Gemilang Ku

Gemilang Ku
95 ~ Rindu Mama


__ADS_3

Semerbak aroma kopi menguar di udara. Toro, bersama secangkir kopinya bersantai di rumah baru milik Sam. Rumah yang tidak terlalu besar namun begitu rindang. Rumah itu dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun, juga tanaman yang mengisi setiap sudutnya.


Mungkin karena Sam adalah seorang dokter. Jadi, ia memilih untuk mengisi rumahnya dengan sumber oksigen.


Rapi, bersih, dan perfeksionis, itulah Sam. Laki-laki yang memuja kesehatan di atas segalanya.


Sang pemilik rumah datang dengan tatapan malas, ketika melihat Toro sudah menganggap rumahnya seperti rumah sendiri. Menoleh pada Mou yang berada dibelakang punggungnya.


"Abang mau mandi sebentar," pamitnya.


"Iya," jawab sang adik lalu menghampiri Toro. Mengecup punggung tangan laki-laki paruh baya itu.


Toro menepuk-nepuk sisi kosong pada sebelahnya. Menyuruh Mou untuk segera duduk disana.


"Papa sudah selesai urusannya?" tanya Mou sembari menghempaskan tubuhnya pada kursi kayu berwarna putih dengan ukiran itu.


Toro membelai rambut Mou dengan tangan besarnya. "Iya sayang."


"Papa," ucap Mou yang terus menatap kosong pada secangkir kopi dihadapannya.


"Ada apa, tuan putri kenapa?" Toro paham betul, jika putri semata wayangnya sedang murung seperti ini pasti ada masalah.


Mou menoleh, ragu saat akan mengucapkan sesuatu pada Toro.


"Bilang saja." Toro tidak tahan untuk mengusap pipi Mou yang tengah mengembung.


"Papa tahu kan, kalau Mou sama Gemilang sudah berakhir." Ada ketidakrelaan ketika kalimat itu terucap.


"Iya." Toro berkata begitu lembut, selalu merasa bersalah karena selama ini ia begitu kasar dengan anaknya.

__ADS_1


"Mou mau papa batalkan kerjasama dengan Elang Group. Kerjasama pembangunan Munaj resto." Mou menatap Toro dengan tatapan memohon, memegang erat tangan Toro.


Toro justru tersenyum ketika mendengar hal itu.


"Dengar Mou," ucap Toro membawa kepala Mou agar bersandar padanya.


"Sudah jauh-jauh hari, semenjak papa mendengar kalian memilih untuk berpisah. Papa sudah menemui pak Elang untuk meminta maaf, karena tidak bisa melanjutkan perjodohan. Juga menemui Gemilang untuk pembatalan pembangunan Munaj resto."


Mou mendongak, menunggu perkataan Toro selanjutnya dengan penuh penasaran.


"Gemilang menolak mentah-mentah akan hal itu. Karena baginya itu tetap profesional dalam bekerja sama. Yah, meskipun sebelumnya Munaj resto dibangun untuk membuktikan keseriusan Gemilang sama kamu."


"Mou jahat ya, Pa." Lirih Mou dengan suara tercekat.


"Nggak sayang, kamu nggak jahat. Papa akan dukung apapun selama itu hal yang positif buat Mou."


Mou melingkarkan tangannya pada perut Toro yang sedikit membuncit. "Makasih, Pa."


.


.


.


Pagi ini, ditemani embun pagi yang tengah berjatuhan, juga tanah yang masih basah.


Mou, Sam dan Toro memberhentikan langkah kakinya pada gundukan tanah yang bertuliskan,


Mariana Resmanita Munaj pada nisannya.

__ADS_1


Mou menggandeng lengan kedua laki-laki itu. Setelah bersusah payah membujuk Sam agar mau pergi bersama papa. Akhirnya mereka tiba juga di makam sang mama.


Mou berjongkok, membersihkan daun kering yang berada pada gundukan tanah. Menyiramnya dengan air dalam botol. Mengusap lembut batu nisan, seolah sang mama dapat merasakan sentuhannya.


Disusul Sam dan Toro yang ikut berjongkok, menaburkan bunga-bunga. Tak lupa Toro menaruh sebuket bunga lili di sana. Bunga favorit istrinya yang begitu ia hafal.


"Papa selalu bawa bunga lili loh ma, tidak lupa dengan bunga favorit Mama." Toro berucap tiba-tiba sembari tersenyum.


Tenang disana ya pujaan hatiku.


Mou tersenyum kecil mendengar itu. "Mama, sebenarnya alasan Mou kesini hari ini mau pamitan. Mou mau mengejar mimpi Mou, Ma. Mou harap mama juga dukung mimpi Mou seperti papa dan abang-abang." Suara Mou tampak berat dengan buliran yang siap tumpah.


"Mou janji akan buat mama bangga sama Mou. Meskipun kita jauh, mama akan selalu ada disini." Mou menepuk-nepuk dadanya, karena mama selalu berada didalam hatinya.


"Ridhoi langkah Mou ya ma. Mou mau menjadi orang yang lebih berguna." Menepis buliran bening yang tiba-tiba menetes dengan derasnya.


Sam mengusap-usap punggung Mou, menatap batu nisan itu seolah mama sedang tersenyum pada mereka.


"Sam, kangen sama mama. Kita semua rindu sentuhan hangat dari tangan mama."


Sam sedikit terlonjak ketika Toro tiba-tiba merengkuh tubuhnya dan Mou secara bersamaan. "Mama bahagia disana ya, kita semua juga bahagia disini." Toro berucap sembari menepuk-nepuk punggung Sam tanpa penolakan.


.


.


.


Eh, belum nangis ya wkwk

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya 💋


__ADS_2