
Rumah sederhana dengan dua lantai itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Beberapa manusia berbincang-bincang di teras dengan canda tawanya.
"Abang" ucap Mou begitu khawatir ketika melihat Ben, Juna dan Exel ternyata juga berada disana.
Gemilang memberhentikan mobilnya tepat didepan rumah Ibel "aku yang menyuruh mereka kesini" ucap Gemilang menggenggam tangan Mou.
Jantung Mou berdegup kencang, takut sekali membayangkan yang tidak-tidak.
"Mou takut" ucap Mou dengan raut wajah khawatirnya, memegang erat tangan besar Gemilang.
"Ada aku Mou, aku yang akan berbicara dengan mereka semua. Kamu dibelakang ku saja" ucap Gemilang memberi ketenangan. Ia bukan seorang yang bisa menyembunyikan sesuatu dalam waktu yang lama.
Pandangannya mereka semua tertuju pada Gemilang dan Mou yang baru saja turun dari mobil. Semua tampak bingung dan heran, memang Gemilang menyuruh semuanya kesana untuk menjenguk Ibel, namun Gemilang tidak biasanya bersama dengan Mou.
"Udah daritadi?" sapa Gemilang berbasa-basi.
"lumayan lah, sampai kaya kanebo kering nungguin Lo" omel Ben tak terima, namun mulutnya terus mengunyah keripik kentang dengan lahap.
Mata Ibel tak lepas dari mereka berdua, menatap tidak percaya pada manusia yang terus bersembunyi dibelakang sosok Gemilang.
"Hy" sapa Mou tersenyum kecut pada semuanya.
"Hai cantik" ucap Exel tersenyum pada wanita yang begitu sempurna fisiknya.
"Kok kamu bisa sama Gemilang?" tanya Juna terheran-heran.
Gemilang dan Mou duduk berdampingan.
"Memangnya kenapa nggak bisa?" tanya Gemilang santai "Semuanya bisa dan mungkin" lanjutnya lalu menyilangkan kakinya.
Mou hanya terus menunduk tanpa berani menatap Ibel, tangannya mencengkram erat ujung rok jeans nya.
Tentu Ben sudah tahu apa yang terjadi, karena seorang Gemilang tidak mungkin jika tidak bercerita padanya.
"Eh, nenek lampir kenapa Lo jadi mengheningkan cipta gitu" candanya begitu garing melihat Ibel yang terdiam seketika sejak kedatangan mereka.
"gue mikirin makanan gue yang ludes semenjak Lo datang" ucap Ibel menatap Ben dengan sinis, bahkan lima bungkus snack sudah tercecer di bawahnya.
Ben hanya nyengir kuda mendengar nya.
"Sudah-sudah" ucap Juna yang paham pertengkaran Ibel dan Ben tidak akan ada habisnya "btw kalian belum jawab pertanyaan gue?" ucap Juna kembali menatap Gemilang.
Gemilang berdehem sejenak "ada sesuatu yang harus gue omongin sama kalian" ucapnya menjadikan suasana mendadak berubah menjadi serius.
"Gem, ini bukan kantor ya" ucap Ben merinding ketika Gemilang seperti itu, trauma karena selalu ia yang disalahkan dan dimarahi saat dimeja meeting.
"Lo bisa diem nggak sih nyuk" ucap Exel menonyor kepala Ben.
"iya tuh kunyuk banyak b*cot" ucap Ibel mengompori.
"Sebelumnya, kemarin-kemarin aku sudah bilang sama kalian kan kalo aku mau dijodohkan" ucap Mou tiba-tiba yang membuat mereka terdiam dan menoleh padanya.
"Mou" ucap Gemilang tak paham, kan Gemilang yang akan menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Mou tersenyum pada Gemilang lalu mengangguk, seolah meyakinkan bahwa dia bisa.
"Lo udah ketemu sama cowoknya" ucap Ibel antusias.
Mou meraih air mineral kemasan yang berada di hadapannya meneguknya dengan tergesa-gesa "iya aku sudah bertemu dengan nya beberapa hari yang lalu" lanjutnya.
"Terus gimana cowoknya, baik?, ganteng? atau udah tua" ucap Ben berpura-pura tidak tahu segalanya.
"Tanpa kesengajaan ataupun disengaja aku bersumpah benar-benar tidak menyangka jika laki-laki itu adalah seorang yang sudah aku kenali selama ini".
"itu takdir Mouresa" ucap Gemilang.
"biar aku saja bang" ucap Mou lirih dan begitu kesal Gemilang menyela pembicaraan nya.
"siapa?" tanya Ibel yang bahkan sudah bergetar.
Mou menatap Ibel dengan penuh rasa bersalah "dia adalah laki-laki yang saat ini duduk di sampingku" ucap Mou tanpa kata ragu.
Mereka semua terdiam mencerna kata-kata yang baru saja Mou lontarkan.
Mendadak sesak dan tidak menyangka tentunya, Ibel menatap tidak percaya pada Mou "Gemilang?" tanya nya begitu tidak percaya. Hanya Gemilang yang berada disampingnya.
"iya" jawab Gemilang lantang "aku laki-laki beruntung yang dijodohkan dengan wanita sebaik Mou" ucap Gemilang melemparkan senyum pada Mou.
"Lo kok nikung sih Gem" ucap Exel.
"nggak ada ya, cewe lo dimana-mana nggak usah ngarang" ucap Gemilang kesal.
"tapi gue mau niat serius sama Mou" sahut Exel.
"bisa diem nggak sih" ucapnya kesal, Gemilang terkekeh melihat nya, lalu menghabiskan sosis itu dengan lahap.
"Kok bisa kebetulan banget sih" ucap Juna yang penasaran dengan cerita selanjutnya.
"singkat cerita, ternyata Mou adalah adiknya bang Roman, suami kak Jen" ucap Gemilang yang masih mengunyah.
"apa?" ucap mereka semua seolah tak percaya.
"Gue kebelakang sebentar ya" ucap Ibel yang tidak bisa lebih jauh lagi berpura-pura menjadi baik-baik saja disaat hatinya benar-benar remuk tak tersisa.
"bel" ucap Mou yang hendak beranjak menyusul Ibel.
"gue mau minum obat bentar Mou, Lo disini aja" ucap Ibel tanpa menoleh karena air mata sudah begitu basah di pipinya.
"Udah biarin dia sendiri dulu" ucap Gemilang menggenggam tangan Mou.
"Tapi bang".
"kasih dia waktu buat sendiri dulu Mou, nanti baru kamu berbicara dengan nya" lanjut Gemilang menyerahkan air putih pada Mou.
"sejak kapan kalian sedekat ini" ucap Juna yang sebenarnya juga tahu bahwa Ibel memiliki perasaan khusus pada Gemilang, mungkin hanya orang buta yang tak melihatnya.
"Sejak aku jatuh cinta pada nya" jawabnya Gemilang begitu santai.
__ADS_1
"Hoek hoek" Ben benar-benar mual mendengar jawaban Gemilang yang seperti itu.
"kenapa manusia galak ini bisa seperti itu" ucap Exel menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Abang jangan gitu ah, Mou malu" ucap Mou menggoyang-goyangkan tangan tangan Gemilang.
"Mou jangan manggil dia kayak gitu, gue pengen pup sumpah" ucap Ben diiringi dengusan kesal.
"iri aja Lo" ucap Gemilang mengecup tangan Mou tanpa tahu malu.
"Abang!"
"huek. . huek. . "
....
Terduduk di lantai, menenggelamkan wajahnya disela-sela lututnya. Air mata deras membanjiri pipinya.
Cinta dalam diamnya berujung menyakiti dirinya sendiri, ia sudah tahu akan seperti ini namun ia tidak pernah membayangkan akan sesakit ini rasanya.
Menepuk-nepuk dadanya yang begitu sesak, menyalahkan dirinya sendiri karena sudah jatuh cinta pada orang yang tidak mungkin ia gapai.
Gemilang terlalu jauh.
Tidak seharusnya ia menyimpan perasaan seperti ini, perasaan yang mungkin sudah membusuk didalam sana.
Sakit hati sebangsat ini ternyata.
Ditambah seseorang yang membuatnya sakit adalah sahabat dekatnya sendiri, Ibel bisa melihat tatapan keduanya yang tak biasa.
Hal yang ia takutkan, bahkan takdir berpihak pada mereka berdua. Apakah seseorang yang miskin dan jelek sepertinya ini tidak pantas dicintai.
Bertahun-tahun lamanya ia selalu memberikan perhatian lebih pada Gemilang, sekalipun Gemilang tidak pernah menganggapnya ada.
Tapi mengapa?
Mengapa Mou dengan mudahnya menerobos dinding pertahanan Gemilang yang selama ini ia tidak bisa terobos.
Kenapa takdir setidak adil ini pada dirinya?
Kenapa Tuhan?.
.
.
.
ALHAMDULILLAH NAIK SATU LEVEL SETELAH JARANG UP HAHAHA.
MULAI SEKARANG AKU KASIH FOTONYA DI IG SAJA YA, NGGAK DISINI TAKUT MEMPENGARUHI LEVEL.
FOLLOW IG KU @BLUESKYMA1
__ADS_1
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS BAGI TIP SEIKHLASNYA 💋