Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 103 ~ Bertemu kembali


__ADS_3

Beberapa tamu undangan tampak berdatangan. Pesta dengan tema bunga ini, nampak begitu meriah malam ini. Dekorasi seluruh rumah dipenuhi dengan bunga-bunga yang tengah bermekaran.


Roman dan Jen menyambut para tamu. Juga Toro yang asik berbincang dengan rekan kerja nya.


Sosok tampan bak pangeran yang baru saja datang, membuat semua tamu menatap kagum padanya. Gemilang datang bersama kedua orangtuanya.


"Pak Elang," sapa Toro mendekati mereka.


"Pak Toro." Elang menyalami Toro.


"Sudah ditunggu pak Al, kita bergabung di sana saja ya." Toro mempersilahkan Elang menuju dalam rumah.


Elang tampak menatap Mila untuk meminta persetujuan. "Iya Papii duluan saja, Mamii mau ke kamar mandi dulu." Mila tersenyum pada Toro.


"Yasudah, nanti Mamii nyusul ya." Elang segera mengajak Toro untuk berlalu.


Sedangkan Mila masih mencari-cari seseorang, menoleh kesana-kemari.


"Nyari siapa Mam?" Tanya Gemilang.


"Ada deh, ayo." Mila memaksa Gemilang untuk mengikutinya.


"Jen," panggil Mila.


"Mamii..." Jen segera menghampiri Mila. "Mamii sudah ditunggu sama Mama."


"Iya nanti saja." Mila mengedipkan sebelah matanya.


Lalu Jen beralih menatap Gemilang, dan baru paham apa yang Mila maksud.


"Gem, tolong jemput Ara di kamarnya ya. Sam juga ada dilantai atas sama Zafra." Pinta Jen tersenyum.


Gemilang mengangguk, "iya." Segera melangkahkan kakinya.


"Mamii yakin mereka masih saling cinta?" ucap Jen saat Mila menatap punggung Gemilang dengan senyuman hambar. "Bukannya Gem sudah punya pacar ya?"


"Mamii tahu betul bagaimana adikmu Jen. Biarkan mereka berdamai dengan masa lalu jika memang tidak bisa lagi bersama." Mila bisa melihat betapa hancurnya Gemilang selama Mou pergi.


.


.


.


Gemilang menaiki lantai dua rumah Roman. Suara dibalik pintu kamar Ara begitu berisik. Gadis kecil itu tawanya memenuhi seisi ruangan.


Membuka pintu kamar dengan pelan. "Ar.."


ucap Gemilang terhenti ketika melihat sosok yang tengah menyisir rambut Ara.


Mou sontak menoleh pada suara pintu yang tengah terbuka. Sampai sisir yang ia pegang jatuh menyentuh lantai.


Gemilang menatap dari ujung kaki sampai ujung kepala. Wanita itu bertambah cantik, juga dewasa.


Pandangan mereka bertemu, masih menatap dalam satu sama lain.


"Uncle!" Teriak Ara yang membuat mereka segera mengalihkan pandangan satu sama lain.


"Ara, ayo kebawah. Sudah ditunggu Mama mu." Gemilang hendak berlalu, namun ia urungkan ketika Sam dan Zafra memasuki kamar itu.

__ADS_1


"Biar gue sama Zafra yang antar Ara. Kalian ngobrol dulu saja." Sam menepuk-nepuk bahu Gemilang.


"Iya, Ara ayo sini sama aunty." Zafra menuntun tangan mungil Ara.


"Ungkapkan semua, jangan ada yang dipendam." Zafra tersenyum pada Mou sebelum pergi dari sana.


Sam dan Zafra berlalu meninggalkan kamar. Disusul Gemilang yang sudah membalikkan tubuhnya.


"Tunggu," ucap Mou yang membuat langkah Gemilang terhenti.


"Aku ingin bicara sebentar saja."


Untuk sedikit melepaskan rinduku padamu.


Saat ini Mou ingin sekali memeluk tubuh laki-laki itu dan mengatakan bahwa ia sangat, sangat, sangat merindukannya.


.


.


.


Balkon rumah Roman menjadi pilihan mereka untuk tempat berbincang. Dengan angin yang berhembus, juga langit malam yang tampak gelap.


Duduk bersebelahan dengan jarak yang cukup jauh. Mou tersenyum kecil ketika aroma tubuh laki-laki itu tidak berubah. Melihat wajah Gemilang yang semakin rupawan, membuat jantungnya kembali berdetak kencang.


Jambang tipis itu terlihat seksi, juga tubuh yang semakin berotot. Jadi mana bisa Mou tenang dalam situasi seperti ini. Ia sampai gugup hendak berbicara.


"Ka-kamu apa kabar?" Tanya Mou, tidak apa Gemilang tidak menatap dirinya. Yang penting ia bisa menatap Gemilang dengan jarak sedekat ini.


"Sangat baik." Gemilang masih tidak menatap Mou. Sejujurnya ia masih tak menyangka melihat Mou berada disini. Pantas saja sedari tadi Ben melarang untuk melihat kabar berita. Pasti ada sangkut pautnya dengan ini.


Hening...


"Abang," ucap Mou begitu ragu.


Gemilang akhirnya menoleh. "Panggil nama saja," sorot mata tajam itu menyiratkan ketidaksukaan.


Mou menggeleng, "aku nggak bisa."


"Kenapa?" ucap Gemilang tersenyum kecil. Apakah selain menjadi model, ia juga diajari berakting.


Mou menghela nafasnya. "Abang, tatap mata Mou."


Gemilang malah berdiri. "Bisakah kamu bersikap biasa saja. Kita kan sudah tidak ada apa-apa lagi."


"Maaf," ucap Mou pelan. Bukan untuk hal itu ia meminta maaf, melainkan maaf ia tidak bisa menahan diri untuk memeluk tubuh laki-laki itu.


Grep.


Gemilang tersentak ketika Mou tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang. "Apa yang kamu lakukan?" Gemilang nampak kesal, namun juga tidak melepaskan diri dari pelukan Mou.


"Mou kangen sama Abang," jujurnya. Masa bodoh jika ia di cap sebagai wanita tak tahu malu. Ia hanya mencoba untuk lebih jujur pada dirinya sendiri. Hanya mencoba untuk berani agar tidak ada penyesalan nantinya.


Masih memeluk tubuh Gemilang dengan erat. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang begitu ia rindukan. Menyandarkan kepalanya pada punggung kokoh ini.


"Kangen?" Gemilang tertawa kecil karena itu. Setelah tiga tahun lamanya baru berucap, dan Gemilang tidak percaya sama sekali.


Mou mempererat rengkuhannya. "Mou nggak berani hubungin Abang," lirih Mou.

__ADS_1


"Mou takut Abang marah."


"Lepas Mou!" ucap Gemilang namun tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya mengkhianati bibirnya, tubuhnya ingin berbalik dan memeluk Mou. Namun tidak bisa, ingatannya kembali berputar pada tahun lalu.


Mou begitu mudahnya tertawa dengan laki-laki lain, saat dirinya bersusah payah menahan segenap rindu.


"Mou nggak mau."


Menghela nafasnya, Mou sudah terlalu lama memeluknya. Melepaskan tangan Mou dengan paksa.


"Aku sudah memiliki tunangan," ucap Gemilang menunjukkan cincin pada jari manisnya.


Dunia Mou runtuh detik ini juga, hatinya seperti ditusuk-tusuk. Masih mematung saat Gemilang pergi meninggalkan dirinya.


"Jadi berita itu benar," lirih Mou mencoba untuk tidak menangis.


.


.


.


Dengan kaki yang lemas, Mou memaksakan diri untuk menuruni tangga. Tamu-tamu tampak menikmati beberapa sajian.


"Dek," panggil Sam yang membuat Mou memejamkan matanya sejenak. Disana ada Sam, Zafra, Gemilang, juga Jasmine. Mou sudah pernah bertemu dengan Jasmine memang, saat ia mengunjungi Sam dulu.


"Mou," panggil Jasmine mendekati Mou. "Apa kabar?" tanya nya memeluk tubuh Mou.


"Baik," jawab Mou tersenyum kecut. Jadi Gemilang dan Jasmine benar-benar bersama.


"Makan dulu dek, kamu dari siang belum makan kan." Sam menyuruh Mou mendekat.


"Nggak usah bang, Mou mau nyari papa dulu." Jawab Mou lemah.


"Udah, makan dulu saja." Jasmine memaksa Mou untuk ikut duduk bersama mereka.


Mou hanya pasrah saja. Duduk di sana menatap kosong tanpa berani untuk menatap pada Gemilang dan Jasmine.


Rasa sakit yang menjelma di lurung dada, oleh tikaman tak kasat mata ini begitu terasa. Mou meremas ujung dressnya dengan dada yang bergemuruh.


"Mou," panggil seorang dari balik tubuh Mou. Membuat Mou menoleh.


Wanita paruh baya itu tersenyum pada Mou. "Mamii," lirih Mou segera berdiri.


Mou mencium tangan Mila, namun sedikit tersentak ketika Mila menariknya dalam pelukan.


"Mamii kangen."


.


.


.


Entar dulu, baikannya ekwk.


FOLLOW IG AKU YA GAESSS @BLUESKYMA1


Like, komen, and vote gais 💋

__ADS_1


__ADS_2