
Mereka terus bercanda ria melemparkan senyuman satu sama lain, diiringi alunan musik di kafe itu.
"enak?" tanya Gemilang ketika Mou dengan lahap memakan wafel nya.
Mou mengangguk "enak banget" jawabnya dengan mulut penuh.
Gemilang mengusap rambut Mou dengan lembut "pelan-pelan makannya" ucapnya yang membuat Mou mengangguk malu.
"abis ini kita kemana?" tanya Mou ketika sudah berhasil menandaskan semua makanannya.
"kamu mau kemana?" ucap Gemilang sembari mengambil dompet dari sakunya, lalu menyerahkan ATM nya pada pelayanan yang sudah menunggu disana.
"kemana aja" ucap Mou tersenyum.
"mau dibeliin apa gitu?" tawar Gemilang yang membuat Mou menggeleng.
"Gem, aku nggak butuh semua itu" ucap Mou dengan serius, laki-laki ini pikir sebuah kebahagiaan bisa dibeli dengan barang apa?.
"iya-iya, kita bioskop atau taman" tawar Gemilang.
"ke taman aja" ucap Mou riang.
Gemilang mengangguk dan tersenyum.
Sesederhana itu?
.
.
.
"pegangan dong" ucap Gemilang meraih kedua tangan Mou agar melingkar pada perutnya ketika sudah menaiki motor.
Mou melingkarkan tangannya dengan ragu pada perut Gemilang.
Gemilang tersenyum ketika merasakan rengkuhan hangat itu, lalu ia melajukan motornya dengan pelan.
"kayaknya gerimis deh" ucap Gemilang mengadahkan tangannya ketika mereka berada di lampu merah.
Mou mendongak keatas, menatap langit hitam diatas sana "bagus dong bisa hujan-hujanan" ucapnya ikut mengadahkan tangannya.
"jangan, nanti kamu masuk angin" ucap Gemilang khawatir.
"enggak kok Gem, dari dulu aku suka hujan-hujanan" ucap Mou.
"tapi kan Mou--"
Mou mengerucutkan bibirnya merajuk dan Gemilang bisa melihat itu pada kaca spion nya.
Akhirnya Gemilang kalah "iya-iya" ucapnya yang membuat Mou segera memeluk Gemilang dengan erat.
"makasih" ucapnya heboh, seolah Gemilang memberikan sebuah bintang diatas sana padanya.
"Tapi pakai dulu jaket aku" ucap Gemilang melepaskan jaketnya dan memberikan nya pada Mou, karena rintik hujan sudah mulai lebat.
"kamu nggak papa?" tanya Mou yang sudah mengenakan jaket Gemilang yang terasa nyaman, aroma khas laki-laki itu seolah menempel padanya.
"santai" ucap Gemilang melajukan motornya.
Mou memeluk Gemilang dengan erat sembari menikmati rintik hujan, bibir keduanya tak henti-hentinya melengkung.
Mou sandarkan dagunya pada pundak kokoh yang nyaman itu, memejamkan matanya seolah benar-benar menikmati malam yang indah bersama laki-laki spesial ini.
Gemilang mendekap tangan Mou, memberinya kehangatan dalam dinginnya hujan.
"Gem bahaya nyetir satu tangan" peringat Mou.
"lebih bahaya lagi kalau tanganmu membeku" candanya.
"isssshhhh, apaan coba" ucap Mou dengan pipi yang bersemu namun tak nampak karena guyuran hujan yang semakin deras.
__ADS_1
.
.
.
"yakin nggak mau mampir dulu?" tanya Mou yang sudah menggigil, saat ini mereka sudah berada di lobi Munaj Hotel's.
"udah kamu masuk aja, mandi, terus tidur. . . lebih baik aku pulang aja ini udah malem banget" ucap Gemilang mengusap wajah Mou yang sudah basah.
Mou mengangguk, lalu melepaskan jaket Gemilang "pakek, biar nggak terlalu dingin" ucapnya padahal Gemilang sudah basah kuyup.
"iya udah sana cepet masuk, dingin" ucap Gemilang.
Mou mengangguk lalu melangkahkan kakinya, namun baru beberapa langkah ia berbalik dan berlari kecil menuju Gemilang.
"ada yang ketinggalan?" tanya Gemilang bingung.
"ada" ucap Mou yang nampak gelisah.
"apa?" tanya Gemilang.
Cup. .
Satu kecupan lembut Mou hadiahkan pada pipi Gemilang "thanks for today, hati-hati" ucap Mou lalu berlari kecil meninggalkan Gemilang yang masih mematung.
Satu kecupan itu seolah membuat tubuh Gemilang mendidih, bahkan suhu tubuhnya menjadi panas dengan baju yang basah kuyup ini.
Bibirnya terus melengkung sempurna.
Manis sekali.
Setelah Mou tak lagi terlihat Gemilang memutuskan untuk pulang, menembus rintikan hujan dengan hati yang berdebar.
.
.
.
Namun saat ia melewati ruang tengah, terlihat Mamii Papii nya sedang bermesraan disana. Gemilang hanya mendengus kesal dan melewatinya.
"dari mana Gem?" tanya Mila yang membuat Gemilang menghentikan langkahnya dan menoleh, ia sangat heran pada putranya yang memilih hujan-hujanan.
"kencan" ucapnya singkat dengan senyuman dibibir nya.
Elang dan Mila sontak saling berpandangan lalu tertawa "anak kamu masih normal mas" ucap Mila heboh.
"awas aja kalo sampai gagal" ucap Elang tersenyum kecil "Papii sudah menyiapkan sedikit kejutan untuk mu jika kamu gagal".
Gemilang menatap Papii nya dengan malas "Jangan siapin jodoh-jodoh lagi buat aku Pap, kali ini aku pasti berhasil" ucap Gemilang yakin.
"awas aja kamu sampai nangis bombay gara-gara perempuan" peringat Elang.
"mana ada" sahut Gemilang.
"Gem, kalo kamu siap Jatuh cinta itu artinya kamu juga harus siap patah hati" ucap Mila menasehati.
Bukannya mendengarkan Gemilang malah tersenyum mengejek "Mamii curhat" ucapnya yang membuat Mila hendak melemparkan bantal padanya.
Namun Gemilang segera berlari menuju kamarnya.
"anak kamu tuh mas" ucap Mila kesal.
"kalo pas lagi gitu emang mirip aku" ucap Elang tersenyum "tapi kalo lagi marahin orang di kantor persis banget kayak kamu yang" lanjutnya mencubit gemas hidung istrinya.
.
.
.
__ADS_1
Gemilang mengusap rambut nya yang masih basah dengan handuk kecil nya, lalu memakai kaos oblong nya.
Dering telepon yang begitu nyaring membuatnya menoleh kesana-kemari mencari benda itu, dan sebenarnya itu bukan nada dering miliknya.
Gemilang menuju sumber suara yang ternyata berasal dari jaketnya yang tadi ia kenakan.
Ternyata ponsel Mou terbawa tadi.
Banyak notifikasi yang menampilkan panggilan tak terjawab disana, meskipun hanya nama Papa yang tertera disana namun sudah tujuh belas panggilan tak terjawab.
Entah mengapa itu membuat Gemilang sedikit tenang, karena tidak ada laki-laki yang menghubungi Mou.
Tapi sayangnya ponsel itu diberi password, tapi Gemilang juga tidak segila itu berani melihat privasi Mou.
Satu notifikasi WhatsApp membuat Gemilang tercengang.
Papa : Mou papa ingin segera mempertemukan kamu dengan laki-laki yang akan menjadi suami mu.
Satu tamparan keras bagi Gemilang, bahkan ia baru memulai hubungan yang benar dengan Mou, kenapa Papa nya begitu niat menjodohkan Mou.
Pokoknya ia harus segera bertindak!.
.
.
.
Sudah seminggu ini hubungan Gemilang dan Mou semakin dekat, menyempatkan untuk hangout bersama sepulang kerja, pokoknya keduanya seperti dimabuk cinta.
Gemilang seolah melupakan tentang Papa Mou, karena Mou terus beralasan ketika Gemilang bertanya tentang Papa nya.
Gemilang memasuki ruangan Ben, senyuman manis langsung ia lemparkan pada Mou yang tengah sibuk membereskan meja kerjanya.
"mau langsung pulang?" tanya Gemilang tanpa memperdulikan Ben yang nampaknya menatapnya dengan sinis.
"iya pak" jawab Mou sopan.
"bareng kan?" tanya Gemilang memastikan.
"ehmmm. . . kayaknya nggak bisa deh, aku udah dijemput" ucap Mou buru-buru menaruh ponselnya pada tasnya.
"yaudah hati-hati, kalau begitu" ucap Gemilang lembut.
Mou tersenyum "iya pak bos, duluan ya" ucapnya berpamitan dengan Gemilang dan Ben.
"Gue perhatiin ada yang aneh sama Mou" ucap Ben tersenyum jahil pada Gemilang "dia terus tersenyum hari ini".
"itukan hal yang wajar" sahut Gemilang santai.
"tapi dia nggak pernah buru-buru pulang tuh, apalagi sampai ijin pulang lebih cepat" ucap Ben menatap jam tangan nya.
"iya juga ya" ucap Gemilang tanpa sadar "dia juga terus mainin ponselnya dari tadi siang" lanjutnya.
"jangan-jangan dia punya janji sama orang, atau nggak yang jemput malah itu orangnya, yang mau dijodohin sama Mou" ucap Ben mengompori.
"ikut gue!" ucap Gemilang lalu melangkah pergi begitu saja.
Sedangkan Mou yang sudah berada di lobby tampak menoleh kesana kemari untuk mencari seseorang.
"cewek" panggil seseorang yang sangat Mou kenali, Mou lalu menoleh dan berhamburan kepelukan nya.
Gemilang dan Ben hanya menatap penuh tanya pada Mou dari kejauhan.
"Loh, Gem itukan-" ucap Ben terkejut.
.
.
.
__ADS_1
SIAPA YA HAHAHAHHA?
TERUS LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS SEMAKIN BANYAK SEMAKIN BAGUS WKWK 💋