Gemilang Ku

Gemilang Ku
41 ~ Benar-benar kalah


__ADS_3

Seperti laki-laki bodoh, seorang Gemilang rela berkerja bagaikan robot selama dua hari penuh.


Dan disinilah ia sekarang, pagi-pagi buta sudah berada di Elang Group, ia bahkan langsung menuju kantor dari bandara, tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu.


Hanya karena seorang wanita yang bernama Mouresa, sungguh gila bukan.


Ia berbaring disofa berbantal satu tangannya, menatap langit-langit ruangan, ia memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuh nya sejenak, matanya pun sampai berkantung seperti panda, badannya seperti remuk tak tersisa, ia hanya tidur selama lima jam seperti orang gila.


Iya dia sudah benar-benar tidak waras, Gemilang merutuki kebodohannya sendiri.


"Permisi pak, ini kopinya" ucap seseorang yang begitu merdu di telinga Gemilang, sedari tadi ia sudah menunggu kehadirannya.


Gemilang sontak bangun, dan menatap kearah gadis yang mengenakan dress kerja press body itu.


Oh sialan!


Kenapa wanita ini selalu ingin menunjukkan lekuk tubuhnya pada semua orang, lihat saja Gemilang akan mengeluarkan peraturan baru di perusahaan ini.


Mou meletakkan kopi hitam pekat itu diatas meja, asapnya mengepul terlihat begitu nikmat.


"permisi" ucapnya tanpa menatap Gemilang, karena laki-laki itu hanya terdiam dan menatapnya.


"Mou" panggil Gemilang yang membuat Mou menoleh.


"iya pak" jawab Mou kemudian melengkung kan bibirnya terpaksa.


Gemilang berdiri kemudian mendekat padanya, menatap lekat-lekat wanita yang kapan hari menangis meraung-raung di klinik itu.


Dan sepertinya dia sudah baik-baik saja, berdasarkan informasi yang ia dapatkan dari Ben memang seperti itu.


"aku kangen" ucap Gemilang begitu serius, menatapnya begitu dalam, seolah ingin menyelami perasaannya dengan menatap manik indah bagaikan bulan sabit itu.


"maaf pak, saya permisi" ucap Mou tanpa menghiraukan perkataan Gemilang.


"kamu masih marah?" tanya Gemilang lagi saat Mou sudah memegang handle pintu yang berwarna keemasan itu.


Mou menghela nafasnya kesal, lalu menoleh lagi pada laki-laki itu "menurut bapak" ucap Mou cuek kemudian segera membuka pintu dan pergi darisana.


Memangnya apa salahku?


Berkali-kali Gemilang berpikir keras, dan semakin tidak tahu apa salahnya.


Boleh tidak sih ia mengeluarkan kata-kata kasarnya, ia bekerja bagaikan robot hanya untuk bisa segera menemui wanita itu, memeluknya dengan erat dan menghirup aroma lembutnya yang bagaikan candu bagi Gemilang.


Tapi apa ini?, marah-marah tidak jelas dan tidak tahu apa maunya..


Gemilang mendengus kesal lalu kembali duduk disofa, menjambak rambutnya dengan frustasi.


.....


Semua karyawan nampak meninggalkan pekerjaan, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, saat nya beristirahat untuk mengisi perut.


"Dimana dia?" ucap Gemilang saat memasuki ruangan Ben.


Ben yang masih fokus pada layarnya sontak menoleh "siapa?" ucapnya kesal ketika bos nya itu menganggu konsentrasi nya.


"siapa lagi" ucap Gemilang kemudian duduk dihadapan Ben.


"Oh, my moon" ucapnya menggoda.


"cuma gue yang boleh manggil dia kayak gitu" ucap gemilang tidak suka.

__ADS_1


Ben mematikan laptop nya, lalu menutupnya dan menatap Gemilang "oh Gem, gue pikir kayaknya Lo bener-bener gila" ucapnya mengangkat sebelah bibirnya "Mati-matian mengerjakan pekerjaan selama dua hari dan sekarang Lo kayak nggak punya harga diri nguber-nguber Mou terus".


"gue nggak perduli" ucap Gemilang singkat padat dan jelas.


"dia tadi buru-buru makan siang diluar sama Raisa" ucap Ben yang membuat Gemilang mendengus kesal.


"dia pasti ngindarin gue" ucap Gemilang lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"ada masalah?" tanya Ben.


"nggak tau, dia marah-marah tanpa alasan" jawab Gemilang.


"Ceritain" ucap Ben menyombongkan diri, karena sahabatnya ini pasti kurang peka karena baru ini dekat dengan perempuan.


Gemilang menceritakan semuanya pada Ben, termasuk saat Mou menangis di klinik dan marah-marah padanya.


"oh my God" ucap Ben membulatkan matanya "dia cemburu bodohhh!" ucapnya menghunus.


Gemilang mengerutkan keningnya tak paham.


"Gem, Lo yakin lulusan Harvard university?" ucap Ben menggelengkan kepalanya "kayaknya jalur nyogok deh" ejeknya kemudian.


Gemilang sontak melemparkan bulpoint dihadapannya pada muka Ben sialan ini.


"tapi masak sih dia cemburu" ucap Gemilang yang tak bisa menahan senyumnya.


Ben berdecak malas "seneng Lo" ucapnya kesal.


"dia cemburu sama Ilona bodohh" ucap Ben lagi.


"gue kira dia cuma nangis karena sakit" ucap Gemilang yang tak henti-hentinya tersenyum.


"diem bangsatt!" umpat Gemilang.


.


.


.


Mou terus menghindari Gemilang hari ini, dan memilih berbicara formal ketika mereka terpaksa berpapasan.


Ia buru-buru makan siang hanya karena takut Gemilang keruangan nya, pulang tergesa-gesa hanya untuk menghindari laki-laki menyebalkan itu.


Ah, pokoknya ia bersembunyi jika ada laki-laki yang dengan percaya dirinya mengatakan kangen, bahkan tidak mengabari nya sekalipun selama dua hari ini.


Mou menatap pantulan wajahnya yang berada di cermin, ia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.


Senyumnya mengembang ketika, terdengar suara bel pintu.


Itu pasti delivery makanan, ia sudah memesan seblak pedas level 10 yang akan memanjakan lidahnya.


Hujan-hujan begini memang enaknya makan yang berkuah dan pedas, tuh kan membayangkan nya saja sudah membuatnya ngiler.


Mou segera merapikan rambutnya, lalu berlari kecil untuk membuka pintu.


Senyumannya memudar ketika melihat siapa yang datang.


"ngapain kesini" ucapnya galak, bahkan ia sudah bersiap-siap untuk menutup pintu lagi.


"aku mau minta maaf" ucap Gemilang menggenggam tangan Mou.

__ADS_1


"Gem, lepasin" ucap Mou mengibaskan tangannya.


Gemilang memasuki ruangan itu begitu saja, menerobos Mou yang masih berada diambang pintu.


"siapa yang suruh masuk" ucap Mou kesal.


Gemilang tidak perduli dan langsung masuk, menganggapnya sebagai rumah sendiri.


"Gem, pergi nggak" ucap Mou menyusul Gemilang dan berdiri dihadapannya.


"nggak" ucap Gemilang santai.


"Pergiii" usir Mou menahan tubuh Gemilang agar tidak seenak jidatnya.


Gemilang justru meraih tangan Mou, dan membawa tubuh wanita itu dalam dekapannya.


"lepasin" ucap Mou meronta-ronta.


Gemilang justru mengeratkan pelukannya, tidak peduli dengan protes Mou.


Dan akhirnya Mou kalah, ia menikmati pelukan itu, dada yang begitu nyaman untuk bersandar, aroma maskulin yang memabukkan.


kalah sudah benar-benar kalah. . .


"aku kangen sama kamu" ucap Gemilang dengan serius sembari mengecup puncak kepala Mou.


Mou membalas pelukan itu dengan erat, tidak bisa dipungkiri ia juga merindukan sosok laki-laki ini.


"maaf ya, waktu itu Ilona lagi sakit, aku cuma bantuin aja karena dia hampir pingsan waktu itu di lobby" ucap Gemilang mengelus rambut halus Mou.


"aku beneran nggak punya maksud apa-apa, cuma niat bantu aja, dan seharusnya waktu itu aku ngejar kamu, karena kamu lagi sakit dan kamu lebih penting bagi aku" ucap Gemilang yang membuat mata Mou memanas.


Kenapa manis sekali mulut laki-laki ini...


"Maaf ya" ucap Gemilang lagi.


Mou tidak menjawab, namun rengkuhan nya pada tubuh berotot Gemilang semakin erat, senang sekali hati Gemilang saat ini.


Itu berarti Mou juga merindukan nya kan?


Gemilang menangkup pipi Mou dengan kedua tangannya, menatap lekat-lekat setiap inchi wajah wanita yang sangat ia rindukan ini "maaf juga aku tidak mengabari mu selama dua hari ini, aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaan ku lebih cepat, sehingga aku juga bisa lebih cepat untuk bertemu denganmu" ucapnya dengan hati yang berdebar.


"Aku kira kamu nggak perduli lagi sama aku" ucap Mou menunduk malu, wajahnya sudah merona saat ini.


Gemilang tersenyum kecil mendengarnya, lalu membawa kembali wajah Mou agar menatapnya, menyelami perasaan satu sama lain, mencari-cari perasaan macam apa untuk dirinya yang berada dalam mata wanita ini.


CUP. .


Satu kecupan manis Gemilang hadiahkan pada pipi Mou yang bersemu merah.


"mana mungkin aku tidak perduli dengan calon istriku"


.


.


.


LIKE KOMEN AND VOTE NYA BANYAKIN DONG BIAR CEPET 1M


LOPEYUALL 💋

__ADS_1


__ADS_2