
Mou terus memandangi cincin berlian cantik yang tengah berada di jari manisnya. Sesekali menyeka air matanya yang berjatuhan. Perjalanan kali ini begitu berat, meskipun ia sering bolak-balik Jakarta Bali.. rasanya tetap berbeda karena terikat perasaan mendalam dengan laki-laki itu.
Mou yakin Abang bahagia, Abang pantas mendapatkan yang lebih baik daripada Mou.
Ia mencoba mengalihkan pandangannya pada gumpalan awan putih yang terlihat menari-nari disekelilingnya. Namun tak berarti apa-apa, Gemilang sudah menguasai penuh di hati maupun otaknya.
...........
Laki-laki paruh baya itu tersenyum sembari melambaikan tangannya pada Mou.
Mou berlari kecil menuju Papa nya, berhamburan memeluknya dengan erat.
"Papa nggak kerja?" tanya Mou setelah merenggangkan pelukannya, karena biasanya Toro adalah orang super sibuk yang tidak akan muncul di bandara siang bolong begini.
Toro menggeleng tangannya terulur untuk mengusap rambut Mou "Papa kangen sama kamu".
Oh ya, setelah dipikir-pikir ada yang berbeda dari Papa nya. Mou meneliti penampilan Toro dari atas hingga ujung. Seorang yang selalu mengenakan jas kemana-kemana ini terlihat santai dengan jaketnya serta celana santainya.
"Papa kelihatan lebih ganteng kalau begini" ucap Mou segera menggandeng lengan sang Papa untuk berjalan.
"Dari dulu Papa memang selalu tampan, kamu tidak melihat Mama kamu selalu memuji ketampanan Papa".
Mou berdecak, tersenyum kecil pada sang Papa, masih tidak menyangka hubungan mereka akan kembali hangat seperti tahun-tahun dulu.
"Apa?, sekarang kamu juga mau bilang kalau papa sangat tampan".
"Papa!" Mou menatap tidak percaya pada papa yang sangat percaya diri.
"Hahahaha" Toro tergelak melihat wajah menggemaskan Mou.
.
.
.
Toro menggandeng Mou untuk memasuki rumah. Mou mengamati sekeliling, memang tidak ada yang berubah sedikitpun dari rumahnya ini.
Masih sama persis semenjak Mama meninggalkan keluarganya, karena semuanya sudah sepakat untuk tidak merubah apapun yang telah Mama tata.
Sehingga dengan begitu kehangatan suasana rumah ini masih sama persis waktu Mama masih ada.
Tanpa berani mengatakan apapun Mou hanya mengikuti langkah kaki Toro untuk menuju kamarnya.
"Selamat datang di istana yang sesungguhnya tuan putri" ucap Toro mendorong pintu seraya membungkuk.
Mou tidak bisa menahan diri untuk memeluk cinta pertamanya itu, terisak dipelukan Toro "maafin Mou pa".
__ADS_1
Toro mengangguk sesekali menyeka air mata yang ikut tumpah, ia sangat merindukan kehadiran putri kecilnya dalam rumah ini. Bertahun-tahun Mou meninggalkan rumah dan membiarkan dirinya sendiri dalam sepi.
Toro mengusap-usap punggung Mou dan segera mengajaknya untuk memasuki kamar. Nuansa warna nude memenuhi seisi kamar dengan foto-foto yang menempel pada dinding kamar itu. Boneka-boneka bear tertata rapi pada rak khusus boneka, tak lupa bunga-bunga yang masih segar menghiasi seisi ruangan.
Mou melengkungkan bibirnya ketika merasakan ada sesuatu yang berubah di dalam kamarnya.
"Papa sudah membuang semua foto dan barang pemberian dari Bara" ucap Toro yang sudah paham.
Mou mengangkat jempolnya "Papa memang yang terbaik".
"Apa mau diganti dengan yang baru" goda Toro tersenyum, namun Mou malah terpaku sesaat ketika mendengar nya.
"Papa sudah makan?" tanya Mou mengalihkan perhatian.
.
.
.
Mouresa : Abang, Mou sudah sampai dengan selamat, tidak usah khawatir Mou baik-baik saja disini dan mungkin akan sangat sibuk mulai besok.
Pesan singkat yang baru saja Gemilang baca ketika ia membuka pintu kamar nya. Seharian ia begitu sibuk dengan pekerjaannya, baru sempat melihat ponsel ketika baru saja tiba dirumah malam ini.
Gemilang meletakkan ponselnya pada meja kayu berwarna hitam itu. Melepaskan jas nya, jam tangan, serta kemeja putihnya.
Menghela nafas yang begitu panjang, ketika merasa berat menjalani harinya tanpa wanita itu disisinya. Biasanya Mou akan mengingatkan nya untuk makan siang ataupun untuk sekedar makan buah-buahan.
"ini begitu berat Mou" gumamnya pelan, segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Gemilang keluar dari kamar mandi, bertelanjang dada serta hanya boxer yang melilit pada pinggang nya. Setelah terlihat lebih segar, ia meraih ponselnya.
Menelepon wanita yang menghantui pikiran nya semenjak tadi, tangannya mengusap-usap rambut basahnya dengan handuk.
Sesekali berdecak kesal ketika panggilan nya tak kunjung diangkat oleh wanita itu.
"Kamu kemana sih" gerutunya kesal.
.
.
.
Sedangkan diseberang sana, Mou terus menatap layar ponselnya yang tertera nama Gemilang disana, terus memanggilnya.. mungkin ini sudah ke tujuh kalinya.
Segera beranjak menuju balkon kamarnya, masih setia menatap ponsel itu dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya ia menyentuh tombol hijau disana, segera mengatur nafasnya sebelum mulai berbicara.
"Halo"
"Kamu kemana aja sih, aku udah berapa kali telepon nggak diangkat. Lagi dimana, kan aku sudah bilang bawa ponsel kalau kemana-mana. Kamu nggak lagi diluar kan, aku melarang mu keluar di jam malam ya Mouresa!".
Mou tersenyum kecut mendengarkan sederet omelan dari laki-laki itu, ia pasti sedang emosi diseberang sana.
"Abang" panggil Mou dengan lembut.
"Jawab dulu Mouresa!" tetap kekeh dengan emosinya.
"Maaf ya" hawa sesak mulai melingkupi dadanya "Mou tadi masih dilantai bawah, jadi lupa nggak bawa ponsel" ucap Mou yang jelas berbohong.
Terdengar helaan nafas panjang diseberang sana "Kamu jangan buat aku khawatir Mou".
"Iya, maafin Mou tapi kan Mou nggak bisa kalau setiap saat suruh pegang ponsel terus. Ini Mou lagi belajar, cari bahan-bahan untuk persiapan skripsi" suara lembut itu membuat Gemilang luluh sekaligus merasa bersalah.
"Aku ganggu ya" ucap Gemilang penuh kekecewaan.
Mou menggeleng kuat diseberang sana, meskipun itu sia-sia karena Gemilang tidak bisa melihatnya "Abang nggak ganggu, Mou cuma pengin Abang ngertiin Mou" memejamkan matanya bersamaan dengan buliran air mata yang jatuh.
"Iya maaf ya, abisnya aku udah kangen banget sama kamu. Rasanya pengen terbang ke Bali malam ini".
"Abang ih" kekehan pelan dari Mou agar Gemilang tidak curiga "Istirahat sana, Mou juga masih mau belajar ini".
"Yasudah, aku hanya ingin mendengar suaramu saja. Jangan malam-malam belajarnya, besok kan masih bisa".
"Besok Mou harus ke kampus dan mulai cari buku di perpustakaan" jelas Mou.
"Sesibuk itu ya".
"Iya".
"Mimpi indah kalau begitu, mampir ke mimpi aku ya, bentar aja . . . aku kangen" ucap Gemilang begitu serius.
Mou kembali mengusap matanya yang berair "Abang, kan baru tadi pagi pisahnya" mencoba untuk tersenyum meskipun itu sulit.
"Hari-hari ku sudah terbiasa diisi oleh mu".
Mou memukul dadanya yang begitu sesak, entah sampai kapan ia sanggup bersandiwara seperti ini, yang jelas ia akan pelan-pelan melepaskan Gemilang.
"Abang cepet tidur ya" ucap Mou segera mengakhiri panggilan, terduduk dilantai sembari menyembunyikan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
.
.
__ADS_1
.
LIKE,KOMEN,HADIAH AND VOTE GAESSS 💋