
"Why man, ada apa?" Tanya Ben merangkul pundak Gemilang saat memasuki ruang kerja Gemilang.
Raut wajah Gemilang terlihat gelisah sedari tadi. Mungkin Gemilang boleh saja membohongi siapapun, tapi tidak dengan Ben yang sudah sangat mengenalnya sejak kecil.
Ditambah lagi laki-laki ini habis mengamuk di ruang rapat, hanya karena kesalahan kecil. Ini sungguh bukan Gemilang yang biasanya.
Gemilang segera menghempaskan bokongnya pada sofa, memijit pelipisnya tampak frustasi. Sejujurnya ia hanya pura-pura baik-baik saja didepan Mou, ia juga takut jika Mou nekat meninggalkan dirinya.
Tapi apa yang ia harus lakukan, ketika rasa bersalah menyeruak di dadanya. Juna sempat menghubungi dirinya bahwa Ibel sempat kambuh dan dirawat beberapa hari yang lalu. Gemilang memang manusia tak berperasaan, dan tega pada Ibel, tapi selalu ada rasa bersalah setelahnya.
Menyandarkan tubuhnya pada sofa, Gemilang menatap Ben yang masih menunggu jawabannya.
"Semacam dibunuh tapi tidak mati."
Ben mengernyit mendengar jawaban dari Gemilang, ingin tertawa pun sungkan.
"Gue nggak tau harus gimana lagi. Lo tau sendiri kan masalah gue gimana?" Terdengar helaan nafas panjangnya.
"Gimana sama Mou?" tanya Ben.
"Gue beri waktu sampai dia wisuda, setelah itu terserah sama Mou." Gemilang tampak berat ketika mengucapkannya.
"Kalo dia milih persahabatannya dan ninggalin lo?"
"Ya mau gimana lagi?" Gemilang menyunggar rambut dengan kedua tangannya.
"Yakin lo rela Mou pergi dari lo. Emang lo bisa jatuh cinta sama cewek selain Mou?" tanya Ben lagi yang membuat Gemilang semakin gelisah.
Gemilang menggeleng, "Entahlah." Selama ini ia tidak pernah berpikir sejauh itu, jatuh cinta pada wanita lain selain Mou. Lagi-lagi Gemilang menggeleng.
Ketukan pintu membuat mereka menoleh, "masuk" sahut Ben.
Yohan muncul dibalik pintu dan berkata, "Tamu bapak sudah datang."
"Suruh masuk," ucap Gemilang kemudian mengibaskan tangannya pada Ben.
Mendengus kesal Ben segera beranjak pergi, untung saja ia sudah hafal tingkah laku menyebalkan Gemilang.
Sosok tinggi dengan perawakan tegap memasuki ruangan itu dengan senyum liciknya, mengamati seluruh ruangan fasilitas CEO di perusahaan ini.
"Baru kali ini gue percaya kalo lo itu sultan." Tidak usah ditebak lagi, Gemilang tahu betul siapa itu. Dari cara berbicaranya yang menjengkelkan dan suara khas yang hanya dimiliki laki-laki itu.
"Duduk," ucap Gemilang malas.
Segera duduk dihadapan Gemilang, dan memperhatikan raut wajah Gemilang yang tak secerah biasanya.
"Lo tau nggak gue itu juga orang sibuk, cepetan mau ngomong apa" ucap Sam kesal, ia pikir Gemilang terlalu berlebihan. Sampai-sampai ia dijemput di rumah sakit oleh orang suruhan Gemilang.
"Gue lebih sibuk. Makannya gue seret lo kesini." Gemilang menyodorkan secangkir kopi yang sudah disiapkan sebelumnya.
__ADS_1
Sam terkekeh kecil, Gemilang begitu mengingat kopi favoritnya. Segera meraih kopi yang masih mengeluarkan kepulan putih itu dan menyeruputnya.
"Lo tau Mou selama ini minum obat tidur." Kopi itu hampir saja Sam semburkan saat Gemilang mengatakan hal itu.
"Jadi lo nggak tau."
"Gue tau," ucap Sam mengalihkan pandangannya. Menghela nafas panjangnya. "Gue nggak nyangka lo sedekat itu sama adek gue." Karena Sam tahu betul hanya Roman dan dirinya yang tau akan hal itu.
"Terus kenapa lo biarin. lo dokter kan, lo tau gimana berbahaya nya obat tidur untuk kesehatan." Omel Gemilang.
Sam berdecak, lalu tersenyum kecil. "Gue nggak sebodoh itu ya."
"Terus kenapa--"
Sam melayangkan jari telunjuknya pada Gemilang yang hendak mengomel. "Gue udah ganti obat itu, tapi jangan bilang sama Mou." Mendesah malas dengan manusia galak satu ini.
"Sebenarnya yang dikonsumsi sama Mou itu bukan obat tidurnya, melainkan vitamin yang gue pesen khusus untuk Mou. Awalnya gue ragu buat ganti obat tidur Mou, tapi ternyata dugaan psikiater kenalan gue benar. Mou hanya merasa cemas saja, dan obat itu adalah untuk memberi rasa nyaman dan tenang, supaya Mou nggak mimpi buruk." Jelas Sam panjang lebar.
Gemilang mendesah lega mendengar semua itu, sedikit beban di kepalanya terangkat.
Sam terkekeh ketika baru menyadari keberadaan kotak makanan merah muda milik Mou berada diatas meja. "Sebucin itu lo sama adek gue."
Gemilang yang melihat arah pandangan Sam langsung mengambil kotak makanan itu lalu Membukanya. Sam tertawa terbahak-bahak melihat telur ceplok berbentuk hati dengan sosis dipinggir nya.
Berbeda dengan Gemilang yang berbunga-bunga, namun sedikit malu karena Sam mengejeknya.
.
.
.
Disudut dunia yang berbeda, Mou baru saja keluar dari gerbang kampus. Berjalan sendirian dengan buku tebal di dekapannya.
"Hai, Mou." Sapa seorang laki-laki teman sekampus nya.
Mou hanya membalasnya dengan senyuman, namun itu mampu membuat laki-laki itu membeku seketika. Melihat senyuman manis dari sosok bak bidadari, mimpi apa di siang bolong begini.
Langkah Mou terhenti ketika mendengar klakson mobil tepat disampingnya. Senyumnya merekah saat melihat itu mobil siapa.
"Bang Roman."
"Masuk," ucap Roman menurunkan kaca mobilnya.
Mou segera memasuki mobil Roman, memasang seat beltnya. Memandangi sang Abang yang masih terlihat keren dengan baju santainya.
"Suruh nunggu didalam saja malah keluar." Tutur Roman sembari melajukan mobilnya.
"Nyari udara segar bang," ucap Mou nyengir kuda.
__ADS_1
"Kita makan diluar saja ya, Abang sudah reservasi restoran."
"Tumben." Mou menatap curiga pada Roman biasanya Roman paling anti dengan makanan luar.
"Sekali-kali, Abang rindu suasana Bali." Kata Roman menoleh sekilas pada Mou.
"Oke."
.
.
.
Pilihan Roman adalah restoran yang menampilkan pemandangan sawah. Udaranya sejuk juga dapat melihat sawah hijau yang membentang disana.
Tempatnya juga santai dan begitu nyaman.
"Seger banget," ucap Mou setelah meminum lemon tea miliknya. Melihat pemandangan sekitar yang begitu menakjubkan, juga banyak turis-turis asing disana.
"Sebenarnya ada yang mau Abang bicarakan sama kamu Mou."
Mou menoleh pada Roman yang berubah menjadi serius. "Apa bang?"
Berdehem sejenak kemudian menatap Mou, "Abang sudah tahu masalahmu dengan Gemilang."
Mendengar hal itu membuat Mou meremas pelan tangannya yang bertautan. Memberanikan diri untuk menoleh pada Roman.
"Kamu sudah besar Mou, memang tidak seharusnya Abang ikut campur dalam masalah kamu. Tapi selama kamu belum memiliki suami, Abang merasa kamu tetap tanggung jawab Abang.
"Selama ini Abang, Sam, dan Papa mungkin memang terlalu memanjakan kamu seperti tuan putri. Tapi Abang sadar, kamu sudah tidak seharusnya dimanjakan lagi."
Mou mengerutkan kening ketika mendengarnya.
"Maksud Abang?"
"Dulu Abang pikir dengan kamu menikah akan membuatmu lebih dewasa. Tapi sepertinya tidak seperti itu Mou, kamu perlu proses pendewasaan yang lebih matang lagi. Jangan hanya memikirkan soal pernikahan, pikirkan kamu mau jadi manusia seperti apa di masa depan."
Roman menghela nafasnya sejenak "Jika tanpa Abang, Sam, ataupun Papa."
.
.
.
LIKE, KOMEN, AND VOTE 💋
JGN LUPA FOLLOW IG AKU YA GAES @BLUESKYMA1
__ADS_1