
Semerbak aroma ikan bakar menyelimuti seisi dapur pada pagi yang cerah ini. Jendela yang menampilkan hijaunya pepohonan diluar sana membuat wanita yang tengah memasak itu tersenyum oleh udara segar itu.
Rengkuhan tiba-tiba dari belakang membuatnya sedikit terkejut, namun segera tersenyum lebar saat aroma maskulin menusuk indera penciumannya.
"Dad, malu, nanti anak-anak lihat." Terus bergelut dengan alat dapur tanpa memperdulikan suaminya yang bermanja-manja.
"I don't care." Menghela napas panjangnya.
"Ada masalah?" tanya Mou berbalik menghadap Gemilang.
Mendesah malas Gemilang malah memeluk tubuh istrinya. "Pokoknya nanti malam harus tidur sama aku."
Terkekeh geli Mou mencubit hidung Gemilang. "Iya-iya, Riksa sudah sembuh sepertinya." Merapikan dasi Gemilang yang sedikit miring dan memberikan kecupan manis pada rahang suaminya.
Sedangkan pada waktu yang sama dengan sudut ruangan yang berbeda. Riuh suara musik rock memenuhi seisi ruangan, pemiliknya sedang mandi dan bernyanyi dengan kencangnya.
Pintu kamar terbuka dengan paksa hingga menimbulkan suara nyaring
"Riksa!" teriak seorang gadis yang sudah berseragam SMA namun rambutnya masih terlilit handuk kecil sehabis mandi.
"Apa sih, Mez, teriak-teriak mulu." Laki-laki tampan yang baru saja keluar dari kamar mandi itu memberengut kesal saat saudara kandungnya mematikan musiknya.
"Lo pikir yang tinggal di sini tuh lo doang. Jangan kayak tinggal di hutan deh lo, pagi-pagi selalu ganggu aja. Lo itu selalu bikin mood gue berantakan ya Rik." Mengomel panjang lebar dan selalu di abaikan oleh sang adik.
Riksa mendesah malas sembari menggosok rambutnya yang masih basah. Menuju meja kacanya untuk melihat betapa tampannya pantulan dirinya di dalam cermin.
"Salah sendiri punya kamar di sebelah gue." Masih cuek dan enggan menatap Mezza.
Gadis itu bersedekap dada, baru menyadari seragam baru adiknya. "Jangan bilang lo masuk ke sekolah gue juga." Matanya membulat saat Riksa berbalik menunjukkan lambang sekolahnya dengan tatapan mengejek.
"Sori Mez, lo emang nggak bisa jauh-jauh dari gue." Menaikkan kedua alisnya dengan bahagia saat melihat Mezza tak berkutik.
"ANTARIKSA GAGA KUSUMA! , siapa suruh lo masuk sekolah gue!" teriaknya lagi dengan berkacak pinggang.
Sang adik menutup telinganya, manusia tercerewet di muka bumi ini memang suaranya sangat nyaring. Jadi siapa yang pantas tinggal di hutan kalau begini.
"Anak-anak, ada apa ini." Suara lembut itu memasuki kamar dan menghela napas panjangnya saat dua anaknya sudah kejar-kejaran seperti bocah lagi.
"Mommy," adu Mezza dengan kesal saat handuk di rambutnya di tarik oleh Riksa.
"Riksa, nggak boleh gitu ya."
__ADS_1
"Mommy suruh dia keluar gih, Riksa mau siap-siap." Melempar handuk pada saudaranya seperti tidak ada dosa.
"Awas nanti aku bilangin Daddy ya." Sok lembut dan manja, inilah Mezza jika di hadapan orang tuanya. Kadang Riksa sampai jengah sendiri dengan kelakuan kakak yang sikapnya malah seperti adik ini.
"Sudah," ucap Mou lagi menengahi. "Kakak sekarang kembali ke kamar ya siap-siap dulu. Adik juga cepat turun. Kita sarapan bersama, sudah di tunggu sama Daddy."
.
.
.
"Daddy, kenapa Riksa satu sekolah sama Mezza," rengek Mezza setelah menandaskan sarapannya.
Kadang Gemilang heran sendiri, sikap Mezza yang keras kepala seperti ini menurun dari siapa.
"Biar kamu ada yang jagain, kalau ada adik kamu Daddy tenang." Mezza hanya mendengus malas jika sudah begini. Menatap tajam pada Riksa yang masih mengunyah dengan tatapan mengejek.
Kucing dan tikus mana bisa terus bersama. Bagi Mezza cukup di rumah saja ia dibuat kesal oleh Riksa. Tapi apa ini, satu sekolah?
Si manusia sok ganteng dan sok cool itu pasti akan mengadu pada orangtuanya. Apalagi Mezza memang sedikit nakal, ya hanya sedikit saja menurutnya.
Hanya tiga kali saja di skors, dan beberapa kali bolos sekolah dan tentu saja pihak sekolah mana yang berani mengeluarkan anak donatur tertinggi di setiap tahunnya.
"Mezza bakal minta sama opa saja biar Mezza pindah sekolah."
"Sudah ayo berangkat," ucap Gemilang yang sudah hafal dengan drama-drama putrinya. Segera beranjak.
"Daddy," ucap Mezza segera mengikuti langkah Gemilang. Bergelayut manja dan bertingkah semanis mungkin.
"Kalian beda gedung, jangan merengek terus sayang." Mencubit gemas pipi bulat Mezza yang mengembung.
"Tapi nanti kalau Riksa ngadu sama Mommy gimana?" tanya Mezza dengan lirih. Ya, hanya Gemilang yang tahu kenakalan Mezza. Sudah di pastikan seisi rumah akan heboh jika Mou marah.
Menengok sekilas ke belakang pada Mou dan juga Riksa yang berjalan di belakang mereka. "Riksa urusan Daddy mu, tapi kalau kamu sampai buat ulah lagi, itu bukan urusan Daddy."
"Kamu boleh bolos, tapi jangan nakal di sekolah." Gemilang berkata dengan tegas, ia sudah sangat sabar menghadapi putrinya ini.
"Iya-iya, Dad."
"Aku berangkat dulu ya, Mom." Riksa si anak manis dan cool ini mencium tangan Mou dan mendapatkan ciuman di pipinya.
__ADS_1
"Anak Mommy cepat banget sih besarnya." Menepuk-nepuk rambut Riksa dan tersenyum.
"Ya, saking besarnya kita di kira saudara kembar," sahut Gemilang terkekeh.
"Tetap gantengan Daddy dong." Mezza memercikkan api peperangan, segera mencium tangan kedua orangtuanya secara bergantian dan berlari kecil memasuki mobil.
"Dasar," gumam Riksa menggeleng malas. Beralih menatap daddy-nya.
"Riksa berangkat dulu ya, Dad." Mengecup tangan berotot itu dan Gemilang menepuk-nepuk pundak sang anak laki-laki.
"Jaga kakak kamu." Gemilang tersenyum kecil saat melihat anak-anaknya ternyata sudah sebesar ini. Meskipun tidak pernah akur, tetapi sebenarnya rasa sayang mereka sangat besar satu sama lain. Selalu kesepian jika salah satu tidak di rumah atau bepergian.
Lihat saja bahkan sekarang di dalam mobil pun masih saja adu mulut. Si Mezza yang menggemaskan itu melambaikan tangan pada Daddy dan Mommy nya.
"Hati-hati sayang," sahut Mou membalas lambaian tangan itu saat supir mobil melajukan mobil.
"Kayaknya hari ini berangkat agak siangan aja deh," ucap Gemilang merangkul bahu sang istri.
Menoleh dengan dahi yang mengernyit, Mou tak paham sama sekali. "Maksud Abang?"
"Mumpung anak-anak nggak ada." Mengedipkan matanya dengan genit. Membuat Mou tersipu dengan pipi yang memerah.
"Abang," ucapnya dengan manja memukul dada Gemilang dengan gemas.
Senyuman sumringah terlukis jelas pada wajah Gemilang. "Ck... ternyata ini alasannya kenapa aku begitu tergila-gila padamu."
Merapikan rambut Mou yang menutupi pandangannya. Mendekati telinganya dan berbisik. "Terimakasih untuk tahun-tahun terindah ini, bulan sabitku."
Mengangkat tubuh Mou dengan paksa. "Abang!"
"Hanya ada aku dan kamu di sini." Tersenyum lembut dan melangkah kakinya untuk memasuki rumah.
Mou mengalungkan tangannya pada leher kokoh itu, menelusupkan kepalanya pada dada ternyaman milik suaminya. Luar biasa sekali setelah bertahun-tahun melewati perjalanan panjang yang tidak mudah sama sekali.
Dan sampai saat ini laki-laki luar biasa ini adalah miliknya seutuhnya. Ayah dari anak-anaknya.
Begitulah di akhir yang manis setelah berbagai badai menerjang berkali-kali, berbagai hantaman datang bertubi-tubi.
Dan aku wanita yang paling bahagia karena sekalipun semuanya ingin kita runtuh dan terpecah belah. Dengan tangan kita yang saling menggenggam, aku berhasil mempertahankan mu dalam sebutan.
GEMILANG-KU
__ADS_1
TAMAT.