Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 130 ~ Tawaran


__ADS_3

Monitor detak jantung itu naik turun bersamaan dengan jarum jam yang melaju. Semua mata menatap cemas pada ruangan Ibel, hanya lubang kecil yang memperlihatkan bagaimana wanita itu terbujur lemah di sana.


"Ibel pasti baik-baik saja," ucap Gemilang menenangkan Mou yang terus terisak. Mengusap punggung istrinya yang bergetar, tak kuasa melihat perjuangan Ibel di dalam sana.


Kenapa Tuhan terus membiarkan Ibel untuk kesakitan seperti ini. Sudah dalam jangka waktu tiga tahun lebih, penyakitnya semakin parah. Hidupnya bergantung pada bantuan obat dan juga alat medis.


Sosok laki-laki baru saja datang berjalan cepat menghampiri mereka. "Gimana kondisi Ibel?" Ben menatap penuh tanya pada mereka.


"Doakan saja ya," ucap kakak Ibel mencoba untuk tenang. Sudah beberapa bulan semenjak kepulangan Mou, ibel jarang kambuh. Baru kali ini kambuh dan langsung down.


Menyunggar rambutnya begitu frustrasi. "Juna mana?" tanya Ben lalu duduk bersama mereka.


"Lagi di Jogja katanya," sahut Gemilang yang terus menenangkan Mou.


Mou benar-benar tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh. Dadanya terasa sesak saat membayangkan bagaimana perjuangan Ibel untuk hidup saat ini.


Kamu wanita terkuat yang pernah aku kenal bel. Aku mohon bertahan lebih lama, katamu ingin melihat aku memiliki anak dan akan mengasuhnya.


"Jangan nangis," lirih Gemilang merasa hatinya tersayat saat Mou menangis begitu pilu.


Sosok tinggi mengenakan jubah putih itu baru saja keluar dari ruangan. "Bagaimana keadaan Ibel, Dok?" Ben dengan sigap menghampiri dokter itu.


Menepuk pundak Ben yang terlihat panik. "Masa kritis sudah terlewati, doakan saja semoga cepat sadar."


Semua orang bernapas lega karena itu.


.


.


.


Pukul setengah tiga dini hari Mou dan Gemilang baru saja sampai di rumah. Setelah bersusah payah membujuk Mou untuk pulang, akhirnya wanita itu luluh juga.


Mata sembab Mou terpejam dengan tenang. Seolah air matanya benar-benar terkuras malam ini. Sosok perasa yang berhati lembut memang selalu seperti ini saat hatinya terguncang.


Tidak tega membangunkannya, Gemilang menggendong tubuh Mou menuju kamarnya. Merebahkannya dengan hati-hati, takut wanitanya terbangun.


"Abang," lirih Mou saat tubuh Gemilang hendak menjauh. Tangannya mencengkram erat jaket suaminya.


"Apa?" Gemilang mengecup kening Mou yang setengah sadar.


"Peluk Mou, jangan pergi." Merengkuh tubuh Gemilang dengan mata yang masih terpejam. Laki-laki itu hanya menurut dan segera mendekap erat tubuh istrinya.


"Abang, ibel nggak boleh pergi. Mou nggak punya sahabat selain Ibel." Suara pelan yang menusuk relung hati Gemilang.


"Ibel, baik-baik saja, Sayang." Mengusap-usap rambut Mou hingga kembali ke alam mimpi.


"Sesayang itu ya kamu sama Ibel." Mengecup kening Mou dengan lembut.

__ADS_1


Pantas saja dulu rela mengorbankan cinta kita hanya untuk Ibel...


.


.


.


Siang ini ada kabar membahagiakan. Ibel sudah siuman dan sudah keluar dari ICU.


Mou sudah menginjakkan kakinya pada rumah sakit tempat Ibel di rawat.


Tersenyum hambar saat melihat sosok yang dulunya begitu kuat sekarang hanya berbaring lemah di atas ranjang.


"Bel," membuka pintu dan tersenyum manis.


"Mou," lirih Ibel pelan.


"Sudah mendingan?" tanyanya mengusap bahu Ibel. Tubuh kurus dan pucat itu seperti bukan Ibel, apalagi rambut yang sudah habis tak tersisa karena kejamnya kemoterapi.


Ibel mengangguk, menggenggam tangan sahabatnya. "Sama siapa?" lirihnya tercekat, akhir-akhir ini memang sangat sudah untuk sekadar bersuara.


"Sendiri." Segera duduk dan menatap Ibel. "Aku tahu kamu wanita kuat."


Ibel justru menggeleng. "Ternyata aku lemah, Mou. Sepertinya aku tidak bisa melihat ponakan ku lahir ke dunia nantinya."


Tersenyum kecil dan mencubit pipi Mou. "Aku bertahan semampuku. Lagi pula nanti keponakan ku pasti akan memiliki pipi seperti mu. Yang penting jangan seperti Gemilang," ucapnya terkekeh namun Mou tidak tertawa sama sekali.


"Soalnya nanti kalau mirip bapaknya nggak lucu Mou, yang ada malah galak."


Mou tidak suka melihat Ibel tersenyum padahal raganya tengah kesakitan. "Boleh nggak sih aku peluk kamu, Bel." Merentangkan kedua tangannya dan di sambut hangat oleh Ibel.


Mengusap-usap tubuh kurus Ibel yang entah mengapa begitu dingin. "Kalau sakit bilang, jangan di tahan."


"Nanti kalau udah nggak kuat aku pasti bilang kok." Mengusap air matanya agar Mou tidak melihat kesedihannya.


Mou mengangguk, "sekarang aku harus anterin makan siang sebentar buat Abang. Nanti malam aku usahain buat ke sini lagi ya."


"Nggak usah Mou, pengantin baru ngapain kelayapan di rumah sakit." Tersenyum kecil mengingat hal itu.


"Pokoknya nanti aku kesini, kamu kalo mau di masakin apa-apa telepon saja, biar nanti sekalian."


"Iya," ucap Ibel pasrah karena malas berdebat. "Cepat ke suami kamu gih, nanti kelaparan dia."


"Aku tinggal dulu ya."


Ibel menatap punggung Mou yang berlalu dari sana.


Sekarang, bebanku sudah lepas Mou atas bersatunya kamu dan Gemilang. Jika Tuhan memanggil ku sewaktu-waktu aku sudah sangat siap.

__ADS_1


.


.


.


"Resa Moon!" panggil seseorang di seberang sana saat Mou hendak memasuki mobil.


Mou menoleh pada sumber suara dan mengurungkan niatnya untuk masuk mobil.


"Akhirnya saya bertemu dengan kamu juga," ucap wanita yang terlihat lebih tua darinya mengulurkan tangannya.


Mou menjabat tangan wanita berambut pendek itu dengan kikuk.


"Perkenalkan nama saya Diana Dinata." Tersenyum pada Mou yang malah terdiam.


Mata Mou mengerjap-ngerjap menatap tidak percaya dengan wanita di hadapannya. "Ibu Diana, sutradara film terkenal itu kan?" Menutup mulutnya yang menganga.


Menatap penampilan Diana dari atas sampai bawah. Kemeja dan celana panjang membalut tubuhnya dengan elegan.


"Iya betul, ternyata kamu kenal juga sama saya. Sudah satu bulan ini saya mencari contact kamu tapi susah sekali karena kamu tidak memiliki manajer." Menghela nafas panjangnya di balik senyum manisnya.


"Ada apa ya, Bu. Saya memang tidak berniat memiliki manajer." Terkekeh geli dan mengusap tengkuknya.


Dahi Mou mengernyit saat Diana menyerahkan secarik kartu namanya. "Untung kita ketemu di sini. Jadi, saya mau langsung to the points. Sekarang ini saya berniat untuk menjadikan kamu pemeran utama film yang akan saya sutradarai."


Menyerahkan lagi beberapa lembar kertas. "Kamu bisa baca dulu, nanti kalau minat bisa hubungi saya lagi. Karakter ini sangat cocok denganmu Resa Moon, dunia hiburan benar-benar membutuhkan wanita seperti kamu."


Mou di tambah bingung dengan ini semua. "Saya model loh Bu, bukan artis."


"Iya saya tahu, tetapi saya tahu betul akting kamu yang luar biasa saat syuting video klip di London." Diana melihat jam tangannya.


"Maaf saya buru-buru, kamu boleh membaca dulu tetapi saya sangat menunggu kabar baiknya. Semoga kita bisa menandatangani kontrak kerjasama secepatnya." Menepuk pundak Mou.


"Saatnya berprestasi dalam negeri sendiri. Film ini berpeluang untuk mendapatkan penghargaan di kancah internasional. Dan saya harap kamu orangnya, Resa."


"Ehmmm, saya pikir-pikir dulu saja Bu." Mou tidak tahu harus menjawab apa.


"Iya, kalau begitu saya permisi. Sampai jumpa nanti ya." Tersenyum dengan sumringah dan cerah. Aura positifnya benar-benar membuat orang di sekitarnya menjadi nyaman. Itulah seorang Diana Dinata.


"Main film?" gumam Mou menatap kertas yang berada di tangannya.


.


.


.


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋

__ADS_1


__ADS_2