
Tiga bulan kemudian...
Pagi ini, bandara dihebohkan oleh kepulangan model terkenal, yang baru-baru ini mengharumkan nama bangsa. Dia telah berhasil bersaing dengan model-model luar negeri.
Lampu kamera bersahutan, bersamaan dengan teriakan pengunjung bandara.
Sosok cantik itu berjalan dengan anggun. Hells yang tingginya mencapai lima belas centi menambah kesan seksi pada sosok itu. Dress panjang, dengan lengan terbuka membuat kulit halus nan putih tempampang begitu indah. Tak lupa, kacamata hitam bertengger di kepalanya. Para keamanan tampak kualahan melindungi tubuh cantik itu dari para pengunjung bandara hari ini.
Mereka sudah menanti-nanti sang idola sejak sebelum matahari terbit. Hanya ingin melihat sosok cantik yang berhasil bersinar pada belahan negara lain. Sosok cantik itu berjalan sembari menampilkan senyuman manis pada semua penggemar.
Bibir yang dilapisi dengan lipstik merah maroon itu terus melengkung, tangannya melambai pada segerombolan orang yang memanggil-manggil namanya. Sebelum akhirnya, ia memasuki mobil mewah berwarna hitam itu.
"Gila, bener-bener gila." Sam tampak menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Hanya karena menjemput adiknya harus memutari bandara, mencari tempat yang sepi dan menghindari keramaian.
Yang tadi itu belum seberapa, di jalur utama sudah ada ratusan fans dan wartawan yang tengah menunggu.
"Kenapa kangen ya?" ucap Mou menyandarkan tubuhnya pada mobil, lalu menoleh pada Sam yang sepertinya masih belum percaya bahwa adiknya begitu terkenal.
"Dek, seterkenal apa sih kamu." Lagi-lagi Sam menggeleng dan masih fokus mengemudi.
Meraih satu botol minuman yang sepertinya sudah disiapkan untuk dirinya. Mou segera meneguknya dengan cepat. "Mou juga nggak nyangka bang, dari tadi para keamanan sibuk nyari jalan buat Mou. Mou lihat dari cctv, ternyata sebanyak itu orang yang datang."
"Padahal nggak ada spesial-spesialnya gini." Sam dengan gemas mengacak-acak rambut Mou.
"Bang Sam!" gerutu Mou.
"Hahaha, sudah ditunggu semua orang kamu dek." Sam kembali fokus mengemudi.
"Siapa?" tanya Mou sembari merapikan rambutnya.
"Ya keluarga kita lah, siapa lagi. Kamu udah kaya neng Toyib saja nggak pulang-pulang." ucap Sam disusul dengan kekehan kecil.
Mou menghela nafas panjangnya, kembali mengalihkan pandangannya pada jendela mobil. Pemandangan ibu kota yang sudah tiga tahun ini ia tidak lihat. "Mou kangen sama Jakarta."
"Yakin Jakarta aja?" goda Sam.
Mou mengangguk, memangnya apalagi yang bisa ia rindukan selain kenangan di kota ini.
"Kalau kangen tanah air, kenapa nggak mau pulang kalo nggak dipaksa dulu." Sam bertanya dengan serius kali ini.
Toro berusaha keras membujuk Mou agar mau pulang ke Indonesia tahun ini. Takut Mou akan nyaman disana dan akhirnya menetap.
"Kalau bukan karena ingin bertemu dengan ponakan baru, dan juga Ara. Mou juga nggak akan pulang." Canda Mou tertawa hambar.
__ADS_1
"Kenapa dek, anak gadis nggak baik kalau jauh-jauh dari keluarga?" Sam mengusap pelan rambut Mou.
"Papa akan maksa Mou untuk segera menikah kan?" Tanya Mou yang membuat Sam terdiam.
Hening, sejenak melingkupi seisi mobil...
"Kalau Abang mau nikah duluan juga nggak papa." Mou menoleh pada Sam. "Mou sudah dengar kedekatan bang Sam dengan Zafra, Mou ikut bahagia."
Sam menggeleng, "abang dekat dengan Zafra juga karena mengurus bisnis kam.."
"Tapi kalian sama-sama suka dan sama-sama siap untuk menikah." Potong Mou cepat. "Sekarang Mou sudah pulang, Mou akan mengurus urusan Mou sendiri."
"Nggak bisa gitu dek, pokoknya sesuai janji Abang. Kamu nikah duluan baru Abang." Mobil Sam memasuki perumahan mewah yang tak asing bagi Mou. Perumahan kompleks bang Roman yang juga tidak berubah.
"Kalau Mou memutuskan untuk melajang saja seumur hidup, bagaimana?"
Sam menginjak pedal rem nya karena begitu kaget dengan ucapan Mou.
"Abang!" teriak Mou yang kepalanya hampir saja menyentuh dasbor mobil.
"Dek, jangan ngomong gitu, pamali." Sam tampak meredam kekesalannya dan kembali melajukan mobilnya.
.............
"Resa Moon!" teriak seorang pekerja yang tengah menata kursi.
Ya, Mou menggunakan nama Resa Moon untuk nama panggungnya. Selain mudah dihafal nama itu juga berharga untuk memulai hidup barunya yang kemarin.
Mou mengangguk dan tersenyum. Lalu melangkahkan kakinya untuk segera memasuki rumah.
"Maaf ya, adik saya capek," ucap Sam saat melihat mereka semua nampak kecewa.
"Adik?" ulang mereka tak percaya.
Sam buru-buru menyusul langkah kaki Mou.
"Lihat siapa yang datang!" teriak Jen berlari kecil menghampiri Mou yang baru saja memasuki rumah.
"Mou, kangen banget." Jen tidak melepaskan pelukannya, dan terus memeluk tubuh Mou.
"Mou juga kangen kak." Mou membalas pelukan Jen tak kalah erat.
"Aunty.." teriak gadis kecil yang sebentar lagi merayakan ulang tahun ke limanya. Bocah itu berlarian kearah Mou, dengan rambut kepangnya yang ikut berayun-ayun.
__ADS_1
"Ara!" Mou begitu pangling dengan sosok mungil yang dulu ia gendong, sekarang sudah sebesar ini.
"Sini-sini gendong aunty, sekarang masih kuat nggak ya." Moh segera membawa Ara dalam rengkuhannya.
"Kamu sekarang lebih berisi ya Mou." ucap Jen menatap penampilan tubuh Mou. "Lebih montok," bisik Jen pelan.
"Kak Jen," gerutu Mou lalu kembali menciumi pipi bulat Ara.
"Wah, artis kita sudah datang ya." Roman yang tengah duduk di kursi sampai tidak terlihat dari tadi. Ia tidak beranjak karena sosok mungil tengah terlelap di pelukannya.
Mou segera menghampiri Roman dengan Ara yang masih melekat padanya. "Jadi ini yang namanya Dareen." Mou tersenyum lebar melihat sosok tampan dan begitu lucu.
"Iya, aunty. Ponakan sudah sebesar ini baru nengokin," sindir Roman.
Mou mencium tangan Roman dan duduk disampingnya. Masih takjub dengan makhluk mungil itu. "Ganteng banget sih," pujinya mengusap pelan pipi kecil yang memerah.
"Iya ganteng, sama kayak uncle nya." Cerocos Sam menghampiri mereka.
"Iya in aja, ya dek ya." Mou mendengus kesal, namun tak mengalihkan pandangannya.
"Selamat datang, tuan putri" ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakang Mou. Kue cokelat bertuliskan selamat datang membuat Mou terharu.
"Papa," Mou segera memeluk Toro. "Mou kangen," ucapnya dengan manja.
"Oh, belum berubah manjanya ternyata model kita." Toro terkekeh segera memberi kecupan pada rambut gelombang Mou.
"Malu sama Darren Mou," ucap Toro ketika Mou tak juga melepaskan pelukannya.
"Aunty, nanti malam dandanin Ara yang cantik ya." Ara terus mengikuti langkah kaki Mou yang tengah memeluk Toro.
Mou melepaskan pelukannya, dan mengangkat jempolnya. "Nanti malam Ara akan jadi princess di pesta nanti." Mencubit gemas pipi Ara.
"Selamat ulang tahun keponakan aunty yang paling cantik."
.
.
.
Serius nanya, apa harus libur dulu biar komentar nya nyampe 400 wkwk. Tapi udah kayak orang punya utang aja diuber-uber terus hahah.
Like, komen dan vote gais💋
__ADS_1