
"pedas sekali" gerutu Gemilang saat memakan mie itu ternyata diirisi beberapa cabai.
Mou terkekeh melihatnya, lalu ia mengambilkan susu putih yang berada di kulkas dan menuangkannya dalam gelas.
"minum dulu" ucap Mou menyerahkan nya "aku kira kamu suka pedas" ucap Mou kemudian kembali duduk.
"aku nggak bisa makan pedas" jujur Gemilang yang sebenarnya malu, pedas adalah kelemahannya selama ini.
"oh, sory seharusnya aku tadi nanya dulu sama kamu" ucap Mou meraih piring Gemilang, Mou dengan telaten memilah cabai yang berada disana dan membuangnya.
Benar kata Ibel, gadis ini memang sangat perhatian.
Mata Gemilang terus mengawasi wajah cantik itu.
"ini" ucap Mou menyerahkan kembali mie itu.
"thanks" jawab Gemilang dan segera menghabiskan mie instan yang istimewa itu, bahkan seumur-umur ia jarang sekali makan mie instan.
"kamu sering makan mie instan?" tanya Gemilang.
Mou membersihkan sisa makanan yang berada di bibirnya dengan tissue "lumayan lah" jawabnya lalu mengumpulkan piring kotor dihadapannya.
"jangan terlalu sering" ucap Gemilang memperingatkan.
"kenapa?" tanya Mou lalu berdiri untuk membersihkan piring.
"gak baik buat kesehatan" ucap Gemilang ikut berdiri dan hendak membantu Mou mencuci piring.
"dari pada aku nggak makan" ucap Mou santai.
"kamu jarang makan?" tanya Gemilang.
Mou mengangguk "aku jarang makan, tapi sekalinya makan bakal ngehabisin apa-apa" ucap Mou terkekeh.
"nggak boleh gitu dong" ucap Gemilang tak santai.
"kok ngegas sih"
"Eh. . . " sial ia selalu kelepasan saat berbicara dengan Mou, bisa-bisa gadis ini mengira bahwa Gemilang menyukainya jika begini terus.
"udahlah, sini aku bantu cuci piring"
"nggak usah " ucap Mou menahan lengan Gemilang "ini urusan aku, mana mungkin aku ngebiarin Dirut Elang Group nyuci piring" canda Mou setelah mencari tahu tentang perusahaan itu, ternyata perusahaan yang cukup besar di kota ini.
__ADS_1
"gak ada hubungannya" ucap Gemilang bersandar lalu menyilangkan tangannya dan menatap Mou yang sedang mencuci piring.
"kalo aku keluar dari perusahaan nggak ada lagi embel-embel gitu-gituan, aku ya Gemilang" lanjut Gemilang.
"iya-iya Gem" ucap Mou menuju sofa dan diikuti oleh Gemilang "habisin minuman kamu" ucapnya penuh perintah.
"iya-iya bawel" ucap Gemilang mengacak-acak rambut Mou lalu meninggalkan nya duduk disofa.
Mou terus menggerutu kesal "kamu pulang gih, siapa bilang kamu suruh duduk lagi" ucap Mou yang membuat Gemilang melongo.
Gadis ini memang aneh, kadang sering sekali mengajak berdebat seperti ini, padahal tadi baru saja ia bersikap lembut dan mengobati luka nya.
"ngapain cepet-cepet" ucap Gemilang santai.
Mou mendekati Gemilang dan menarik tangannya agar berdiri "udah malem, nggak baik"
"bentar lagi" ucap Gemilang kekeh tidak memperdulikan Mou.
"Gemm" ucap Mou menarik kembali tangan Gemilang namun Gemilang yang lebih kuat itu malah menariknya hingga Mou terjatuh dipangkuan Gemilang.
Mou membulatkan matanya seketika saat tangan Gemilang malah melingkar pada perutnya, Gemilang malah tersenyum kecil pada Mou.
"mau adu kekuatan" tantang Gemilang.
"Gem, lepasin" ucap Mou dengan wajah yang merona.
"oh jadi kamu mau dipeluk lagi" ucap Gemilang tersenyum, karena melihat Mou yang mematung.
"Eh. . eng-enggak" ucap Mou lalu berdiri.
Gemilang juga ikut berdiri lalu mengacak-acak rambut Mou dengan gemas "aku pulang" pamitnya.
Mou mengerucutkan bibirnya sembari merapikan rambutnya, kebiasaan Gemilang sungguh mengesalkan "cepet pulang sana" ucap Mou ikut mengantarkan Gemilang sampai depan pintu.
"jangan pernah kamu ajak cowok lain masuk ke dalam" ucap Gemilang menoleh ketika sudah berada diambang pintu.
"kenapa?" tanya Mou.
"menurut sajalah!" ucap Gemilang dingin lalu berlalu meninggalkan Mou.
"dasar aneh" gumam Mou segera menutup pintunya.
.
__ADS_1
.
.
Gemilang memasuki rumah nya dengan jaket Hoodie bertopi untuk menutupi wajahnya, bisa heboh satu rumah jika mereka tahu.
"calon mantu" ucap seseorang yang sangat ia kenal , Gemilang mendengus kesal saat suara yang berasal dari ruang tamu itu mengharuskan ia menoleh.
"iya om" jawab Gemilang sedikit menoleh pada om Royan, sahabat Papii nya itu.
"kamu kenapa Gem?" tanya Elang Papii nya yang juga sedang duduk disana.
Akhirnya Gemilang memilih menghampiri mereka dan duduk disana, ia menurunkan topi Hoodie nya.
Elang mengernyit ketika melihat putra tampan nya babak belur seperti itu "tawuran?" tanya Elang yang membuat Royan tertawa.
"bapak kamu santai banget ya Gem, lihat anak begini ya emang karena nurun" ucapnya terkekeh.
Papii nya memang tidak akan keberatan jika ia berkelahi ataupun babak belur seperti ini, karena ini menunjukkan sisi kejantanan nya sebagai laki-laki.
"diam!" sentak Elang pada sahabatnya itu.
"ada problem dikit Pap, nanti Gemilang jelasin" ucapnya menoleh sekitar.
"Mamii kamu lagi nggak ada" ucap Elang yang membuat Gemilang bernafas lega.
"Mamii kamu lagi keluar sama calon istri kamu" celetuk Royan, jengkel sudah jika seperti ini.
"maaf om, Gemilang nggak suka sama Zafra" ucap Gemilang berterus terang, Elang terkekeh mendengarnya, bagaimana bisa Gemilang sesantai ini.
"tenang aja Gem, Papii juga nggak mau besanan sama dia" ucap Elang yang membuat Royan mendengus kesal.
Lagian mana mau Gemilang dengan gadis cerewet sekompleks itu, malas sekali mendengarnya suara cemprengnya.
"Gemilang ke kamar dulu ya" pamitnya.
"iya Gem, bersihin dulu luka kamu , nggak mungkin kan seorang pemimpin datang ke kantor dengan wajah babak belur, besok harus hilang!" tegas Elang.
Gemilang melangkahkan kakinya dengan hembusan nafas kasarnya, selalu itu yang dipermasalahkan Papii nya , alih-alih takut dirinya terluka.
.
.
__ADS_1
.
JANGAN LUPA LIKE LIKE YA , KOMENTAR JUGA UNTUK MEMBANGUN IDE CERITA , DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA 💋