ini. Dunianya seperti berhenti berputar.


"Ma-maksud kamu apa Jun. Jangan bercanda ya, nggak lucu." Buliran bening melintas tanpa permisi.


"Ibel sudah nggak ada Mou," ucap Juna dengan suara bergetar.


"Halo, Mou.."


Tut..


Panggilan terputus dengan wajah Mou yang sudah memerah. "Nggak, nggak mungkin kan?" ucapnya segera beranjak dari ranjang. Meraih jaket asal-asalan dan pergi dari sana.


"Nona mau kemana?" tanya supir yang tengah berjaga di garasi. Di buat heran oleh sang majikan yang sudah berhambur air mata.


"Pak, tolong antar saya ke rumah sakit sekarang ya." Suara Mou tercekat masih berharap ia salah dengar saja tadi.


Sepanjang perjalanan tangan Mou terus bergetar, mencoba menghubungi keluarga Ibel dan memastikan itu.


Dan ternyata benar, sahabatnya telah pergi. Meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Bel, kenapa kamu nggak mau lihat ponakan kamu dulu?" isak Mou begitu pilu.


Terimakasih untuk bertahun-tahun yang indah ini. Mungkin tanpa mu hidupku benar-benar kosong sekarang, tanpamu aku tidak akan pernah bertemu dengan Gemilang.


Sahabat, suka duka mu adalah milikku.


Di satu sisi aku sangat kehilangan sosok luar biasa sepertimu, tapi disisi lain aku bersyukur karena kamu tidak lagi merasakan kesakitan.


Ibel, sahabat terbaikku, selamat jalan, tenang di sana ya...


Mou berlari kecil menuju ruangan Ibel, disana semua orang sudah menangis tersedu-sedu. Meratapi kepergian manusia kuat yang penuh dengan candaan meskipun tengah merasakan sakit.


"Mou," panggil Juna dan Ben yang sudah berdiri di sana.


Jadi, semua adalah nyata dan bukan mimpi?


Kepala Mou terasa berputar-putar tubuhnya benar-benar lemas dan sekarang. Limbung dan hendak terjatuh saat kepalanya benar-benar berat. Tapi seseorang menangkap tubuh mungilnya saat matanya sudah terpejam.


Juna dan Ben saling berpandangan melihat siapa yang merengkuh Mou.


"Lepasin istri gue!" teriak Gemilang yang baru saja datang.


.


.

__ADS_1


.


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋


__ADS_2