Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 109 ~ Kedatangan Louis


__ADS_3

Mou masih tidak habis pikir dengan laki-laki yang tengah duduk di hadapannya. Masih tidak percaya jika Louis ke sini hanya untuk menemui dirinya.


"Kenapa sendiri?" tanya Louis.


Mou menggeleng, "tidak apa-apa, bisakah kamu meninggalkan aku. Aku benar-benar sedang ingin sendiri."


"Mou jangan seperti ini, kamu boleh mengabaikan ku. Tapi jangan menyendiri seperti ini, aku tidak suka melihatmu kesepian." Tatapan mata Louis menyorotkan sebuah kekhawatiran mendalam.


Tentu saja Louis menjadi sorotan oleh para tamu. Selain karena wajah asingnya, ia juga sedang duduk bersama model terkenal. Tapi Louis dan Mou mengabaikan hal itu.


"Mau berdansa denganku?" tanya Louis ketika melihat mempelai tengah berdansa disusul oleh para tamu bersama pasangannya.


"Tidak," ujar Mou ketus.


"Ayolah Mou, hidup hanya sekali kenapa kamu tidak pernah ingin bahagia." Louis terlihat frustasi karena wanita cantik ini.


Mou menoleh pada sekitar, tanpa sengaja matanya bertemu dengan manik tajam yang terfokus padanya.


Laki-laki itu berdiri di tengah-tengah teman-temannya, gemuruh di hatinya tidak bisa lagi tertahan ketika melihat Jasmine terus menempel pada Gemilang.


"Louis," panggil Mou.


Senyuman mengembang pada sudut bibir Louis, terus menatap pada Mou.


"Ayo, aku mau berdansa." Segera berdiri, menggandeng tangan Louis untuk bergabung bersama yang lain.


Mou begitu bingung dengan keputusannya ini, sebenarnya ia sangat enggan untuk bersentuhan dengan Louis.


"Lingkaran tanganmu di leherku Mou," ucap Louis sembari meletakkan tangan Mou pada pundaknya. Tangannya sudah menghampiri pinggang ramping Mou.


Alunan musik romantis, dengan remang lampu menambah suasana menjadi penuh cinta. Sinar terang lampu hanya menerangi pengantin saja.


"Kamu kenapa?" tanya Louis ketika Mou terus melamun. Hanya raganya saja yang di sini, pikirannya tengah berkelana entah kemana.


"Tidak apa-apa. Ehmm. . bagaimana kabar kak Edwin dan kak Laura?" tanya Mou sedikit menjauhkan tubuhnya ketika Louis terus menempel padanya.


"Sangat baik." Louis nampak terpaku oleh bola mata indah itu, bulu mata lentiknya membuat semuanya begitu sempurna.


"Louis!" geram Mou ketika Louis hendak merengkuh tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Louis dengan santai.


Mungkin ini memang sangat biasa pada belahan negara Louis. Mou juga tidak bisa memarahinya, malah akan terkesan aneh jika Mou menolak. Tapi Mou benar-benar benci dengan sentuhan laki-laki asing.


"A-aku mau ke kamar mandi," dalih Mou melepaskan diri.


"Baiklah, aku mau ambil minum dulu. Jangan lama-lama ya." Louis mengusap kecil rambut lebat Mou.


Mou melangkahkan kakinya dengan terburu-buru menuju kamar mandi.


Namun saat ia hendak memasuki kamar mandi. Cengkraman pada tangannya membuat ia tersentak kaget.

__ADS_1


Seseorang yang sangat ia kenali menghimpit tubuhnya pada tembok. Menatap penuh amarah padanya.


"Abang," ucap Mou menatap tak percaya Gemilang bisa berada di sana.


"Kenapa kamu mau di pegang oleh laki-laki lain." Tatapan tajam menghujam keras jantungnya. "Kalau kamu risih tinggal minta dia pergi saja beres," omelnya yang membuat bibir Mou melengkung.


Gemilang mengusap-usap pundak, punggung, pinggang Mou seolah-olah ada kotoran yang membekas di sana. Tidak suka tubuh Mou di penuhi oleh aroma laki-laki lain.


"Mana, mana lagi yang di sentuh olehnya." Gemilang berucap dengan dada yang naik turun.


Menatap wajah cantik Mou yang tiba-tiba di genangi oleh air mata. Tidak kuasa, bibir Gemilang segera melabuh pada bibir itu.


Mata sembab Mou membulat ketika Gemilang membungkamnya dengan ciuman lembut. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin meloncat keluar. Bahkan jiwanya seperti terlepas dari raganya.


Cup. . .


Satu kecupan singkat setelah ciuman panjang itu berakhir. Menarik tangan Mou dengan paksa.


"Ayo, aku antar pulang." Gemilang terus menggenggam tangan Mou tanpa menunggu jawaban dari pemiliknya.


.


.


.


Mobil Gemilang berhenti di depan rumah Sam. Masih saling berdiam di dalam mobil, tanpa mengucap sepatah katapun.


Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin Mou sampaikan, tapi takut jika Gemilang akan dingin lagi.


"Abang," ucap Mou dengan ragu.


"Kenapa Abang marah kalau Mou di sentuh oleh laki-laki lain. Bukankah dulu Abang juga berpacaran dengan banyak wanita, tidak mungkin kan Abang tidak menyentuh mereka?" Menatap Gemilang mencari jawaban.


Gemilang terus memandang ke depan, meratapi nasibnya yang begitu bodoh karena melakukan itu pada Mou.


"Sudah malam, turunlah."


Mou mengangguk. "Sepertinya masih belum impas ya balas dendam Abang. Maaf Mou tidak seharusnya membalas tadi. Mou akan menunggu sampai hati Abang terbuka kembali untuk Mou."


"Silahkan sakiti hati Mou semau Abang. Mou akan bertahan sekuat tenaga di sini." Mou membuka pintu mobil perlahan.


Meratapi kepergian Mou hingga menghilang di balik pintu. Gemilang memukuli stir kemudinya, marah dengan dirinya sendiri yang seperti ini.


Apakah ia salah jika hanya ingin Mou lebih menghargai nya, bukankah terlalu mudah jika ia memaafkan Mou sekarang. Pasti wanita itu akan sesuka hati lagi padanya.


.


.


.

__ADS_1


Kicauan burung-burung terdengar begitu merdu di luar sana. Sinar matahari tampak begitu terik pagi ini. Mou menatap jendela yang terbuka dengan tangan yang masih sibuk memotong wortel.


"Jangan melamun kalau sedang masak," tegur Sam mengambil alih pisau di tangan Mou.


"Mou hanya sedang melihat burung-burung yang berlarian," ucap Mou tersenyum.


Sam mulai memotong wortel itu menjadi beberapa bagian. "Kenapa kemarin pulang duluan?"


Mou menggeleng..


"Kamu di antar Gemilang?" tanya Sam lagi.


"Kok bang Sam tahu?" Mou segera mencuci wortel yang sudah terpotong.


"Abang memang tidak tahu persis seperti apa hubungan kalian. Tapi tidak bisa terus seperti ini Mou, bicarakan baik-baik lagi. Perbaiki jika masih bisa, jika tidak.."


"Nona ada tamu, di suruh keluar sebentar sama bapak?" ucap bi Surti yang masih membawa kantong belanjaan, ada berbagai macam sayur di dalamnya.


"Siapa, Bi?" tanya Mou segera mencuci tangan.


"Bule, teman nona kata bapak." Mou dan Sam saling berpandangan, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


.


.


.


"Louis," sapa Mou tak santai ketika laki-laki itu berada di sini pagi ini.


"Duduk dulu, Mou." Toro menepuk-nepuk sisi kosong sebelahnya.


Mou dan Sam segera menghempaskan tubuhnya pada sofa, bergabung bersama mereka.


"Louis sudah mengatakan tujuannya kesini. Dia ingin serius sama kamu Mou," ucap Toro yang membuat mata Mou membelalak.


Louis tersenyum pada Mou yang masih kaget. Sam pun juga menunjukkan ekspresi serupa.


"Papa sendiri senang dan setuju jika kamu mau menerima lamaran Louis. Papa juga ingin kamu segera menikah Mou, tapi untuk keputusannya ada di tangan kamu." Toro berkata sedemikian karena tahu betul Louis adalah keluarga Edwin, teman Roman yang sangat baik.


"Louis, bukankah aku juga pernah bilang." Mou menggeleng kecil, sebenarnya tidak tega menyakiti hati laki-laki itu.


"Aku akan membawa orangtuaku ke Indonesia jika kamu bersedia?"


.


.


.


TUNGGU BENTAR LAGI, JENG JENG JENG..

__ADS_1


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋


__ADS_2