Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 107 ~ Berusaha lebih keras


__ADS_3

Tatapan itu tak terlepas sedikit pun, enggan untuk mengalihkan matanya pada sosok cantik yang tengah terpejam dengan tenang. Dengkuran halus yang terdengar, seolah menjadi nyanyian merdu di kamar itu.


Jen yang berada di ambang pintu tersenyum melihat tingkah Gemilang. Benar kata Mila, Gemilang memang pandai dalam hal apa pun. Kecuali, menyembunyikan perasaannya.


"Gem," panggil Jen dengan lirih.


Gemilang sontak menoleh, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa malu ketahuan memandangi Mou.


"Darren haus, waktunya minum. Kamu ke bawah dulu saja, makan dulu." Jen segera mengambil alih Darren.


"Cup. .cup. . anak ganteng haus ya. Ayo minum dulu." Jen beralih menatap Gemilang sejenak. "Biarin aja dia tidur, lagi capek banget kayaknya." Segera meninggalkan dua manusia itu tanpa mendengar jawaban Gemilang.


"Kenapa bisa tidur sepulas ini di rumah orang," gerutu Gemilang segera berdiri, mengambil sehelai kain tebal berbulu untuk menyelimuti tubuh wanita itu.


Mou menggeliat dan terlihat tidurnya begitu nyenyak sembari memeluk guling yang sedetik lalu Gemilang taruh di sampingnya.


"Ya, ya, anggap saja rumah sendiri." Kesal Gemilang melangkahkan kakinya. Cacing-cacing di perutnya sudah mulai protes, minta dinafkahi.


.


.


.


"Mantu Mamii mana Gem?" tanya Mila ketika Gemilang hanya seorang diri.


Gemilang hanya mendengus kesal, segera menghempaskan bokongnya pada kursi. Menatap menu makanan hari ini begitu banyak, ia sampai terperangah.


"Ada acara kondangan?" Gemilang hanya berbasa-basi saja sebenarnya, tahu betul ini semua masakan siapa. Segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.


Terkekeh geli pada Gemilang yang sok kesal. "Cepet makan, Mamii tahu betul kamu rindu masakan ini." Mila mengambilkan beberapa lauk untuk Gemilang.


"Mamii nggak makan?" tanya Gemilang ketika Mila malah melangkah meninggalkan ruang makan.


"Mamii lagi diet, Papii kamu lagi kumpul di luar sama temen-temennya. Jadi kamu makan sendiri," ujar Mila segera melanjutkan langkahnya ketika mendengar suara tangisan bayi di lantai atas.


"Mamii mau lihat cucu Mamii dulu, sepertinya enak ya kalau rumah ini ada bayi-bayi lucu." Mila berkata penuh sindiran, hingga yang disindir pun terlihat begitu kesal.


Memilih untuk menyuapi dirinya dengan sesendok penuh daripada mendengarkan ocehan Mamii nya.


"Lumayan," gumam Gemilang yang terus mengunyah dengan lahap, sesekali mengambil kembali lauk yang belum ia cicipi.


Gemilang mengusap-usap perutnya yang sedikit membuncit setelah menandaskan makanannya. Beberapa kali nambah seperti orang yang tidak makan selama satu bulan.


"Seenak itu ya?" Gemilang memejamkan matanya sejenak saat mendengar suara Mou yang ternyata sudah berada di sana.


"Aku lagi laper," dalih Gemilang segera meraih air mineral untuk di teguk.


Mou terkekeh kecil melihat Gemilang yang gengsinya begitu besar. Mengambil piring kotor yang berada di hadapan laki-laki itu.

__ADS_1


"Biar di beresin bibi nanti," ucap Gemilang pada wanita yang terlihat masih mengantuk itu.


"Cuma gini aja kok." Mou membersihkan meja makan dengan telaten. Lalu menuju wastafel untuk mencuci piring kotor.


Gemilang hanya bisa memandangi punggung Mou dengan perasaan yang berkecamuk. Meskipun Mou sudah sangat terkenal, tetapi ia tidak berubah. Hanya saja dandanan Mou yang sedikit mencolok. Jika boleh jujur, Gemilang lebih suka wajah polos wanita itu.


.


.


.


Beberapa menit lalu Roman datang bersama Ara. Namun waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Mou sudah berjanji pada Sam akan menginap di rumahnya. Lagipula Roman dan keluarga kecilnya akan menginap disini.


Suasana rumah nampak begitu ramai oleh tangisan Darren dan celoteh Ara. Mereka semua berkumpul di ruang tamu, sembari menonton televisi bersama.


"Bang Roman," panggil Mou pada Roman yang tengah memangku Ara.


"Apa?"


"Mou pulang sekarang aja ya, takutnya papa nungguin." Mou melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Sudah malam Mou, nggak nginep sini saja." Mila tampak tak rela Mou meninggalkan rumah ini. Seharian bersama Mou begitu menyenangkan, mereka memasak dan bertukar cerita bersama.


"Lain kali saja Mam," tolak Mou merasa tak enak. Hubungannya dengan Gemilang saja masih seperti ini, mana berani ia bermalam di rumah ini.


"Yasudah kalau begitu biar diantar Gem saja." Mila menatap Gemilang yang hanya terdiam sedari tadi.


"Bahaya Mou, sudah malam ini," ucap Roman begitu serius. "Gem tolong antar Mou ya." Roman tidak mungkin membiarkan Mou pulang sendiri di malam hari.


Jadi menurut kalian bisakah Gemilang menolak jika sudah tersudut seperti ini. Jawabannya adalah tidak.


Gemilang segera berdiri. "Aku tunggu di luar."


.


.


.


Mou segera memasuki mobil saat melihat laki-laki itu sudah menunggu di sana. "Maaf lama, tadi Darren nggak mau di tinggal."


"Hem"


Tersenyum hambar, Mou segera memakai sabuk pengamannya. Sedangkan Gemilang melajukan mobilnya tanpa menoleh sedikit pun pada sosok cantik di sampingnya.


Mou tidak bosan-bosan menatap sosok tampan itu. Malah sengaja memiringkan tubuhnya agar lebih leluasa menatapnya.


"Abang masih belum bisa ya maafin, Mou?"

__ADS_1


Mou sangat rindu dengan Abang, dalam posisi sedekat ini pun Mou tidak bisa menyentuh, apalagi hati Abang.


"Memangnya apa salahmu," masih saja dingin. Hingga AC mobil ini di kalahkan olehnya.


"Salahku," ucap Mou beralih menatap langit malam di luar jendela.


"Masih mengharapkan seseorang kembali padaku, padahal aku sendiri adalah penyebab dia pergi." Mou memejamkan matanya, ingatan sewaktu Gemilang berlutut padanya masih teringat jelas.


Jangan di pikir Mou bisa hidup tenang setelah itu, hari-harinya di penuhi oleh penyesalan. Selalu khawatir Gemilang akan membalasnya.


Dan sekarang, laki-laki itu berhasil membuat hatinya terpecah belah.


"Jangan menangis," ucap Gemilang melirik Mou yang sudah berhamburan dengan air mata.


"Aku tidak mau Sam nanti berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti akan menghajar ku."


Mou segera mengusap air matanya, "maaf."


Mobil itu terhenti di depan rumah yang bercat putih. Keduanya masih terdiam, Mou juga masih enggan untuk turun dari mobil.


"Aku tidak akan membukakan pintu, turunlah." Gemilang paham betul kebiasaannya dulu, namun sekarang biarkan wanita ini untuk mandiri.


"Iya," jawab Mou melepaskan seat belt nya. Sudah hampir menuruni mobil, namun terlonjak ketika Gemilang menyentuh lengannya.


"Besok, jangan lupa datang lebih pagi. Aku benar-benar tidak memiliki waktu."


Meskipun hanya kalimat tak jelas yang Gemilang ucapan, namun Mou begitu bahagia.


"Abang," panggil Mou yang membuat Gemilang menoleh.


CUP...


Dengan sengaja Mou menempelkan bibirnya pada pipi Gemilang yang dipenuhi oleh bulu-bulu halus.


Mata Gemilang membulat sempurna, ketika benda kenyal menempel pada kulitnyanya. Sekujur tubuhnya benar-benar akan meledak sepertinya.


"Mou akan berusaha lebih keras." Segera turun dari mobil tersenyum manis pada Gemilang yang masih membisu dengan pipi merona.


"Abang hati-hati ya.." Mou melangkahkan kaki menuju ke rumah Sam.


"Berani-beraninya," gumam Gemilang memegangi pipinya. Namun sialnya ia tidak bisa menolak hak itu, malah tubuhnya ingin melakukan hal yang lebih jika ia tidak menahannya.


"Sial.."


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa follow Ig aku buat nengok Abang sama Mou @blueskyma1


Like, komen, and vote gais 💋


__ADS_2