Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 121 ~ Tak ingin pisah


__ADS_3

"Sudah hampir setahun yang lalu, Mou terlibat kontrak pembuatan video klip yang di bintangi oleh kak Edwin sendiri. Setelah itu Mou merasa ada yang aneh dengan kak Edwin, dia selalu mendekati Mou." Mou segera memeluk tubuh Gemilang saat rahang laki-laki itu mengeras.


"Tidak sekali pun Mou menganggap kak Edwin lebih dari seorang kakak. Dua bulan sebelum Mou pulang ke Indonesia, kak Edwin mengungkapkan perasaannya. Dia bilang, dia tahu itu salah dan hanya ingin Mou mengerti perasaannya." Mendongak menatap Gemilang yang sepertinya sedang menahan emosinya.


"Maka dari itu Mou mempercepat kepulangan Mou ke Indonesia waktu itu.. Mou juga takut perasaan kak Edwin tumbuh lebih besar lagi apalagi sampai istrinya tahu."


"Dia sudah tahu," ucap Gemilang tiba-tiba. "Asal kamu tahu Mou, istri Edwin yang menyebarkan berita itu."


Mou bersusah payah menelan ludahnya saat terkejut dengan hal itu.


"Bang Roman melarang aku untuk membuka hal itu."


"Ja-jadi?" Mou merasa lemas pada sekujur tubuhnya. Ia sudah meninggalkan London dengan cepat supaya rumah tangga Edwin kembali utuh. Bahkan rela membayar denda ratusan juta untuk pembatalan kontrak.


"Iya, Laura yang menyebarkan semua itu. Aku tidak tahu apa tujuannya yang pasti rumah tangga mereka sedang di ujung tanduk saat ini. Aku berhenti mencari tahu, karena bang Roman melarang."


"Tapi aku tidak tahu kalau Edwin menyukaimu," lirih Gemilang.


"Hati Mou hanya untuk Abang seorang." Mou mempererat pelukannya.


Membuang napasnya kasar Gemilang segera membalas pelukan Mou. "Iya, aku tahu," ucapnya masih terdengar dingin.


"Abang nggak marah kan sama Mou?"


"Kenapa aku harus marah, yang menyukaimu kan Edwin. Salahmu hanya terlalu dekat dengannya. Dari dulu aku sudah memiliki firasat buruk pada laki-laki itu," ucap Gemilang tanpa sadar.


"Dulu?" Mou menatap laki-laki itu penuh tanya.


"Sudahlah, jangan di bahas." Gemilang melonggarkan pelukannya ketika Roman datang.


"Ingat ya, belum halal." Terkekeh kecil saat Mou dan Gemilang terhenyak dengan kedatangannya.


"Iya, Bang," jawab Gemilang beralih menatap Mou. "Kalau begitu aku mau pulang dulu."


Mou mengangguk, namun tangannya tak terlepas sama sekali. "Hati-hati," lirihnya.


"Besok pagi aku masih kesini kok," ucap Gemilang sembari melepaskan tangan Mou. "Setelah itu kita tidak akan bertemu sampai hari pernikahan."


Mou melepaskan Gemilang meskipun ada ketidakrelaan sebenarnya. Roman mengantarkan kepulangan Gemilang sampai teras.


"Tadi dapet wejangan ya dari papa?"


"Iya, bang."


"Kalau Abang nggak akan kasih wejangan apa-apa, cuma kalau kamu tidak memperlakukan Mou dengan baik, Abang sendiri yang akan menghajarmu Gem," ucap Roman terkekeh namun sebenarnya sangat serius.


"Bang Roman bisa mempercayakan semuanya padaku." Menepuk pundak laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya. "Aku pamit dulu ya bang."

__ADS_1


.


.


.


Menatap kosong pada gundukan tanah itu, tangan Mou sudah menaburkan bunga-bunga cantik di atasnya.


"Mama, Mou datang." Tersenyum menatap nisan di hadapannya. "Mou datang bersama dengan seseorang yang spesial." Melirik Gemilang yang tengah berjongkok di sampingnya.


Laki-laki itu membersihkan dedaunan kering yang berada di sana.


"Perkenalkan, Ma, dia Gemilang. Calon suami Mou, ganteng kan?" Mou terkekeh kecil namun matanya sudah dipenuhi oleh bulir air mata yang siap tumpah.


Gemilang mengusap lembut punggung Mou. "Senang bertemu dengan Mama, terimakasih sudah melahirkan putri secantik ini. Kedatangan saya kesini adalah untuk meminta restu dari Mama untuk menikahi Mou."


Gemilang merengkuh tubuh Mou saat tubuh wanita itu sudah bergetar. "Saya akan membahagiakan, Mou, Ma."


Mengusap air matanya, Mou kembali mengusap nisan itu. "Semoga Mou bisa jadi istri yang hebat seperti Mama."


"Pasti," sahut Gemilang.


.


.


.


"Sebentar lagi," lirih Mou kekeh memeluk Gemilang. Rasanya baru saja ia di pertemukan kembali oleh kehangatan ini. Enggan jika harus berpisah lagi sampai hari pernikahan.


"Sudah hampir jam dua belas, Sayang." Mengecupi rambut wangi Mou.


"Kenapa harus di pingit segala sih," kesal Mou mengerucutkan bibirnya.


Terkekeh geli Gemilang segera mengecup bibir itu.


"Abang!"


"Nanti aku di marahin papa kalau nggak pulang-pulang, harusnya hari ini kita udah di pingit tapi karena harus ke makam Mama, di bolehin sama Papa."


"Nanti kan masih bisa telponan," lanjut Gemilang.


"Orang nggak boleh kok kata kak Jen."


"Apa?" Gemilang terperangah mendengarnya.


"Iya, serius nggak boleh dulu katanya biar benar-benar kangen dan papa juga dukung hal itu."

__ADS_1


Menggaruk tengkuknya pelan, Gemilang tidak pernah terbayang akan seperti itu. "Nanti aku tanya papa deh, biar di bolehin."


"Ya sudah," ucap Mou penuh ketidakrelaan ketika melepaskan pelukannya. "Abang kerja saja dulu."


"Iya, Sayang. Abang kerja dulu buat nafkahi kamu juga nantinya."


Mou tersipu mendengarnya, segera meraih tangan Gemilang untuk di kecup. "Semangat ya kerjanya."


Laki-laki itu malah mematung masih tidak percaya Mou melakukan hal itu. Impian kecilnya sepanjang hidup. Sekarang semuanya begitu nyata, apalagi yang akan menjadi istrinya adalah wanita yang sangat ia cintai.


"Hayooo, ngapain kalian." Seseorang yang baru saja datang sedikit mengejutkan mereka.


"Bang Sam?" Mou segera memeluk tubuh abangnya yang baru saja pulang.


Sedangkan Gemilang hanya mendengus kesal karena laki-laki itu menganggu keromantisan mereka.


"Kok udah pulang?" tanya Mou.


"Abang kepikiran terus sama kamu, jadi semuanya sudah di tangani sama teman Abang." Merangkul bahu adiknya dan menuju Gemilang.


"Sudah pulang sana," usirnya.


"Ngapain sih lo pulang segala," kesal Gemilang.


Membuang napasnya kasar Sam menepuk-nepuk bahu Gemilang. "Sekarang ingat posisi lo ya, hormati yang lebih tua," ucapnya bangga.


"Panggil gue bang Sam," ucap Sam tiba-tiba.


Gemilang membelalakkan matanya seketika. "Nggak sudi!"


"Ingat ya, kalau lo nggak mau manggil gue Abang, lihat aja nanti gimana keluarga besar gue mandang lo. Suami Mou ternyata tidak punya sopan santun ck ck ck." Menggeleng lemah, Sam melangkahkan kakinya pergi. Tersenyum lebar saat berhasil membuat wajah Gemilang begitu serius menanggapinya.


"Bener kayak gitu ya Mou?" tanya nya.


"Bukannya memang harus begitu ya." Mou mengedikkan bahunya.


"Bang Sam." Gemilang menggeleng kuat saat merasa lidahnya geli mengatakan hal itu.


.


.


.


MAAF YA GAIS, ABIS PERJALANAN JAUH TEPAR AKU TUH.


DUKUNGANNYA YA 💋

__ADS_1


__ADS_2