Gemilang Ku

Gemilang Ku
40 ~ Merindu segila ini


__ADS_3

Sepi, sunyi, senyap, dan hening. . .


Hanya detak suara jam dinding yang sedang berjalan maju memenuhi seisi ruangan ini.


Entah apa yang membuatnya seperti kekurangan sesuatu hari, hanya saja terasa hampa tanpa menatap laki-laki itu hari ini. .


Mou diam membisu, termenung di meja kerjanya, laki-laki itu tidak datang padanya hari ini.


Benarkan.


Hanya sebatas itu perjuangannya.


Laki-laki payah.


Mou mengikat kuda rambut panjangnya, memoleskan sedikit make up pada wajah cantiknya dan tak lupa dengan lipstik warna nude yang begitu cocok dibibir mungilnya itu.


"Cantik amat neng?" goda Ben yang baru saja memasuki ruangan nya, semerbak harum aroma gadis ini memenuhi isi ruangan nya.


Ben sengaja tidak memberitahu Mou bahwa Gemilang sedang keluar negeri, ia menunggu gadis itu menanyakan secara langsung pada dirinya.


Lagipula ia yakin gemilang tidak dapat dihubungi, karena jadwalnya cukup padat, dan gadis di depannya ini berpura-pura tidak perduli pasti.


"Eh, pak Ben" ucap Mou malu "nggak papa kan pak, kan udah mau jam istirahat" ucap Mou melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.


"Santai Mou" ucap Ben "mau makan siang dimana?" tanya nya.


"mau diluar aja pak, sumpek dikantor terus" ucap Mou nyengir kuda.


"sama aku aja yuk, aku juga garing ini" ucap Ben melonggarkan dasinya.


"sama mbak Raisa juga?" tanya Mou.


"nggak kita aja" ucap Ben santai, hubungan dan Raisa memang seperti ini, selalu memberikan kepercayaan satu sama lain.


Dan mereka berstatus pacar hanya jika sudah keluar dari perusahaan ini, Raisa juga begitu membebaskan Ben berteman dengan siapapun, tidak mengekang satu sama lain.


"nggak papa?" tanya Mou menatap heran pada Ben.


"nggak papa, dia pengertian kok" ucap Ben segera mengambil kunci mobilnya.


"ayo" ucapnya menghampiri Mou yang masih mematung.


"pak, jangan begini perasaan mbak Raisa kan harus dijaga" ucap Mou takut.


"Raisa tahu kok, siapa yang harus dicemburui seiapa yang tidak, aku yang tanggung jawab" ucapnya memaksa.


Mou tampak menimang-nimang sejenak.


"oke" ucapnya setelah beberapa saat, ia segera mengambil tasnya dan beranjak.


.


.


.


Nuansa restoran Jepang yang begitu ramai menemani makan siang mereka siang ini.


"Sepertinya kamu kaya" ucap Ben sembari memasukkan sesuap sushi pada mulutnya.


"kok bisa ngomong gitu tiba-tiba" ucap Mou yang ikut mengunyah sushi yang memanjakan lidahnya itu.


"Biasanya kalo doyan sushi itu orang kaya" celetuk Ben tertawa renyah.


"mana ada kayak gitu" ucap Mou kemudian ikut tertawa, ada-ada saja.

__ADS_1


"Mou" panggil Ben meletakan sumpit nya.


"iya" jawab Mou yang terus mengunyah.


"kamu nggak mau nanyain apa gitu aku" ucap Ben tersenyum menaikkan kedua alisnya.


"nanyain apa?" ucap Mou meraih minumannya.


"ya. . . apa gitu, tentang pak bos misalnya" ucap Ben yang membuat Mou tersedak.


"uhuk. . uhuk. . " Mou menutup mulutnya, dan menatap Ben "ngapain nanyain dia" ucapnya berubah menjadi kesal.


"kan seharian dia nggak ada, nggak nemuin kamu kan dan nggak ada kabar" ucap Ben tertawa jahil.


"i-itu kan bukan urusan ku" ucap Mou membuang muka.


"beneran nggak kepo. . beneran nggak kangen" goda Ben lagi.


"apaan sih" gerutu Mou kesal.


"canda Mou" ucap Ben kembali memakan makanannya.


"emang dia kemana?" ucap Mou yang membuat Ben tidak bisa lagi menahan tawanya.


"Ben!, diem!" ucap Mou menoleh sekitar karena orang-orang menatap kearahnya akibat tawa Ben yang nyaring "malu tau" lanjutnya lalu menutup mukanya dengan buku menu.


"gue sih PD aja" ucap Ben dengan santainya.


Mou menggelengkan kepalanya, masih tak habis pikir dengan tingkah Ben yang ternyata sebelas dua belas dengan Ibel ini.


"iya iya" ucap Ben memelankan suaranya "jadi pak bos itu lagi keluar negeri" lanjutnya.


"ngapain?" tanya Mou yang tidak bisa membendung rasa penasarannya.


Mou hanya terdiam karena malu "ya kan--"


"ada kerjaan disana" ucap Ben menyela.


Mou mengangguk "kok kamu nggak ikut, terus dia sama siapa?"


"satu juta per satu pertanyaan ya" ucap Ben tersenyum jahil lagi.


"yaudah nggak nanya" ucap Mou galak.


Boleh tidak sih Ben mengacak-acak rambutnya, seperti yang biasa Gemilang lakukan, gadis ini sungguh menggemaskan.


Tapi Ben masih waras dan tidak segila itu berani menyentuh apa yang disukai sahabatnya.


"sama Yohan, dan banyak lah ya , rekan kerja lainnya" ucap Ben meneguk jus alpukat yang menyegarkan tenggorokan nya.


Ilona ada nggak?


Mou menyimpan pertanyaan itu rapat-rapat daripada Ben terus menggodanya, kan malu jika Ben nantinya memberitahukan pada Gemilang.


"udah itu aja" tanya Ben setelah Mou terdiam.


"Hem"


"Mou, kalau kamu mau tahu tentang Gemilang, soal apapun itu, pintu rumahku selalu terbuka lebar untuk menjawab pertanyaan mu" ucap Ben berubah menjadi serius.


Mou tersenyum kecut mendengarnya "aku dan dia adalah ketidakmungkinan Ben" lirihnya.


"apa maksudnya?" tanya Ben mengerutkan keningnya.


"sudahlah" ucap Mou segera meraih tissue untuk menghapus sisa makanan di bibirnya.

__ADS_1


"apa kurangnya Gemilang sih Mou?" tanya Ben menatap Mou dengan dalam.


"he is perfect, tapi bukan untukku" ucapnya menggeleng lemah.


"kamu nggak suka sama dia?" tanya Ben lagi.


"menurut mu adakah perempuan yang tidak menyukai sosok Gemilang yang sesempurna itu".


"tidak" jawab Ben spontan.


"nah itu, kamu tahu jawabannya".


"jadi kamu juga suka sama dia" ucap Ben antusias.


"masih sebatas suka Ben, tidak lebih, jangan berharap lebih pada hubungan ku dan Gemilang" ucap Mou menatap serius pada Ben.


"kenapa Mou?" tanya Ben yang mulai khawatir dengan jawaban Mou, ia sangat takut sekali sahabat nya itu patah hati.


"aku sudah bersedia untuk dijodohkan" ucap Mou menghela nafasnya yang seolah begitu berat bebannya akan hal itu.


"sama siapa?" tanya Ben sedikit terkejut.


"aku belum tahu, tapi Papa sudah memberitahu bahwa aku akan dijodohkan, jadi aku benar-benar tidak berani berharap lebih pada siapapun" ucap Mou yang memaksakan senyumnya.


Ben bernafas lega mendengarnya "itu bukan masalah Mou, siapa tahu kan yang dijodohkan dengan kamu itu Gemilang?" ucap Ben serius namun wanita ini malah terkekeh.


"dunia tidak sesempit itu" ucap Mou menatap kosong.


Dan tidak semudah itu.


"tidak ada yang tidak mungkin, jika semesta mentakdirkan kalian berdua untuk bersatu" ucap Ben.


"dan sayangnya takdir tidak pernah berpihak padaku Ben" ucap Mou lalu berdiri.


"ayo sudah hampir habis jam makan siang" ucap membalikkan tubuhnya menuju kasir.


"biar aku yang bayar" ucap Ben mendahului Mou menyerahkan kartu kredit nya.


.


.


.


"Bapak yakin ingin menyelesaikan semuanya selama dua hari" ucap Yohan yang sejak tadi sudah seperti robot mengikuti bosnya yang sepertinya tidak ada lelahnya itu.


"saya tidak mau berlama-lama disini" ucap Gemilang menghempaskan tubuhnya pada sofa, ia bahkan berusaha mati-matian agar bisa cepat menyelesaikan pekerjaannya.


"tapi kita tidak akan ada waktu untuk beristirahat pak" ucap Yohan menelan ludahnya kasar, karena bosnya tidak pernah bermain-main dengan perkataan nya.


Gemilang tersenyum kecil menatap Yohan.


"Han, aku tidak pernah merindukan seseorang sampai segila ini" ucapnya yang membuat Yohan mengerutkan keningnya.


"bapak sehat?"


.


.


.


AKU MENGORBANKAN WAKTU KU UNTUK NONTON DRAKOR SETELAH MENULIS DISINI


LIKE KOMEN AND VOTE SEBANYAK-BANYAK GAESS 💋

__ADS_1


__ADS_2