
"Mau makan apalagi?" tanya Gemilang mengusap sudut bibir Mou yang terkena sisa makanan.
Mou menggeleng dan meraih air mineral miliknya. Tenggorokannya terasa segar saat air dingin itu melintas di sana. "Sudah kenyang Abang."
"Kenapa senyum terus?" tanya Mou saat Gemilang terus menatapnya dengan senyuman sedari tadi.
"Nggak papa sayang, mau aku kupasin apel atau mau alpukat?" Meraih tangan istrinya untuk di kecup.
"Nanti aja, pengen peluk Abang aja boleh?" tanya Mou dengan gemasnya.
Gemilang tak kuasa untuk segera memeluk tubuh istrinya. "Boleh dong, masa nggak boleh."
"Abang..." ucap Mou dengan ragu saat kepalanya sudah bersandar pada dada kokoh milik suaminya.
"Apa sayang?" Mengusap-usap lembut punggung Mou memberi ketenangan.
"Sebenarnya ada yang mau Mou bicarakan. Tadi sebelum di tabrak Mou-"
Mou sedikit terlonjak tatkala pintu dibuka dengan tiba-tiba dan sedikit kasar.
"Mamii, Papii," ucapnya terkejut saat melihat kedua mertuanya tampak khawatir.
"Kenapa nggak telepon dari tadi?" tanya Mila menghampiri mereka yang tengah duduk di sofa. Ia begitu khawatir saat mendapatkan kabar bahwa Mou di tabrak mobil, apalagi Gemilang tidak pulang sampai selarut ini.
"Maaf ya, Mam." Mou hendak berdiri namun di tahan oleh Gemilang. "Jangan banyak gerak dulu," ucap Gemilang penuh perhatian.
Mila segera memeluk tubuh menantunya. "Mana yang sakit?" tanyanya.
"Mou nggak kenapa-kenapa kok, Mam." Mou menjawab dengan senyuman.
"Siapa yang nabrak, sudah kamu urus belum, Gem?" tanya Elang mendudukkan tubuhnya di sana.
"Mou yang salah Pap, soalnya nyebrang nggak lihat-lihat," jawab Mou yang tidak ingin mertuanya tahu tentang Edwin.
"Selamat ya Mam, Pap," ucap Gemilang menyodorkan secarik kertas di meja.
Elang segera meraih kertas itu dan membukanya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat kata positif di sana. "Apa?" ucapnya beralih menatap Mou. "Ja-jadi Mou?"
"Selamat ya sebentar lagi akan di panggil opa sama oma," ucap Gemilang mengecup kening Mou.
Mata Mila membulat sempurna, sontak merebut kertas itu dari Elang. Menutup mulutnya tak percaya dengan hadiah dari Tuhan ini.
"Ya ampun Mou," pekiknya segera memeluk Mou kembali. "Maaf ya Mamii sempat salah paham sama kamu," ucapnya mengusap sudut matanya yang basah karena kabar bahagia ini.
"Salah paham apa?" tanya Mou tak paham.
"Nggak-nggak papa, pokoknya mulai sekarang kamu nggak boleh capek-capek dan kerjain apapun." Mila merasa bersalah karena telah berburuk sangka pada Mou yang selalu bangun siang akhir-akhir ini.
"Gem, tokcer banget kamu." Elang masih tak menyangka akan secepat ini.
Gemilang tidak bisa menyembunyikan senyum dan wajah sumringahnya.
.
.
__ADS_1
.
Siang ini Mou di perbolehkan untuk pulang. Mengingat kondisinya sudah membaik Gemilang menuruti wanita itu yang merengek meminta pulang.
Menggandeng tangan istrinya dan membuka pintu rumah.
"Sudah pulang?" tanya Mila membawa kue berlumur cokelat keju di atasnya.
"Siapa yang ulang tahun, Mam?" tanya Gemilang terheran.
"Buat Mou, tadi Mami WA Mou katanya lagi pengin kue cokelat keju. Ini buatan Mami sendiri loh, jadi aman."
Mou tersenyum kecil melihat itu. Padahal tadi Mila yang memaksa dirinya untuk di buatkan sesuatu.
"Kamar kalian sudah siap," ucap Elang dari seberang sana.
"Oh ya, mulai sekarang kamar kalian Mami pindah di lantai bawah biar aman. Kasihan Mou kalau naik turun terus."
"Kan ada lift Mam," ucap Mou sungkan sendiri.
Gemilang mengangguk, baru terpikir tentang hal itu. "Iya sayang di bawah saja. Biar kalau kamu laper cepat dan lebih aman juga."
"Iya Abang."
Lagi-lagi Mou di buat menganga, kamarnya yang berada di lantai bawah di desain sama persis dengan kamar atas. Jendela terbuka dan menampilkan hijaunya rumput dan pohon di luar sana.
"Suka nggak?" tanya Gemilang.
"Suka kok, ada tambahan aquarium juga ya?" tanya Mou melihat ikan arwana berenang bebas di sana.
"Kalau ikannya di ganti nemo aja gimana?" tanya Mou menoleh. "Kayaknya lebih lucu deh."
"Yang kayak di kartun itu?" Mengecup pipi Mou bertubi-tubi.
"Iya."
"Oke, aku telepon Yohan dulu. Sekalian nanti katanya dia mau kesini."
"Besok-besok aja nggak papa, Bang."
Gemilang segera mengambil ponselnya tanpa memperdulikan ucapan Mou.
Mou terus menguap ketika melihat Gemilang sibuk melakukan panggilan. Segera berbaring di sofa berbantal lengannya.
"Sayang, tidur di ranjang gih." Gemilang mendekati Mou yang matanya sudah mengantuk.
"Memangnya boleh?" tanya Mou menatap Gemilang.
"Boleh dong."
"Kata Abang Mami nggak suka kalau Mou tidur terus." Masih memaksa matanya untuk terbuka.
"Mami salah paham sayang. Nggak papa kok malah kamu di suruh tidur dan nggak boleh ngapa-ngapain. Sini aku gendong." Gemilang mengangkat tubuh Mou begitu saja dan membaringkannya di ranjang.
"Abang disini dulu ya, nanti kalau Mou sudah tidur baru boleh pergi." Mata wanita itu sudah tertutup bahkan.
__ADS_1
"Iya sayang."
.
.
.
"Sudah bangun?" tanya Mila saat Mou baru saja menginjakkan kakinya di dapur.
"Sudah Mam," jawab Mou menatap penuh tanya dengan hidangan begitu banyaknya di meja.
"Mau makan?" tawar Mila.
Mou menggeleng, "nanti saja Mam, biar Mou bantu ya."
Mila segera mendekati Mou, menarik tangannya agar duduk di kursi. "Cukup duduk, biar bibi saja yang kerjakan. Mami ambilkan rujak ya."
Tanpa menunggu jawaban Mou, Mila sudah menyodorkan sepiring rujak buah yang begitu segar dan menggoda.
"Makasih, Mam."
"Sama-sama," sahut Mila segera duduk di sebelah Mou.
"Aunty!" teriak gadis kecil berlarian menuju mereka.
"Ara," ucap Mou tersenyum melihat ponakannya yang langsung memeluknya. "Kamu sudah dari tadi?"
"Sudah dong," sahut Jen menghampiri mereka di susul Roman dan Sam di belakangnya.
Mata Mou berbinar melihat semua orang datang kesini. "Papa mana?"
Belum sempat Roman menjawab, laki-laki paruh baya itu sudah muncul dibalik pintu dengan sebuket bunga lily di tangannya.
"Selamat ya sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi ibu." Toro segera memeluk tubuh putrinya.
"Makasih, Pa." Mou malah terharu dengan kebahagiaan ini.
"Kamu pasti akan jadi ibu yang hebat seperti Mama mu." Mengusap pipi Mou yang basah.
Mou mengangguk kembali memeluk Toro.
Andai Mama di sini, pasti beliau juga akan sesenang ini kan mendengar kabar bahagia dan akan segera memiliki cucu. Mama belum mengajari Mou bagaimana menjadi ibu sehebat Mama.
"Jangan nangis dek," ucap Roman mengusap punggung Mou yang bergetar.
"Mama pasti senang sekali sebentar lagi anak manjanya akan menjadi ibu," ucap Sam terkekeh namun tidak matanya yang sudah berkilat.
.
.
.
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋
__ADS_1