Gemilang Ku

Gemilang Ku
99 ~ Pilihan


__ADS_3

Dengan langkah gontainya, Gemilang berjalan tertunduk menuju parkiran. Menatap pesawat yang baru saja terbang meninggalkan bandara.


Pergilah jika kamu bahagia. Hancurkan aku sesukamu, tinggalkan aku semau mu.


Ia kembali mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah.


Segera memasuki mobil, mencengkeram erat setir kemudi dengan kedua tangannya. Sebelum membenamkan wajahnya disana. Menangis sendirian sepeda orang bodoh. Ya, dia memang bodoh. Karena bertahun-tahun lamanya telah membiarkan Mou bertahan di lubuk hati terdalam. Tidak membiarkan siapapun masuk, seolah wanita itu adalah pemilik hati dan raganya.


Jauh sebelum ini, tak pernah terbayangkan bagaimana hidupnya tanpa Mou disisinya. Wanita itu datang bagaikan pelangi lalu pergi meninggalkan gumpalan awan gelap. Yang sebentar lagi akan mengisi setiap detik hidupnya.


"Arggghhh...!" Melampiaskan kemarahannya pada setir kemudi.


.


.


.


Aku sudah sampai dengan selamat.


Setelah mengirimkan pesan itu Mou bersandar pada kursi. Jika ada yang bertanya mengapa ia tidak menangis. Jawabannya adalah air matanya sudah terkuras habis hari ini. Matanya begitu bengkak dan sembab.


Tadi, sebelum ia naik pesawat ia berlindung dibalik kacamata hitamnya. Hingga sampai di London, membereskan apartemen barunya, dengan isak tangis.


Sekarang semuanya sudah beres. Apartemen ini terlalu berlebihan menurutnya. Tapi kata Papa tidak apa, yang penting tuan putri aman.


Apartemen dengan satu kamar, dilengkapi dengan dapur, kamar mandi, juga ruang tamu yang begitu luas.

__ADS_1


Langit cerah kota London terpampang jelas dari sana. Musim semi seolah menyambut kedatangannya.


Mou memejamkan matanya sejenak, memulihkan tenaganya sebentar saja. Mimpinya dimulai dari sini, tidak boleh manja ataupun lemah lagi. Karena sekarang ia benar-benar berjuang sendiri.


Dering di ponselnya membuat Mou membuka mata. Meraih benda persegi itu untuk ia angkat.


"Hallo, bang." ucap Mou ketika nama Roman tertera dilayar ponselnya.


"Mou, kamu sudah ketemu sama teman Abang belum disana?"


"Belum, rencananya nanti sore baru mau tanya-tanya soal kota London."


"Oke, biar dia yang menemui mu di restoran bawah apartemen mu. Jangan kemana-mana sendirian, karena Abang sudah menyuruhnya untuk mencarikan satu orang ART."


"Iya bang."


Mou mengambil kompres untuk matanya yang sudah sangat bengkak. Beristirahat sebentar sebelum bertemu dengan teman bang Roman. Dia adalah warga Indonesia yang sekarang menetap di London, karena istrinya juga orang sini katanya.


Namun ia tersenyum kecut ketika mendapati dirinya pada bayangan kaca. Beberapa tanda merah pada lehernya, membuat ingatannya kembali berputar pada beberapa jam lalu. Masih teringat jelas sekali Gemilang menangis dihadapannya. Laki-laki kuat itu terlihat lemah dan kacau karena dirinya.


Maafkan Mou, Abang.


Mengusap-usap bekas kemarahan dengan lembut, karena hanya ini yang tersisa saat ini. Hubungannya dengan Gemilang benar-benar berakhir.


.


.

__ADS_1


.


Pecahan kaca terdengar begitu nyaring memenuhi seisi ruangan. Ben yang baru saja datang di apartemen itu segera berlari ke lantai atas. Takut Gemilang akan berbuat nekat.


Membuka pintu dengan kasar. Ben berkali-kali menghela nafasnya. Serpihan kaca almari sudah bertaburan dilantai, barang-barang berserakan dimana-mana.


Kacau!


Sama halnya dengan laki-laki yang menatap kosong pada jendela. Tangannya terus mengepal kuat meskipun darah sudah bercucuran disana.


"Dan akhirnya lo nyesel kan," Ben berucap sembari memunguti benda-benda dilantai.


"Gue yang akan buat dia nyesel karena sudah ninggalin gue."


Ben mengedikkan bahunya. "Kalian sama-sama egois. Gue nggak mau bela siapapun disini."


"Gue harus gimana Ben?" Tanya Gemilang lemah, Ben menghentikan pergerakannya menghela nafasnya sebelum mendekati Gemilang.


"Pilihan lo cuma dua. Move on cari yang baru, atau samperin Mou ke London dan bilang lo mau nungguin dia." Menepuk pelan pundak Gemilang seolah menyalurkan kekuatan.


"Gue..."


.


.


.

__ADS_1


DUKUNGANNYA YA GAESSS ❤️


__ADS_2