
"Terimakasih, Pak." Mou menunduk sopan setelah laki-laki paruh baya itu membukakan pintu mobil untuknya. Suaminya memang berlebihan, padahal tadi Mou ingin naik taksi saja tetapi tidak diijinkan dan di jemput oleh supir pribadi keluarga Kusuma.
Melangkahkan kakinya dengan rasa ragu saat memasuki rumah bak istana ini. Dirinya belum terbiasa dengan rumah sebesar ini. Apalagi begitu sepi, bayangkan saja jika hanya Mamii dan Papii yang tinggal berdua di rumah seluas ini.
Tujuan pertamanya adalah dapur untuk sekedar meminum air dingin yang menyegarkan tenggorokannya. Menghela napasnya panjang saat badannya terhempas pada kursi di sana.
"Kamu sudah pulang, Mou." Satu suara yang membuat Mou terkejut.
"Papii ngagetin kamu ya," ucap Elang terkekeh sembari membuka kulkas.
"Masih belum terbiasa, Pi." Menampilkan gigi-gigi cantiknya.
"Harus terbiasa dong, soalnya Papii bisa muncul dari mana aja di rumah ini." Elang tersenyum geli saat Mou bingung dengan pembicaraannya.
Mengambil satu buah apel dan duduk di hadapan Mou. "Kamu beruntung mendapatkan sepenuhnya hati Gemilang. Laki-laki keras kepala itu tidak pernah tunduk pada siapapun."
"Papii bisa aja," ujar Mou tidak percaya dengan hal itu.
"Dia itu nurutnya sama kamu aja Mou. Sama Papii aja kadang harus adu mulut dulu, pokoknya keras kepala banget kayak.." ucap Elang terdiam saat Mila memasuki dapur.
"Kayak siapa?" melirik tajam pada suaminya.
"Enggak Mam, enggak." Mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya keatas.
"Jangan di dengerin Mou. Papii kamu kalo ngomong suka ngelantur." Merebut apel yang tengah Elang makan dan menggigitnya.
"Kan bisa ambil sendiri, Mam," kesal Elang.
"Bekas Papii lebih manis," ucap Mila yang membuat Elang hampir saja menelan apel itu dengan utuh.
"Kamu nggak boleh capek-capek loh, Mou." Mila menatap Mou yang terlihat sibuk memilih bahan makanan.
"Nggak papa, Mam. Sekali-kali biar Mou yang masak, soalnya Abang udah request sup ayam tadi." Segera mencuci sayuran di wastafel.
"Iya Mou nggak boleh capek-capek biar cepat ha... aw!" pekik Elang saat Mila menginjak kakinya.
"Ada apa, Pap?" tanya Mou menoleh.
"Enggak-enggak, kamu lanjut aja," sahut Mila kemudian menatap kesal pada Elang seolah ingin menerkamnya detik ini juga. Karena Gemilang sudah mewanti-wanti kedua orangtuanya agar tidak membicarakan tentang kehamilan pada Mou.
Ya, secinta itu Gemilang pada Mou.
.
.
.
Ini hari pertama Mou benar-benar menjalankan tugasnya sebagai istri. Tetapi suaminya malah lembur hingga larut malam. Sekarang sudah jam sepuluh malam, mobil Gemilang baru saja memasuki garasi.
__ADS_1
Mou yang tengah sibuk menonton televisi sendirian, berlari kecil menuju pintu saat mendengar deru mobil Gemilang.
"Kamu ngapain nunggu di sini?" ucap Gemilang terheran saat Mou sudah berdiri di ambang pintu.
Segera meraih tangan Gemilang untuk di kecup. "Nunggu Abang," tersenyum manis dan meraih tas Gemilang.
Bibir Gemilang ikut melengkung saat melihat tingkah lucu istrinya. Ternyata menikah seindah ini, hanya melihat senyuman Mou saat pulang kerja saja bisa menghilangkan semua bebannya hari ini.
Segera merangkul bahu Mou dan mengajaknya masuk ke rumah. "Lain kali nunggu di kamar saja."
"Nanti ketiduran dong," balas Mou yang terus menempel pada Gemilang.
"Nggak papa, nanti malam kalau aku bangunin kalau lagi pengin." Berucap dengan santai.
"Abang!" kesal Mou mencubit gemas lengan Gemilang.
"Galak banget sih," gerutu Gemilang memegangi lengannya.
"Yasudah, cepat mandi aku siapkan makan. Abis itu baru istirahat," ucap Mou saat mereka memasuki kamar.
"Iya, siap ibu negara." Mengacak-acak rambut Mou. Setelah Gemilang pelajari ternyata Mou adalah type orang yang suka mengatur-atur tanpa suka bantahan. Dan anehnya seseorang keras kepala sepertinya bisa menurut begitu saja.
Setelah selesai mandi, Gemilang di buat bahagia hanya karena beberapa makanan sudah tersaji di sana. Biasanya ia jarang makan jika pulang larut malam.
"Sini," ucap Mou menepuk-nepuk sisi kosong sebelahnya. Sepiring nasi dengan sup ayam sudah tersaji di pangkuannya.
"Iya." Menyodorkan sesuap nasi untuk Gemilang. "Kalau pulang malam mending gak usah keramas deh, Bang." Menatap rambut basah Gemilang yang menetes ke pundak.
"Biar seger sayang." Menjawab dengan mulut penuh.
"Iya, tapi jangan sering-sering. Keramasnya kalau pagi aja."
Baiklah, Gemilang malas berdebat. "Iya ibu negara."
"Kenapa sih manggilnya gitu," ucap Mou sembari membereskan piring bekas milik Gemilang.
"Ya, abisnya kamu suka ngatur-ngatur kaya ibu negara," ucap Gemilang tanpa sadar. Melipat bibirnya saat mendapat lirikan tajam dari sang istri.
"Bercanda, Sayang." Menatap Mou takut-takut.
"Terserah," ucap Mou sewot dan segera membawa piring kotor itu keluar kamar.
Mou memasuki kamarnya tanpa menatap sosok tampan yang sudah menunggunya di sofa. Segera merebahkan tubuhnya dan bergelung dengan selimut tebal.
"Sayang.." panggil Gemilang mendekati Mou, tapi tidak ada sahutan.
"Sensitif banget sih." Mencoba mengguncang bahu Mou yang masih memunggunginya.
"Tau ah, tidur sana."
__ADS_1
Segera bergabung dalam selimut yang hangat itu. Memeluk Mou dari belakang, kecupan-kecupan kecil ia tinggalkan pada leher putih Mou.
"Abang," rintih Mou saat Gemilang tidak berhenti bermain dengan lehernya.
"Kamu nggak capek kan?"
"Abang baru makan loh," ucap Mou berbalik. "Bentar lagi, biar makanannya turun jangan tidur ih." Segera duduk dan menarik tangan Gemilang agar terduduk juga.
Tuh kan, tukang ngatur.
Memutar bola matanya jengah dan kembali mendekap tubuh Mou. "Harus berapa menit lagi?"
"Sabar dong, Abang."
Tidak menghiraukan perkataan Mou, tangannya sudah bergerilya di dalam balutan baju tidur berbahan dasar satin itu.
Sekuat tenaga menahan diri agar tidak mendesah. Suaminya memang nakal, tidak bisa di beri tahu. Ya setidaknya kan istirahat dulu, biar makanannya tercerna dengan baik.
Getaran pada ponsel Mou membuat aksi Gemilang berhenti. Tersenyum penuh kemenangan saat laki-laki itu terlihat kesal.
"Angkat dulu gih," ucap Gemilang meraih ponsel Mou yang berada di atas meja. "Siapa lagi malem-malem gini," gerutunya menatap layar ponsel itu.
"Kak Adi?" tanya Gemilang menatap Mou penuh tanya.
"Kakaknya Ibel," jawab Mou segera merebut ponselnya. Tumben sekali kakaknya Ibel menelepon malam-malam begini.
"Halo kak."
"Mou, kamu di mana?"
"Mou di rumah, ada apa ya?" Semakin di buat penasaran oleh suara panik di seberang sana.
"Kamu ke rumah sakit sekarang ya. Ibel lagi kritis, dan sekarang dia sedang berjuang untuk tetap hidup. Kakak pikir hanya kamu sahabat cewek ibel satu-satunya, dan dia sedang butuh kamu Mou."
Dada Mou terasa sesak saat mendengar kata-kata itu. "Iya, Kak." Mematikan ponselnya dan menepis air mata yang jatuh.
"Ada apa?" tanya Gemilang khawatir.
"Ayo ke rumah sakit sekarang. Kondisi Ibel sedang kritis," ucap Mou buru-buru untuk berganti pakaian.
Kamu pasti kuat, Bel.
.
.
.
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAISSS 💋
__ADS_1