
Menatap dedaunan kering yang berterbangan di sapu oleh angin. Pohon di atasnya melambai-lambai memberi kesejukan tersendiri untuk udara siang ini.
Ia tahu betul rasanya di kecewakan, tapi kali ini harus berganti ia yang mengecewakan.
Kata-kata Louis masih terngiang jelas di kepalanya.
"Aku akan memberikan seluruh duniaku padamu, jika kamu bersedia menjadi istriku."
Sekali lagi Mou menggeleng lemah. "Duniaku hanya ada pada seseorang yang kini membungkus hatinya rapat-rapat dariku," gumam Mou pelan.
"Sayang," panggil Toro pada putrinya yang tengah duduk merenung di teras rumah.
Mou menoleh, menyelipkan senyuman pada sudut bibirnya. Toro segera bergabung dengan Mou duduk di sana.
Membelai rambut Mou dengan lembut. "Jangan terlalu memikirkannya, papa tidak apa-apa jika kamu tidak mau menikah dengan Louis."
Mou meletakkan kepalanya pada bahu kokoh milik sang papa. "Maaf sudah membuat papa kecewa."
"Tidak Mou, asalkan kamu bahagia papa juga ikut bahagia. Setelah papa pikir, papa juga tidak rela jika kamu nanti di bawa Louis ke London." Toro berucap dengan kekehan kecil, sedikit mencairkan suasana.
Mou ikut tersenyum, "terimakasih papa sudah mengerti Mou."
"Iya sayang."
.
.
.
Hening, hanya suara detik jam yang tengah berjalan yang bersuara pada ruangan ini.
Mou terlihat begitu sibuk dengan layar laptopnya.
Mungkin sudah tiga jam lebih, ia memantau perkembangan bisnis kecilnya ini. Bibirnya tersenyum ketika bisa mengerjakan hal yang ia sukai.
__ADS_1
Setelah Mou berpikir matang-matang, ternyata mimpinya adalah bisa memiliki usaha kecil dengan keringatnya sendiri. Usaha yang juga cocok dengan kebutuhannya.
Ketukan pada pintu membuatnya menoleh, Zafra memasuki ruangan dengan senyuman kecil.
"Ada apa, Za?" tanya Mou.
Segera duduk di hadapan Mou, Zafra menyandarkan tubuhnya. "Ini jam berapa Mou, kenapa belum pulang?"
Mou menatap luar jendela yang memang sudah hampir gelap, matahari mulai menyembunyikan sinarnya seiring berjalannya waktu.
"Nggak papa, aku senang bisa bekerja sampai larut malam seperti ini." Mou terkekeh kecil, baru kali ini ada orang yang senang bekerja sampai larut malam.
Zafra hanya mendengus kesal karena itu. "Oh, ya Mou.. berita tentang kamu akan jadi model produk Elang Group sudah ramai hari ini."
Mou hanya mengangguk, sembari merapikan kertas yang berceceran di atas meja.
"Kemarin sudah pengambilan gambar. Tinggal Vidio iklan saja." Mou tampak merenung, pengambilan gambar kemarin tidak di temani oleh Gemilang. Berharap lebih kalau pengambilan Vidio nanti laki-laki itu akan ikut.
"Pasti berat ya, kerja sama dengan mantan. Tapi kamu jangan menyerah aku yakin kok Gemilang itu cuma gengsi. Sok jual mahal," celetuk Zafra ikut kesal.
"Aku yakin kamu bisa Mou, aku dukung pokoknya. Kalau perlu kita jebak Gemilang biar cepet nikah sama kamu." Zafra tampak bersemangat dalam hal itu.
Mou tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Bilang saja kalau kamu pengin cepet-cepet nikah sama bang Sam."
Zafra tersipu karena itu. "Jangan di perjelas juga, tapi jangan bilang Sam juga ya kalau hal itu memang benar haha."
"Dasar," ujar Mou malah ikut tertawa bersama Zafra.
.
.
.
Gemilang tampak bersantai di depan televisi. Menonton serial action favorit-nya, sembari terus mengunyah kentang goreng yang beberapa menit lalu Jen sajikan di atas meja.
__ADS_1
Malam ini, ia di paksa sang Mamii untuk menanganinya bertemu dengan cucu-cucunya. Alhasil ia kalah, sehabis pulang kerja langsung berangkat ke rumah Roman.
"Sudah dari tadi, Gem?" tanya Roman yang baru saja memasuki rumah. Segera duduk di samping Gemilang sembari meletakkan jas dan tasnya.
"Sudah bang, baru pulang ya?"
"Iya," jawab Roman melonggarkan dasi yang Melilit pada lehernya.
Dua wanita yang baru saja dari lantai atas ikut bergabung bersama mereka berdua. Mila terlihat sibuk menggendong bayi mungil itu, sedangkan Ara terus menempel pada mamanya.
"Pa, apa benar yang di katakan Sam tadi?" tanya Jen yang masih penasaran. Tadi Roman sempat menelepon masalah Mou dan Louis.
"Kenapa Jen?" tanya Mila mengerutkan keningnya.
"Mam, masa Mou di lamar sama Louis." Jen berkata dengan nada tidak suka.
"Uhuk. . uhuk. ." Kentang yang baru saja ia telan seolah melilit tenggorakan Gemilang. Berharap ia hanya salah mendengar, meskipun jantungnya sudah maraton saat ini.
"Tuh kan, kalah cepat." Raut wajah Mila begitu khawatir.
Roman tersenyum kecil karena itu. "Mou menolak lamaran Louis," ucapnya yang membuat mereka semua bernapas lega.
"Aunty mau menikah ya, Ma?" tanya Ara dengan wajah polosnya.
"Iya aunty kamu mau nikah sama bule, biar uncle kamu kelabakan." Jen berkata dengan penuh sindiran.
Roman berdiri, menepuk pundak Gemilang. "Masih ada kesempatan, belum terlambat."
.
.
.
Hari ini aku up dua ya, jangan lupa vote nya. 💋
__ADS_1