Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 125 ~ Honeymoon


__ADS_3

Kicauan burung-burung di luar sana terdengar merdu menusuk telinga. Matahari mulai menampakkan sinarnya meski belum seutuhnya. Mata Gemilang mengerjap-ngerjap menyesuaikan pandangannya.


Mata Gemilang terbuka menatap sosok yang tengah berdiri di balkon. Senyumnya terbit ketika memandangi wajah cantik itu.


"Abang sudah bangun?" Suara lembut yang mampu mendebarkan jantungnya.


"Kamu ngapain di situ?" Alis Gemilang terangkat ketika melihat Mou membawa ember kecil di tangannya.


Segera bangun dan beranjak menghampiri sang istri. "Selamat pagi, istriku." Kecupan lembut ia hadiahkan pada kening Mou.


"Pagi, suami." Senyuman di bibir Mou tak tertahankan. Menunduk dengan pipi yang memerah saat melihat kegiatan panas mereka tadi malam.


Mata Gemilang teralihkan pada sprei putih yang menggantung di sana. "Ngapain pagi-pagi begini nyuci?"


Menelan ludahnya kasar, saat ini pandangan Mou hanya terfokus pada dada bidang Gemilang dengan otot perut yang mirip roti sobek.


"Mau pegang?" tawar Gemilang tersenyum jahil.


Segera mengalihkan pandangannya dengan pipi yang bersemu. Bibir Mou mengerucut dengan lucu. "Abang, cepat mandi sana," usirnya.


"Jawab dulu, kenapa nyuci pagi-pagi begini?" tanya Gemilang yang merasa aneh dengan sikap Mou. Seharusnya wanita itu masih tidur di sampingnya. Mengingat semalam Mou terus menangis kesakitan.


"Mou lihat ada darah di sprei. Kan malu kalau di lihat bibi, jadi Mou jemur di sini saja."


Gemilang tersenyum lebar karena itu. Mencubit gemas pipi bulat Mou. "Istri pintar tetapi lain kali biarkan saja. Aku kecewa kalau bangun tidak ada kamu di sampingku."


"Mou, kan nggak kemana-mana, cuma jemur di sini saja," bantah Mou tak terima.


"Eh, eh, ingat." Mengusap-usap rambut Mou. "Harus nurut apa kata suami."


Mendengar itu Mou segera mengangguk. Kan ia sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuk Gemilang. Jadi, ia harus berbakti pada laki-laki itu.


"Ingat ya, harus berada di pelukanku saat aku bangun."


"Iya, Abang. Cepat mandi sana." Pipi Mou bersemu saat tak sengaja melihat boxer seksi yang tengah di pakai Gemilang.


Gemilang mengikuti arah pandangan Mou sebelumnya. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat sesuatu terbangun pagi-pagi begini. Tidak mungkin kan ia menyuruh Mou untuk menidurkannya. Wanita itu pasti masih kesakitan.


"Iya-iya," ucap Gemilang pasrah, melangkahkan kakinya gontai menuju kamar mandi.


Setelahnya Mou berjalan dengan pelan menuju sisi ranjang. Bagian sensitifnya masih terasa begitu nyeri.


.


.


.


"Terimakasih, Bibi." Mou tersenyum pada para ART yang benar-benar menyambut kedatangannya. Berbagai macam menu makanan kesukaan tersaji di meja makan.


"Makan," ucap Gemilang menyodorkan sesuap nasi uduk pada Mou.


"Mou bisa makan sendiri, Abang." Menolak dengan senyuman kecil.


"Ini suapan pertama setelah kita sah menjadi suami istri," ucap Gemilang yang membuat Mou segera menerima suapan itu.

__ADS_1


"Pengantin baru, mukanya seger banget." Seseorang yang baru saja datang membuat Gemilang mendesah malas.


Ben datang menghampiri mereka. Langsung bergabung di meja makan. Mengambil makanan, menganggap rumah ini seperti rumah sendiri.


"Ngapain lo," ucap Gemilang tidak suka.


"Yohan di suruh om Elang nanganin rapat. Jadi, gue yang urus kepergian lo ke pulau." Mengunyah kornet sapi itu dengan lahap.


"Pulau?" tanya Mou yang tengah mengunyah. Kata Gemilang tempat honeymoon mereka adalah kejutan.


Gemilang hanya tersenyum kecil. "Sudah, kita lihat saja nanti."


"Gimana malam pertamanya, aman kan?" Ben berkata dengan mulut penuh.


"Sukses, goll tiga kali Ben." Gemilang berucap dengan bangga.


"Abang," geram Mou kesal sekaligus malu. Bisa-bisanya mereka membicarakan hal itu dengan santai.


"Tapi kok nggak ada merah-merahnya." Ben malah bertanya dengan jahil mengabaikan Mou yang terus menggerutu.


"Ada, di dalam." Terkekeh geli dan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V pada Mou.


"Abang, ngeselin!" Mou hendak beranjak namun di tahan oleh Gemilang.


"Iya-iya sayang, enggak. Bercanda doang, lo sih Ben." Menatap kesal pada Ben.


"Loh, kok gue?"


.


.


.


Mata lentik itu perlahan terbuka. Tersenyum malu pada Gemilang namun tidak membuatnya melepas pelukannya.


"Sudah sampai ya?" tanya Mou dengan suara seraknya.


"Sudah, ayo turun."


Gemilang membantu Mou untuk berjalan dengan hati-hati. Semenjak tadi, wanita itu mengeluh kesakitan saat berjalan.


Mata Mou membulat sempurna ketika melihat pemandangan di hadapannya. Laut yang indah bertemu dengan hutan rindang yang begitu hijau. Mungkin ini adalah surga dunia.


"Kita di mana?" tanya nya karena tak mendapati siapapun di sana kecuali beberapa anak buah Gemilang.


"Pulau terpencil," jawab Gemilang yang membuat Mou mendelik takut.


"Ini pulau milikmu, hadiah pernikahan dari aku buat kamu."


Mulut Mou menganga, terperangah mendengarnya. "Apa?"


Gemilang meraih tangan Mou, mengajaknya berjalan perlahan. Menunjuk sebuah resort di dalam hutan yang bertuliskan. "Moon Resort"


"Ini serius?" tanya Mou masih tidak percaya.

__ADS_1


"Iya, sayang." Mengecup singkat kening Mou.


"Abang, kenapa berlebihan seperti ini. Kan Abang sudah membelikan Mou banyak perhiasan juga kebutuhan Mou lainnya."


Tanpa mempedulikan perkataan Mou, Gemilang kembali menarik tangan Mou untuk menuju resort itu.


"Masih sakit banget ya?" tanya nya ketika Mou terus mendesis saat berjalan.


"Sedikit," ucapnya tersenyum tipis.


Mou benar-benar di buat terperangah dengan keindahan resort ini. Selain mewah, pemandangan di kamarnya juga sangat luar biasa. Laut biru terlihat begitu jelas di sana.


"Suka?" tanya Gemilang melingkarkan tangannya pada perut wanita itu.


Mou mengangguk, mengusap tangan besar milik Gemilang.


"Terimakasih ya, sudah memberikan kehidupan seindah ini." Mengusap sudut matanya yang tiba-tiba basah.


"Ini baru awal Mou, kita tidak tahu bagaimana nantinya. Yang pasti aku ingin kamu selalu di sampingku di saat senang maupun susah."


"Pasti," ucap Mou berbalik untuk segera memeluk laki-laki itu.


"Love you so much."


Mou segera melepaskan pelukannya saat ponsel di saku Gemilang berbunyi. "Angkat dulu," ucap Mou.


Gemilang tidak melepaskan rengkuhannya. Malas jika harus berurusan dengan pekerjaan saat-saat seperti ini.


"Angkat saja, paling juga Yohan kalo nggak Ben." Bergelayut manja pada bahu Mou.


"Beneran?" tanya Mou sungkan.


"Kamu juga berhak sepenuhnya atas aku, Mou." Enggan melepaskan kehangatan ini.


Mou meraih ponsel Gemilang yang berada di saku. Membiarkan laki-laki itu terus bergelayut manja padanya.


Segera mengusap tombol hijau pada ponsel, sembari melingkarkan tangannya pada punggung kokoh Gemilang.


"Kita belum putus ya, bisa-bisanya kamu menikah. Pak Gemilang Galaxio Kusuma, status saya masih pacar anda."


Mou membeku seketika saat mendengar suara wanita dari seberang sana. Pelukannya terlepas dengan tubuh yang melemas.


"A-apa?" ucap Mou masih tidak percaya.


"Siapa sayang?" Gemilang mengernyit ketika raut wajah Mou berubah seketika.


"Siapa wanita ini?" tanya Mou menyodorkan ponsel itu yang masih tersambung. Foto profilnya pun Gemilang dengan wanita itu.


.


.


.


Like, komen, dan vote gaes 💋

__ADS_1


siap-siap di protes wkwk


__ADS_2