Gemilang Ku

Gemilang Ku
82 ~ Ke pantai


__ADS_3

Jen segera mengambil tasnya dengan terburu-buru. "A-aku ambil botol Ara dulu." Segera berbalik dan melangkahkan kakinya.


Semua itu tak luput dari pandangan Roman, kemudian beralih menatap mereka semua. "Kalian santai saja, anggap saja rumah sendiri." Mencoba tersenyum, meskipun hambar.


"Dek, siapkan makan malam untuk kita semua." Belum sempat Mou menjawab, Roman sudah melangkahkan kakinya menuju kamar.


Mou menggaruk rambutnya yang tidak gatal saat merasa kakak dan abangnya begitu aneh.


"Gue mau balik aja," ucap Exel yang membuat mereka menatap kearahnya. Meskipun sudah bertahun-tahun lamanya, entah mengapa luka itu masih sama perihnya.


Ben segera beranjak dan memeluk Exel, "Lo nggak bisa lari terus," ucap Ben menepuk pelan pundak Exel.


"Terserah lo, gue mau ke hotel aja." Melangkahkan kakinya, namun lagi-lagi Gemilang menghadangnya.


"Kita semua ke pantai saja," ucap Gemilang merasa bersalah. Ia paham betul bagaimana perasaan Exel. Bertahun-tahun selalu menelepon jika hendak ke rumahnya, hanya karena takut Jen dan Roman juga berada disana.


Gemilang beralih menatap Mou, "kamu siap-siap ya kita tunggu dibawah." Mou hanya mengangguk karena tak paham situasi yang seperti apa saat ini.


.


.


.


Mereka bertiga menuju lantai bawah, terlihat Toro yang baru saja memasuki rumah. "Mau kemana?" tanya Toro ketika melihat tiga laki-laki itu menuruni tangga.


"Mau main ke pantai dulu, Pa." Jawab Gemilang sembari mengusap tengkuknya.


"Nggak makan dulu," tawar Toro.

__ADS_1


"Nggak usah om, kita udah kangen banget sama suasana pantai." Ben tertawa hambar ketika memperhatikan wajah mendung Exel.


"Ya sudah, hati-hati." Toro menepuk-nepuk pundak Gemilang dan segera berlalu.


"Iya, Pa."


Mata Gemilang membelalak ketika melihat Jen yang baru saja memasuki rumah dengan botol kecil di tangannya.


Jen, juga terlihat sama terkejutnya melihat mereka berada disana. Namun bibirnya ia paksakan tersenyum menatap mereka semua. Para sahabat kecilnya sewaktu dulu.


Jen menghampiri mereka dengan seulas senyuman palsunya. "Apa kabar?" tanya Jen menatap seseorang yang bertahun-tahun mengisi hatinya.


"Sangat baik," jawab Exel tak melepaskan pandangannya sedetikpun. Matanya menyusuri Jen dengan penampilan yang sudah lebih dewasa dari tahun-tahun lalu.


Jen mengangguk dengan bibir yang bergetar, selalu merasa bersalah pada Exel, "Syukurlah."


Ben dan Gemilang hanya memperhatikan mereka, karena ini yang pertamakali nya mereka saling menyapa setelah Jen menikah.


"Oh ya," mengusap pipinya yang tiba-tiba basah." Aku ikut senang."


"Mungkin sebentar lagi juga akan menikah, karena sekarang semua mimpiku sudah terwujud." Exel berkata penuh sindiran.


"Ya sudah aku pamit dulu," ucap Exel ketika melihat Mou menuruni tangga.


.


.


.

__ADS_1


Keheningan melingkupi seisi mobil, Ben mengemudi dan Exel duduk disampingnya. Sedangkan Mou dan Gemilang di bangku belakang.


"Lo mau nikah sama siapa?" tanya Ben memecah keheningan, menoleh pada Exel.


Tersenyum kecil Exel menyandarkan tubuhnya, "Siapa aja yang mau sama gue."


Ben mengangguk sembari memarkirkan mobilnya, di parkiran pinggir pantai. "Kalo gue sih ngesip banget sama Ilona."


Menonyor kecil kepala Ben yang selalu mengatakan hal itu, "Selain dia" ucap Exel kesal.


"Lo kenapa sih sensi banget, jodoh baru tahu rasa." Ben segera mematikannya mesin mobil. Menoleh ke bangku belakang yang sedari tadi hening.


"Sial!" umpat Ben ketika melihat Gemilang bersandar pada pundak Mou dengan mata yang terpejam.


Exel yang mengikuti arah pandangan Ben pun menggeleng malas.


"Hehe," Mou tersenyum malu pada mereka berdua.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAESSS 💋


__ADS_2