
Langkah Mou tergesa-gesa ketika menuruni tangga.
"Nona, ada apa?" tanya Bi Eti yang begitu terkejut melihat Mou berlarian menuruni tangga.
"Papa mana Bi?, kenapa Papa tidak menyuruh Gemilang untuk masuk". Buru-buru mencari payung yang biasanya terletak di bawah tangga.
"Bapak ada urusan mendadak nona. Pak Ferdi, teman bapak mengalami kecelakaan. Tadi bapak buru-buru ke rumah sakit". Bi Eti sampai bingung memperhatikan Mou yang begitu panik.
"Kalau laki-laki yang diluar tadi sudah Bibi suruh masuk tidak mau. Katanya mau menunggu nona saja".
Mou terdiam, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu. Membukanya perlahan, ia menghela nafasnya ketika melihat laki-laki itu masih berdiri kokoh disana.
Membuka payungnya, kemudian menghampirinya, "Ayo masuk" ucap Mou dingin namun sebenarnya penuh perhatian.
Gemilang menuruti saja kata-kata Mou, dan mengikuti langkah kaki Mou.
Namun Mou sedikit tersentak ketika Gemilang tiba-tiba merengkuh tubuhnya dari belakang. Tubuhnya sudah sedingin es yang beku.
"Mou kita bicarakan baik-baik ya, aku janji tidak akan membentak mu seperti tadi lagi". Tentu saja Gemilang menyesal, karena telah membentak dan melukai hati wanita ini dengan kata-katanya.
"Masuk dulu" ucap Mou melepaskan rengkuhan itu.
Gemilang tersenyum kecil, melihat cincin yang ia berikan masih melingkar pada jari manis Mou.
Bi Eti menghampiri mereka "Nona, saya sudah menyiapkan pakaian di kamar nona".
Dahi Mou sedikit berkerut ketika Bibi malah menaruh pakaian untuk Gemilang di kamarnya "Iya Bi, bikinin teh hangat saja" jawab Mou kemudian.
"Sudah nona, saya juga sudah menyiapkan makan untuk tuan" jawab Bi Eti dan Mou segera mengangguk.
Mengajak Gemilang menuju kamarnya, Gemilang tampak memandangi kamar Mou yang berdekorasi cantik ini.
"Oh, jadi kamu suka boneka?" tanya nya ketika melihat berbagai jenis boneka, bahkan seperti koleksi berjejer di rak. "Kenapa nggak bilang".
__ADS_1
Tanpa memperdulikan kata-kata laki-laki itu, Mou menyerahkan handuk untuk Gemilang "Cepat mandi sana" ucapnya penuh perintah.
Gemilang hanya menurut karena tubuhnya juga sudah membeku sedari tadi.
Sedangkan diluar kamar Bi Eti tersenyum bersama Toro. "Apa tidak apa-apa pak?" tanya bi Eti.
"Tidak papa Bi, sepertinya masalah mereka cukup serius, dan saya yakin Mou sakit karena itu. Jadi, biarkan mereka menyelesaikan masalah nya".
"Gemilang tidak berbahaya" ucap Toro yang mengerti kekhawatiran Bi Eti. "Ya kalaupun mereka macam-macam, tinggal nikahkan saja" Toro terkekeh seraya menyerahkan kunci kamar itu pada Bi Eti.
"Besok pagi saja bukakan pintu" ucapnya lalu melangkah pergi.
.
.
.
Mou tak berkedip saat melihatnya, namun buru-buru mengalihkan pandangannya ketika Gemilang menoleh padanya.
Senyuman kecil tersungging di bibir Gemilang, seharusnya tadi ia tidak usah memakai baju saja. Lagipula, ini pasti baju Sam musuh bebuyutan nya.
"Kamu makan dulu saja" ucap Mou yang tengah duduk di sofa. Secangkir teh, dan sepiring nasi dengan lauk pauk, sudah tersaji disana.
Gemilang menurut, duduk dihadapan Mou dan segera mengisi perutnya. Sebenarnya ia sangat lapar, karena tidak memakan apapun sejak siang tadi.
Namun ia mengerutkan keningnya ketika Mou tiba-tiba mendekat padanya. Mengambil handuk kecil yang berada di pundaknya. Lalu mengusap-usap rambutnya yang masih basah.
"Ini belum kering" ucap Mou yang membuat Gemilang tersenyum. Bagaimana bisa Gemilang melepaskan wanita yang penuh perhatian seperti ini.
Mereka tak berbicara apapun sampai nasi Gemilang tandas, lalu meneguk teh panas yang menghangatkan sekujur tubuhnya.
"Kita bicara besok pagi saja, kamu tidur di kamar bang Sam dulu" ucap Mou seraya melangkahkan kakinya menuju pintu.
__ADS_1
Namun sedikit tersentak ketika pintu itu tidak bisa dibuka. Berkali-kali Mou mencoba membuka pintu, menggedor pintu dan memanggil Bi Eti.
"Aku tidur disini saja" ucap Gemilang yang membuat Mou menoleh.
"Mana bisa seperti itu" Mou menelan ludahnya kasar ketika Gemilang terus mendekat padanya.
"Aku pikir, kita sudah siap memiliki anak" Sudut bibir Gemilang terangkat, melihat wajah panik Mou.
"Gem, jangan macam-macam!"
"Gem" protes Mou ketika Gemilang malah memeluknya dengan erat.
"Aku kedinginan Mouresa" Benar, Mou merasa tubuh Gemilang begitu dingin. Mungkin karena terlalu lama ia hujan-hujanan.
"Lepaskan aku, biar aku ambilkan jaket".
"Gem!" geram Mou sekali lagi, ketika Gemilang tidak melepaskan pelukannya.
Menghela nafas panjangnya Gemilang segera melepaskan rengkuhannya. Mengikuti langkah kaki Mou menuju lemari yang berwarna putih dengan kaca besar itu.
Mou tampak memilihkan jaket yang pas untuk Gemilang. Lalu menoleh saat Gemilang tiba-tiba mengambil jaket Hoodie berwarna hitam dengan inisial GK belakangnya.
"Kamu masih menyimpannya ternyata" ucap Gemilang menenteng jaket itu. Bertahun-tahun lamanya, ternyata masih bagus.
Mou membulatkan matanya pada Gemilang "Maksud kamu?" ucapnya terjeda "Nggak, nggak mungkin" Mou menggelengkan kepalanya dengan jantung yang berdegup.
.
.
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋
__ADS_1