
Gemilang tersenyum, "Tapi sepertinya ini sudah kekecilan" ucapnya, tanpa memperdulikan Mou yang tampak bingung.
"Gem, apa maksud kamu?" masih menatap Gemilang dengan keingintahuan nya.
"Aku pakai yang ini saja ya" ucap Gemilang lagi, meraih Hoodie putih yang ukurannya paling besar disana. Tentu saja ini style oversize untuk Mou, namun pas pada tubuh kekarnya.
"Gem!" gerutu Mou ketika Gemilang malah berbaring di ranjangnya. Gemilang menepuk-nepuk sisi kosong ranjang itu.
"Sini, biar aku jelaskan semuanya." Sengaja mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Dengan ragu Mou menaiki ranjang, dan sedikit terlonjak ketika Gemilang menarik tangannya, sehingga ia tersungkur pada pundak kokoh yang nyaman ini.
Kecupan lembut melayang pada kening Mou.
"Kamu tahu inisial GK?" tanya Gemilang.
Mou menggeleng lemah dipelukan laki-laki itu, tidak protes ataupun memberontak, karena ia sangat penasaran dengan hal itu.
"Galaxio Kusuma" ucap Gemilang yang membuat Mou mendongak. Mata Mou mengerjap-ngerjap masih mencari kebenaran tentang itu semua.
"Setelah memberikan jaket ku padamu, aku bahkan rela untuk di hukum. Karena sebenarnya ini adalah jaket kelas, untuk tanda pengenal."
"Malam itu aku kembali ke tenda, hanya untuk memastikan, gadis kecil yang begitu menyedihkan tidak sendirian di tenda itu."
Tatapan Gemilang tak lepas dari pelupuk mata lentik, yang kini tergenang oleh air mata.
"Jadi benar kamu laki-laki itu," tatapan mata sayu yang membuat Gemilang tidak tega, memberikan kecupan sekilas pada bibir yang bergetar itu.
"Kamu sudah tahu?" tanya Gemilang menyingkirkan anak rambut Mou, yang menghalangi pandangannya.
"Aku hanya menebak, dan ternyata itu benar," lirih Mou.
"Aku kira kamu tidak mengingatku sedikit pun," masih bermain-main dengan rambut halus Mou.
"Bagaimana mungkin, aku melupakan pelukan senyaman itu." Mendengar hal itu Gemilang tercengang, namun segera melebarkan senyumnya.
"Malam itu, di dekapan laki-laki asing yang tidak aku kenali. Untuk pertama kalinya aku tidur dengan tenang tanpa meminum obat."
__ADS_1
Kening Gemilang berkerut ketika mendengar hal itu.
"Obat apa?" rasa penasaran menyeruak dalam dadanya.
"Banyak hal yang harus aku ceritakan padamu," ada sedikit ketakutan ketika harus membuka kembali luka lama itu.
"Jangan menutupi apapun dariku, Mouresa." Menggenggam tangan Mou begitu erat dan penuh kekhawatiran.
"Sejak kematian Mama, aku belum bisa menghilangkan rasa trauma ku. Malam itu, hanya aku dan Mama yang ada di rumah. Tiba-tiba Mama pingsan di kamar, dan tak sadarkan diri." Gemilang bisa melihat betapa takutnya wanita ini, tangannya sudah berkeringat dingin.
"Aku mendekati Mama, dan mencoba untuk membangunkan beliau, tapi Mama tidak bangun," dada Mou terasa sesak, kembali mengingat malam kelam waktu itu.
"Aku takut sekali Gem waktu itu" Gemilang segera memeluk Mou, wanita itu terlihat kesulitan untuk bernapas.
"Jika tidak sanggup, jangan diteruskan" ucap Gemilang.
Mou menggeleng lemah, "Detik setelah itu, semuanya gelap karena mati lampu. Aku mencoba untuk tidak menyerah membangunkan Mama." Meremas pelan jaket Gemilang.
"Aku merasa takut, dan sangat takut. Bahkan, setelah itu aku tidak sadarkan diri." Gemilang bisa membayangkan betapa takutnya Mou saat itu.
"Tapi, hal yang lebih menakutkan ternyata setelah aku terbangun. Mama terbaring lemah dan pucat, semua orang menangis disana. Papa, abang-abang ku, semuanya menangis karena Mama benar-benar sudah tidak ada."
"Dan saat itu juga, duniaku benar-benar runtuh. Tidak ada lagi mimpi indah dalam tidur ku. Setiap malam aku pasti terbangun dan ketakutan. Malam saat kepergian Mama, masih terlihat jelas setiap malam menghampiri tidur ku."
"Dan hanya ada satu cara agar aku tidak terbangun. Aku mengonsumsi obat tidur." Jujur Mou.
"Sudah berapa lama?" tanya Gemilang khawatir.
"Sangat lama. Tapi malam itu, ketika aku tidur denganmu di tenda, aku bisa tertidur pulas tanpa meminum obat. Dan sebenarnya, waktu aku menginap di rumahmu, aku lupa membawa obat ku. Begitulah, aku selalu takut dan kesulitan bernapas, lalu akan menangis dan terbangun."
"Kenapa tidak ke dokter, apakah kamu tahu obat tidur sangat berbahaya." Sorot mata tajam penuh kekhawatiran.
Mou mengangguk, "Meskipun obat yang biasa aku konsumsi dosisnya sangat sangat rendah. Aku memesan secara pribadi pada dokter, dengan harga yang sangat mahal. Tapi aku juga tahu efek sampingnya begitu buruk."
"Aku tahu, bahkan obat tidur bisa membuat sulit hamil." Mou menatap mata Gemilang begitu dalam.
"Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku" ucap Mou tiba-tiba.
__ADS_1
"Tidak, tidak akan pernah!" tegas Gemilang dengan mata yang menajam. "Aku tidak perduli, apapun kekurangan mu. Karena aku sudah sangat mencintaimu Mouresa."
Mou tersenyum kecut, "Kenapa kamu keras kepala sekali."
"Dengarkan aku, aku akan mengantarmu berobat, ke luar negeri jika perlu. Aku tidak ingin kamu menangis dan ketakutan setiap malam."
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir kan aku" melepaskan pelukannya, lalu hendak menjauh. Namun, Gemilang segera menahan tangan Mou.
Tiba-tiba mencium bibir manis itu dengan penuh nafsu. Mou seperti kehilangan kesadarannya, menikmati, bahkan membalas sesapan dari lidah itu.
Entah sudah berapa lama bibir itu bertaut, tangan Gemilang mulai masuk dalam balutan baju tidur tipis itu.
"Gem, jangan" ucap Mou menahan tangan Gemilang, masih dengan nafas yang memburu.
"Aku tidak akan melepaskan mu, dan aku mau kamu juga seperti itu." Sorot mata sayu menghujam jantung Mou.
Mou tidak sanggup menjawabnya, namun air mata kembali menetas.
Gemilang segera melepaskan tangannya, kembali memeluk Mou. "Maaf membuatmu takut" ternyata mengontrol diri begitu sulit saat bersama dengan Mou.
Mou menangis bukan karena itu, namun ingatan bahwa sahabatnya sedang sakit. Juna kerap kali mengirimkan video, betapa kesakitan nya Ibel ketika sedang kambuh.
Tapi mengapa, rasanya sulit sekali menjauhkan diri dari laki-laki ini.
"Mou" panggil Gemilang.
"Iya" jawab Mou dengan suara serak dan segera menghapus air matanya.
"Kenapa kamu begitu peduli dengan Ibel?"
"Sebenarnya......."
.
.
.
__ADS_1
LIKE, KOMEN AND VOTE GAESSS 💋