Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 134 ~ Kepergian sahabat


__ADS_3

Merebut paksa tubuh Mou dari laki-laki itu. Darahnya mendidih hanya karena melihat Mou terjatuh di pelukannya.


"Lo ngapain disini, mau cari masalah lagi? Hah?" Gemilang berucap tak santai.


"Ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Mou." Laki-laki berjambang itu mencoba tenang dan tidak memercikkan api peperangan. Tahu betul siapa Gemilang Galaxio Kusuma.


"Jangan mimpi gue ijinin Mou ketemu lo!" Gemilang memang payah dalam menahan emosinya dan sangat tidak suka dengan laki-laki di hadapannya.


Seseorang berjas putih itu tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Sam menatap nanar pada adiknya yang tengah pingsan. Matanya membesar saat melihat siapa yang berada di hadapan Gemilang.


"Edwin?"


"Sam cepat periksa kondisi Mou." Edwin tidak tega melihat tubuh pucat Mou.


Membuang napasnya kasar. "Siapa lo berani-beraninya ikut campur masalah istri gue." Gemilang masih berkata dengan emosi.


"Lo apaan sih, emosi mulu." Sam segera mengambilalih tubuh Mou dari Gemilang, membopongnya menuju salah satu ruangan yang tidak jauh dari sana.


"Gem, udah." Ben menepuk-nepuk bahu Gemilang yang masih menatap tajam pada Edwin.


"Iya, nggak enak dilihat orang-orang," imbuh Juna yang sebenarnya sebal dengan Gemilang. Bisa-bisanya mereka bertengkar di saat seperti ini.


Menunjuk Edwin dengan jari telunjuknya. "Urusan kita belum selesai ya," ucap Gemilang beranjak pergi untuk menyusul Sam dan Mou.


Ruangan itu hanya di penuhi oleh isak tangis Mou. Sam terus memeluk adiknya memberikan ketenangan agar Mou bisa menerima kenyataan.


"Bang, tadi Ibel masih minta bubur. Tadi kita masih bercanda bersama, katanya keadaanya sudah sedikit membaik," ucap Mou tercekat semakin membenamkan wajahnya pada pundak nyaman Sam.


"Sudah takdir Mou, jangan pernah membenci takdir karena bisa jadi ini adalah jalan terbaik untuk Ibel."


"Tapi kenapa secepat ini hiks..."


Pintu terbuka menampilkan sosok tampan yang menunjukkan raut wajah khawatirnya. Segera mendekati mereka mengusap rambut Mou yang masih memeluk Sam.


"Kamu sudah sadar?" tanyanya yang membuat Mou mendongak.


Mou tidak tahu harus berkata apa, rasanya begitu takut jika Gemilang memarahinya lagi. Hanya mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Sam.


"Biar, Abang periksa dulu." Sam melonggarkan pelukannya namun di tahan oleh Mou.


"Sebentar saja, Bang."


Lalu Sam menatap Gemilang yang sepertinya raut wajahnya berbeda. Kenapa juga Mou tidak minta di peluk suaminya. Sudah pasti mereka sedang ada masalah.


"Sam bener, biar kamu di periksa dulu." Suara yang tadi begitu galak itu berubah menjadi lembut dan terus mengusap lembut rambut Mou.

__ADS_1


"Mou nggak papa, Mou mau lihat Ibel dulu." Dadanya sesak sekali mengingat sahabatnya sudah tidak ada lagi.


Mou beranjak dan hendak berdiri namun lagi-lagi kakinya tidak kuat menahan beban pada tubuhnya. Gemilang dengan sigap merengkuh tubuh istrinya.


"Mou, biar Sam cek kondisi kamu sebentar." Mencoba untuk tetap lembut.


Menggeleng lemah dengan air mata yang terus mengalir, tidak berani untuk membantah Gemilang tapi di sisi lain ia benar-benar ingin melihat Ibel untuk yang terakhir kalinya.


"Nggak papa, dia paling cuma syok. Gem, temenin dia lihat Ibel dulu." Sam hafal betul dengan sikap adiknya.


Gemilang mengalah, membantu Mou untuk berjalan menuju ruangan Ibel. Biar Mou melihat sahabatnya untuk yang terakhir kalinya.


.


.


.


Bunga kamboja nampak berguguran pada tanah, pohonnya meneduhkan orang-orang berpakaian serba hitam disana.


Masih dengan isak pilu, hari ini adalah duka bagi semua orang yang sangat mencintai wanita yang di kenal dengan sikap apa adanya. Seseorang yang tomboi, ceria, tanpa peduli pendapat orang lain.


Manusia-manusia disana silih berganti meninggalkan makam dengan tanah yang masih basah itu.


Hingga akhirnya hanya tersisa para keluarga dan sahabat tercinta. Menaburkan bunga-bunga penuh cinta diiringi dengan doa atas berpulangnya Ibel.


Ben dan Juna terus menatap nisan yang bertuliskan nama sahabatnya. Rasanya baru kemarin mereka bergurau bersama, tetapi Tuhan lebih menyayangi Ibel ternyata.


Juna sesekali mengusap buliran bening di balik kacamata hitamnya.


"Setidaknya dengan begini, kita semua tidak akan melihat Ibel merintih kesakitan lagi." Ben menepuk punggung Juna yang juga merasa kehilangan.


Dimana pun tempatmu berada, kita akan selalu menjadi sahabat...


.


.


.


Gemilang tidak henti-hentinya menatap sosok cantik yang masih memejamkan matanya. Setelah dari pemakaman Ibel, Mou terus tertidur pulas.


Semalaman tidak tertidur hanya untuk menunggui sahabatnya sampai di liang kubur. Jadi Gemilang tidak tega untuk membangunkan istrinya meski telah melewatkan makan siangnya.


Ya, selama itu Mou tertidur.

__ADS_1


Tiba-tiba bulu mata lentik itu bergerak, menyesuaikan pandangannya dan menampilkan sosok suaminya yang tengah duduk di sampingnya.


"Sudah bangun?" tanya Gemilang mengusap pipi istrinya. Jadi tidak tega sendiri melihat mata sembab Mou. "Makan dulu ya?"


Tubuh rapuh itu mencoba untuk bangkit dan di bantu oleh Gemilang. "Abang belum makan?" ucap Mou balik bertanya. "Mau Mou masakin ya?"


Sekarang kan ia sudah memiliki suami yang harus ia urus. Tidak perduli meskipun sedang lemah tapi itu semua tanggung jawabnya sebagai istri.


"Sayang.." Suara lembut nan merdu laki-laki itu membuat Mou membeku. Ia sangat suka dengan suara Gemilang seperti ini.


"Mou nggak papa kok, Bang." Mou paham kekhawatiran Gemilang.


"Aku sudah makan. Kamu mau makan di sini atau di bawah, biar aku ambilkan."


"Nggak usah, biar Mou ke bawah langsung saja nanti."


Tidak menerima bantahan apapun, Gemilang malah membopong tubuh Mou dengan paksa.


"Abang.." lirih Mou reflek melingkarkan tangannya pada leher Gemilang.


"Kamu pilih ke dokter atau makan." Gemilang membawa tubuh Mou meninggalkan kamar.


"Mou berat ya?" tanya Mou saat Gemilang menurunkan tubuhnya pada kursi, meja makan.


"Nggak sama sekali," jawab Gemilang cuek dan sibuk mengambilkan makanan untuk Mou.


"Tapi berat badan Mou udah naik lima kilo baru dua minggu menikah." Mengerucutkan bibirnya kesal mengingat hal itu.


"Yang penting sehat," sahut Gemilang tanpa menatap Mou. Ia saja tidak menyadari hal itu, hanya saja tahu betul bagian sensitif Mou lebih berisi dari biasanya. Mungkin karena ia sering menjamah tubuh istrinya.


"Ibel lagi apa ya, Bang." Menatap kosong dengan pelupuk mata yang sudah basah. Padahal tangannya baru saja menyentuh sendok makan.


Gemilang menoleh, segera mendekap tubuh Mou yang memang sedang butuh sandaran. Awalnya ia sempat ragu, takut Mou akan kecewa dengan sikapnya kemarin. Apalagi saat Mou memilih di pelukan Sam.


Begitu banyak masalah silih berganti. Belum lagi kemunculan Edwin yang saat ini masih ia pantau. Pokoknya setelah ini ia benar-benar harus membangun komunikasi yang kuat dengan Mou.


"Makan dulu," kata Gemilang sembari memberikan kecupan hangat pada rambut Mou.


"Mou nggak mau makanan berminyak," ucap Mou saat menatap kari ayam dan juga lumpia goreng di hadapannya. Mengusap pipinya yang memerah dan basah.


"Terus kamu mau apa, Mouresa?" Rasa ingin menerkam dan memakan wanita di hadapannya semakin tinggi detik ini juga.


.


.

__ADS_1


.


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋


__ADS_2