
"Kamu kok bisa kenal sama Gemilang?" tanya Sam sembari menghempaskan tubuhnya pada sofa.
Mou ikut duduk disebelah Sam dan menyandarkan tubuhnya "dia temennya Ibel bang" jawab Mou.
Sam tampak mengangguk, ia tahu karena tadi juga sempat bertemu dengan Ibel dan Gemilang.
"Mou percaya Abang tidak benar-benar benci sama Gemilang" ucap Mou menoleh.
"masih sulit dek" ucap Sam dengan helaan nafasnya.
"iya-iya bang, tapi Mou yakin suatu saat kalian akan bisa bersahabat lagi" ucap Mou kemudian melepaskan sepatu kets yang terasa tidak nyaman di kakinya.
"kamu mau bujuk Abang, supaya Abang ngerestuin kalian berdua" ucap Sam.
Mou tersenyum karena itu "menurut Mou, restu dari Abang sangat mudah, yang sulit itu perihal takdir".
Sam berdecak "jangan percaya diri dulu, Abang kan bilang nggak suka kalo kamu sama Gemilang".
"mulut Abang memang bilang kayak gitu, tapi hati Abang kayaknya enggak deh" jawab Mou tersenyum mengejek.
"soalnya kan kalo Abang nggak suka pasti main pukul-pukul aja, kayak dulu waktu Mou sama Bara" ucap Mou mengingatkan.
Sam menggaruk tengkuknya karena merasa tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya.
"Abang mau mandi dulu" ucap Sam kemudian berlalu, Mou hanya menggelengkan kepalanya melihat itu. Setelah Mou pikir-pikir abangnya dan Gemilang itu hanya sama-sama keras kepala dan gengsi saja.
.
.
.
Mou yang masih terpejam, mendengus malas ketika mendengar suara ponsel berdering nyaring. Ia benar-benar tidak pernah bisa menikmati hari libur sepertinya.
Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini di akhir pekan.
Mou mengerjapkan matanya perlahan. Dengan mata yang masih tertutup Mou meraba-raba nakas untuk mencari benda pipih itu.
"Halo" ucap Mou dengan suara seraknya setelah berhasil menemukan barang itu.
"apa!" ucapnya terkejut, bahkan ia langsung bangun dari tidurnya.
"iya-iya, aku segera kesana" ucap Mou segera menyibakkan selimutnya dan bergegas mandi.
"Ada apa dek?" tanya Sam yang sedang menyesap kopinya, ia terheran-heran ketika melihat Mou terburu-buru memakai sepatunya.
"bang, Ibel sakit, Mou harus kesana sekarang" ucap Mou tergesa-gesa.
"kemana?" tanya Sam menghampiri Mou.
"ke rumah sakit, dia opname".
Sam menarik tangan Mou, "makan dulu, abis ini Abang anter kamu kesana, sekalian mau survei tempat kerja" ucap Sam kemudian mendudukkan Mou di meja makan.
"Tapi bang-".
"Makan dulu dek, lihat badan kamu nggak keurus gini, pokoknya mulai sekarang Abang bakal mastiin kamu makan empat sehat lima sempurna".
Cerewet sekali abangnya ini.
Mou hanya menurut, lalu memakan roti bakar yang berisikan telur setengah matang didalamnya.
Terasa lembut, lumer dan begitu nikmat karena dibuatnya oleh orang tersayang "makasih Abang" ucap Mou tersenyum kecut "seharusnya kan Mou yang buatin".
"nggak papa dek sekali-kali, masak kamu terus yang masak buat Abang" ucap Sam karena Mou sebenarnya tidak suka memakan masakannya sendiri, itu akan mengingatkan dirinya pada mendiang Mama nya karena rasanya begitu sama.
__ADS_1
.
.
.
Mou berjalan tergesa-gesa di lorong rumah sakit, sedangkan Sam bertemu dengan dokter dirumah sakit ini yang tak lain adalah temannya.
Mou mencari-cari ruangan Ibel yang sudah ia tanyakan pada resepsionis.
Namun ia sedikit terkejut ketika melihat sosok yang tak asing duduk didepan ruangan itu.
"Exel" panggil Mou.
Exel menoleh lalu tersenyum pada Mou "Eh, Mou" ucapnya lalu berdiri.
"dokter nyuruh diluar dulu, katanya biarin Ibel istirahat sebentar, kasih dia waktu sendiri dulu" ucap Exel.
Mou nampak mengangguk sembari menatap ruangan Ibel dengan cemas, tadi Ibel sendiri yang menghubungi nya bahwa ia akan opname.
Mungkin kisah hidup Ibel tidak jauh darinya, tanpa ibu disampingnya juga saudaranya laki-laki semua, tapi bedanya ibu Ibel telah menikah lagi.
"duduk dulu Mou" ucap Exel mempersilahkan.
"iya" ucap Mou segera duduk bersebelahan dengan Exel.
"kok kamu bisa ada disini" ucap Mou menoleh.
"tadi ngambil obat buat Mommy aku, terus nggak sengaja lihat Ibel yang ternyata sendiri".
Terdengar suara derap langkah kaki yang membuat Mou dan Axel menoleh, Gemilang dan Juna berjalan menuju mereka.
Gemilang menatap tidak suka pada Exel yang terus tersenyum pada Mou.
"Eh kalian juga udah disini" ucap Juna .
Tatapan Gemilang berubah menjadi lembut ketika mendengar panggilan itu "ada apa?" ucapnya mengusap rambut Mou.
Exel dan Juna yang tak paham hanya saling berpandangan dan mengangkat bahunya.
Gemilang kemudian duduk disebelah Mou.
"Aku takut Ibel kenapa-kenapa" ucapnya mengadu, ia tidak bisa menahan rasa khawatirnya.
Gemilang mengusap lembut pipi Mou "paling cuma kecapean aja" ucapnya menenangkan.
Mou menggeleng "akhir-akhir ini dia itu sering pusing katanya, aku suruh ke dokter nggak mau".
"abis ini kita temui dokter ya" ucap Gemilang dengan lembut.
"kata dokter hasil lab nya keluar satu hari lagi" ucap Exel bersuara.
Setelah beberapa saat mereka semua memasuki ruangan, Ibel tetap tersenyum pada mereka meskipun bibirnya begitu pucat.
"bel" ucap Mou segera menghampirinya.
"gue nggak papa Mou" sahut Ibel yang sudah tahu akan kecemasan sahabatnya.
"dari kemaren disuruh periksa ngeyel aja , jadinya tumbang gini kan" ucap Mou khawatir.
"bentar lagi juga sembuh" ucap Ibel kemudian beralih menatap tiga laki-laki yang berada dibelakang Mou.
Namun tetap saja pandangannya hanya fokus pada laki-laki yang mengenakan Hoodie putih itu.
Laki-laki itu terlihat tampan dan tetap keren, tapi sayangnya ia tidak pernah khawatir pada Ibel.
__ADS_1
"sakit apa sih Lo?" tanya Juna.
"cuma pusing" jawab Ibel.
"cuma pusing kok dirawat" ejek Exel.
"kangen rumah sakit aja, dokternya ganteng-ganteng" ucap Ibel nyengir.
"mana ada kayak gitu" ucap Juna kemudian duduk disofa.
"Ben mana?" tanya Exel.
"dia lagi keluar kota sama Raisa" sahut Gemilang.
"bel, makan ya aku suapin" ucap Mou yang sudah duduk disebelah Ibel.
"tadi udah makan sebelum berangkat kesini, jadi masih kenyang" ucap Ibel.
Mou hanya mengangguk...
Waktu sudah menunjukkan pukul siang hari, mereka masih setia menemani Ibel sembari menonton televisi yang berada disana, dan sesekali bercanda bersama.
Jadi begini rasanya punya sahabat
Mou tidak pernah merasakan persahabatan dengan laki-laki, kecuali dengan teman-teman Bara dulu.
Mungkin teman memang banyak, tapi sahabat tetap berbeda.
"Mou ponsel Lo bunyi" ucap Ibel menunjuk nakas.
Mou yang baru saja keluar dari kamar mandi segera mengambil ponselnya, dan mengangkat panggilan dari bang Roman.
"halo bang"
"dek, cepetan ke rumah Abang sekarang juga ya" ucap Roman terlihat panik diseberang sana.
"ada apa?" tanya Mou bingung.
"Sam sama papa ada disini".
Deg!
"mereka nggak bertengkar kan?" tanya Mou.
"kesini dulu saja dek, kita bicarakan semuanya, mungkin cuma kamu yang bisa menenangkan Sam".
"i-iya bang".
"bel, aku pamit dulu ya sebentar nanti malem aku kesini lagi" ucap Mou dengan buru-buru meraih tasnya.
"ada apa Mou?" tanya Ibel.
"udah, nanti aku jelasin" ucap Mou beralih menatap ketiga laki-laki yang berada di sofa "semuanya aku pamit dulu ya, titip Ibel".
Mou langsung pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban mereka terlebih dahulu.
"ada apa bel?" tanya Gemilang beranjak.
"biasa masalah keluarga, kayaknya abangnya Mou yang kemaren ketemu sama papa nya, dan akan terjadi perang dunia biasanya" ucap Ibel tersenyum kecut.
.
.
.
__ADS_1
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS, SAMBIL NINGGUIN NOVEL INI UP BACA DULU SAJA "BARTENDER CANTIK KU".
LOPEYUALL 💋