Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 140 ~ Malaikat mungil


__ADS_3

Suara tangisan bayi mungil itu membuat Gemilang bernapas lega. Sudah beberapa jam rasa sesak melingkupi dadanya. Namun tangisan itu benar-benar merdu menusuk telinganya.


Gemilang ikut berkeringat dingin saat melihat Mou kesakitan. Matanya beralih pada sosok cantik yang begitu pucat dan terus menggenggam tangannya. "Anak kita," lirih Mou bersamaan rintik air mata yang jatuh.


Memberikan kecupan pada wanitanya berkali-kali. "Terimakasih sudah menjadi wanita kuat sayang." Suara robekan jalan lahir yang begitu kencang membuat Gemilang benar-benar ngilu. Ternyata sebesar ini perjuangan seorang ibu untuk menghadirkan malaikat kecil di dunia ini.


"Kamu nggak papa?" tanya Mou yang malah khawatir dengan suaminya. Tangan Gemilang begitu dingin juga bibirnya yang memucat.


Belum sempat Gemilang menjawab, tubuhnya sudah limbung dan jatuh.


"Abang!"


Dua perawat segera menghampiri Gemilang. "Tidak apa-apa Bu, hal ini sering terjadi setelah melihat istri melahirkan." Tersenyum pada Mou yang begitu khawatir juga menahan rasa sakit dibawah sana.


.


.


.


"Sudah sadar?" tanya Mila penuh ejekan. Ternyata laki-laki segentle Gemilang bisa juga pingsan saat melihat istrinya melahirkan.


"Kamu pingsan atau tidur sih Gem, lama banget," gerutu Jen.


Gemilang tidak memperdulikan omelan dua wanita itu. Langsung memeluk Mila yang membuat sang Mami terkesiap. "Terimakasih atas perjuangan Mami untuk menghadirkan Gemilang di dunia ini."


Mila mengangguk dan mengusap punggung anaknya. "Tidak seberapa Gem, semuanya terbayar lunas saat melihat bayi tampan yang menggemaskan ini." Mencubit pipi Gemilang dengan gemas.

__ADS_1


"Mamii..." gerutu Gemilang mengusap pipinya. "Mou baik-baik saja kan?"


"Sudah sana masuk, Mou sedang menyusui anakmu." Jen tersenyum saat mengingat bayi mungil yang begitu cantik.


Gemilang mengangguk, "tapi dimana orang-orang, kok cuma Mamii sama kak Jen yang di sini."


"Papi sama mertua kamu cari makan. Kalo Roman dan Sam cari kopi."


Gemilang menghela napasnya saat memegang handle pintu itu. Dadanya bergemuruh tidak sabar ingin bertemu dua malaikatnya.


"Sayang..." Membuka pintu dengan pelan. Tatapannya tidak teralihkan pada Mou yang tengah duduk sembari mendekap bayi mungilnya.


"Daddy," ucap Mou dengan bibir yang bergetar. Masih tidak percaya bahwa buah hatinya dengan Gemilang telah lahir.


Segera menghampiri mereka, mengecup kening Mou lalu beralih menatap sosok mungil dengan mata yang masih terpejam itu.


Tangan Gemilang gemetar saat hendak menyentuh pipi mungil dan bulat itu. "Apakah dia memang sekecil ini?" tanyanya tak mengalihkan pandangannya.


Mata Mou juga tak henti-hentinya menatap sosok mungil yang kini mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bibir yang mengerucut.


"Dia bangun," ucap Gemilang begitu heboh. Jantungnya seperti di tusuk-tusuk saat mata indah menatap kearahnya.


"Sudah aku duga, matanya akan sama sepertimu, bulan sabit ku." Mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah.


"Anak Mommy haus ya," ucap Mou segera melepaskan kancing bajunya.


"Kamu sudah bisa, apa perlu aku panggilkan Mami," ucap Gemilang beralih menatap pintu.

__ADS_1


"Sudah, tadi sudah diajarin beberapa kali sama dokter. Dan tadi Mou cuma butuh ketenangan, jadi dokter suruh Mami sama kak Jen keluar dulu."


Gemilang mengangguk, beranjak untuk menghampiri pintu dan menutupnya. "Nggak boleh ceroboh, harus hati-hati kalau mau nyusuin Mezza."


Ya, Mezzaluna Kusuma, nama yang ia sematkan pada putri cantiknya. Yang berarti bulan sabit dalam bahasa Itali. Gemilang tidak ingin nama yang terlalu panjang, cukup singkat namun berarti di dalam hidupnya.


Mou mengangguk, kembali sibuk dengan bayi mungilnya.


"Nanti gimana kalau ada yang masuk."


Mou malah tersenyum saat menyadari betapa posesifnya seorang Gemilang.


"Daddy kamu posesif banget ya dek, nanti lihat aja kalau dedek sudah besar pasti lebih parah lagi posesifnya." Tersenyum manis pada suaminya yang terus menatap putri mungilnya.


"Aku boleh cium dia nggak sih," ucap Gemilang dengan ragu.


"Boleh Daddy."


Gemilang mendekati wajah mungil itu dengan pelan, hingga bibirnya menempel pada kening anaknya. Menyatu dengan darah dagingnya membuatnya begitu bahagia bercampur rasa haru.


"Anak Daddy yang cantik. Mezza, selamat datang di dunia. Terimakasih sudah hadir di dalam kehidupan kami." Beralih menatap Mou yang tersenyum padanya.


"Terimakasih sudah memberiku kebahagiaan ini." Mengecup bibir Mou sekilas. Tangan besarnya merengkuh dua wanitanya.


.


.

__ADS_1


.


Masih ada 3 part lagi yaaaaa....


__ADS_2