Gemilang Ku

Gemilang Ku
97 ~ Meluapkan


__ADS_3

Suara hentakan kaki mungil membuat Mila dan Mou menoleh ke sumber suara.


"Aunty!" teriak Ara sembari mengadahkan kedua tangan mungilnya. Ponakannya satu ini memang begitu manja pada Mou.


Mila tersenyum melihat kedekatan mereka.


Mou segera menangkap tubuh kecil itu, lalu menggendong nya. Tak lupa memberi hadiah kecupan bertubi-tubi di pipi bulat dan empuk itu.


"Ara sama siapa?" tanya Mou ketika tak mendapati siapapun disana, namun matanya membulat sempurna ketika Gemilang muncul dibalik pintu.


"Cama uncle."


Ara memeluk leher Mou dengan erat, matanya tiba-tiba menjadi sayu dan terus menguap.


"Ayo masuk kedalam saja." Ajak Mila pada dua manusia yang terus berpandangan namun tetap membisu.


Mou segera mengikuti langkah kaki Mila sembari menepuk-nepuk punggung kecil Ara agar terlelap.


Disaat Gemilang menatapnya tanpa ekspresi seperti ini, jantungnya bagai dihujam begitu keras.


Di ruang keluarga sudah ada Elang, Roman, Jen dan juga Sam. Mereka tengah berbincang-bincang hangat sembari menonton televisi. Beberapa makanan ringan sudah tersaji di atas meja.


"Kenapa nggak bilang kalau mau kesini dek?" Tanya Roman menatap Mou yang baru saja datang.


"Tadi sambil ke toko buku sebentar, Bang." Sam yang menjawab pertanyaan itu. Tahu betul adiknya sedang bingung dengan situasi ini.


"Tuh kan, baru gini aja udah tidur lagi kalo di gendong sama aunty nya." Jen tersenyum lebar melihat putri kecilnya sudah terlelap dengan posisi memeluk Mou.


"Tapi kalau sama uncle Sam bawaannya pipis terus." Roman tertawa renyah sembari melihat kearah Sam yang raut wajahnya begitu serius.


"Yang penting kan nyaman." Sam berucap sembari memasukkan sepotong kentang goreng, bertabur bon cabe. Melilit lidahnya begitu nikmat.


Jen beranjak menghampiri Mou. "Biar dia tidur di kamar saja Mou." Mengambil alih Ara dari gendongan Mou dan segera melangkahkan kaki dari sana.


Sedangkan Mou dengan kikuk duduk di sebelah Gemilang. Satu-satunya kursi yang paling dekat dengan dirinya.


"Kamu kalau mau kesini telpon saja Mou. Biar Gemilang yang jemput." Elang berkata dengan santainya, tidak tahu saja Gemilang menatap Mou seolah ingin menelan dirinya hidup-hidup.

__ADS_1


"Iya Pap," jawab Mou begitu sungkan. Menautkan jemari tangan, karena merasa gugup.


"Kita semua keluarga. Meskipun hubungan kalian berdua berakhir, kamu tetap anak Papii. Anggap saja kamu adiknya Gemilang." Mou dan Gemilang saling berpandangan mendengar hal itu, namun segera memutus tatapan mata yang bisa mengoyak seluruh jiwanya.


"Pap," gerutu Gemilang dengan suara pelan.


"Memangnya Mou tidak bisa naik mobil ya." Tanya Mila. "Selama ini Mamii nggak pernah lihat Mou nyetir sendiri."


Mou tersenyum malu menatap Mila. "Sebenarnya bisa kok Mam, cuma..."


"Cuma apa sayang?" Mila menunggu jawaban Mou.


"Nggak boleh sama..." Mou melirik dua abangnya yang saling berpandangan.


"Jangan harap Abang kasih ijin ya Mou." Wajah Roman nampak dingin ketika mengatakannya.


"Mending kalau kemana-mana Abang yang antar." Imbuh Sam penuh penekanan.


"Kenapa sih," ucap Mila yang bingung melihat mereka berdua begitu posesif.


Mendengus kesal Roman menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Tiga kali menabrak pohon, dua kali keluar dari trotoar. Untung tidak ada korban jiwa."


Sam menggeleng lemah, "kamu benar-benar tidak ada bakat nyetir Mou." Jantungnya bagai diremas keras ketika melihat Mou mengemudi.


Gemilang menahan tawanya karena hal itu. Berdehem sejenak agar tidak kelepasan.


"Minta antar saja Mou kalau kemana-mana, jangan sendirian. Anak gadis memang harus dijaga." Elang tersenyum lembut pada Mou.


Mou membalasnya dengan senyuman kecil. Bahkan selama ini tiga laki-laki yang selalu menjaganya. Papa, bang Roman, dan bang Sam yang begitu posesif.


Semua orang tampak meninggalkan ruang keluarga silih berganti. Menyisakan dua manusia yang masih membisu satu sama lain. Hawa mencekam tiba-tiba memenuhi seisi ruangan. Seperti tidak menyisakan udara untuk sekedar bernafas.


Mereka semua memang telah menyepakati, bahwa Gemilang dan Mou perlu berbicara empat mata. Agar kedepannya tidak ada rasa canggung ataupun dendam diantara keduanya.


Mou melepaskan benda yang melilit jarinya, meletakkan pada meja kaca.


Tuk..

__ADS_1


Berlian itu tanda bukti bahwa hati Gemilang sepenuhnya milik wanita itu sebelumnya.


"Mou tahu Abang mungkin sudah membuang cincin Abang. Tapi karena ini dari Abang, Mou harus mengembalikannya seperti sedia kala."


Mou berucap tanpa menatap Gemilang, hanya tatapan kosong pada cincin tersebut. Bahkan sejak malam ia ke apartemen Gemilang, Mou sudah tidak melihat cincin itu melingkar dijari Gemilang lagi.


"Buang saja, untuk apa juga. Sudah tidak berguna." Kalimat sepele yang begitu menyayat hati.


Mou mengangguk lemah. Begitu paham kecewanya Gemilang atas dirinya. Memberanikan diri untuk menoleh pada Gemilang yang berada disampingnya.


"Baiklah, aku simpan saja untuk kenang-kenangan." Mou mengambilnya lagi, namun tidak mengenakannya.


"Aku mohon, jangan menyiksa dirimu sendiri hanya karena aku. Hanya karena aku yang jahat ini." Mata Mou berkaca-kaca, laki-laki itu tak meliriknya sedikitpun.


"Siapa bilang! Jangan terlalu percaya diri." Rahang Gemilang mengeras, dan tak berani menatap Mou.


"Kalau begitu kenapa kamu mabuk-mabukan setiap malam?" Mou mencoba menepis air mata yang tak tertahankan.


"Bukan urusanmu!"


Tubuh Mou sampai gemetar ketika Gemilang berbicara dengan nada tinggi. Bahkan bisa dikatakan membentak.


Gemilang tersenyum kecil, lalu menoleh pada Mou. "Satu lagi... Jangan merayu orangtuaku agar tetap dekat denganmu."


Mou meremas kuat ujung dressnya, dadanya begitu bergemuruh ketika mendengarkan kalimat menyakitkan dari Gemilang.


Bibir Mou tampak bergetar "Mou nggak pernah kayak gitu. Mou kesini cuma mau minta maaf."


"Aku tidak akan pernah memaafkan mu!" Tikaman tak kasat mata menghunus bertubi-tubi didalam sana. Sama-sama menyakitkan dan tersakiti. Tapi Gemilang ingin saja meluapkan semua kekecewaan dan kemarahannya pada Mou.


Tatapan Gemilang begitu menusuk untuk wanita yang sudah menangis dengan derasnya.


Mendekati wajah Mou yang tampak kacau. "Pergi! , pergi sini!" Dada Gemilang naik turun, Mou sampai memejamkan mata ketika Gemilang terus membentaknya.


"Jangan pernah datang di kehidupan saya lagi!" Satu-satunya kalimat yang tertinggal sebelum Gemilang melangkahkan kaki untuk meninggalkan Mou yang tengah terisak.


MAAF BARU SEMPAT UP, SEMOGA MASIH KEBAGIAN VOTE NYA.

__ADS_1


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋


__ADS_2