
"Mou nggak salah dengar kan?"
Gemilang menggeleng, sedikit melonggarkan pelukannya menatap netra teduh itu dengan penuh cinta.
"Bertahun-tahun tidak berkurang sedikit pun, justru semakin bertambah setiap harinya." Mendengar kata-kata manis itu membuat Mou tersipu, malu untuk menatap laki-laki itu.
Menangkup pipi bulat Mou dengan kedua tangannya. "Jangan tinggalin aku lagi ya?" pinta Gemilang terdengar begitu menyayat hati Mou.
Mou mengangguk dan memberanikan diri menatap sorot mata yang ia rindukan, ia rindu dengan tatapan Gemilang yang penuh sayang seperti ini. "Mou nggak akan kemana-mana. Kan Abang sudah ikat Mou dengan ini." Menunjukkan cincin yang berada di jari manisnya.
Menggenggam tangan Mou dan mengecupnya bertubi-tubi. "Sekali lagi maaf ya, aku hanya ingin kamu lebih menghargai aku dan hubungan kita."
"Iya, Mou juga salah kok karena--"
"Ssssttt.. Jangan di bahas lagi," ucap Gemilang sembari menempelkan ibu jarinya pada bibir tipis itu, mengusap-usapnya perlahan dengan lembut.
Detik selanjutnya bibirnya sudah berlabuh di sana. Menyesap dengan lembut rasa manis yang sudah lama tak ia cicipi.
Mou menahan dada Gemilang saat jarak diantara mereka semakin terpangkas. Laki-laki itu juga tak melepaskan bibirnya sedikit pun.
"Abang!" peringat Mou dengan nafas yang memburu.
Terkekeh kecil Gemilang menepuk-nepuk kepala Mou. "Masih satu minggu lagi ya?"
"Abang apaan sih," ujar Mou mengalihkan pandangannya dengan pipi yang bersemu.
"Apa aku percepat saja pernikahan kita," ucap Gemilang dengan santainya.
Mou membulatkan matanya seketika, bisa-bisanya Gemilang berpikir sesimpel itu.
"Abang, jangan ngaco."
"Bercanda Mouresa.."
"Kita pulang saja ya, kita bicarakan semuanya di rumah." Mou sudah memegang handle hendak keluar.
"Kemana?" tanya Gemilang menahan lengan Mou.
"Mou bawa mobil tadi."
"Biar orang aku yang ambil," ucap Gemilang mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
Mou hanya pasrah, tahu betul Gemilang tidak suka bantahan jika tentang hal seperti ini.
"Pulang ke rumah aku saja ya," ucap Gemilang sembari melajukan mobilnya.
"Nggak boleh Abang, pamali kan belum sah."
Gemilang meraih tangan Mou untuk di genggam, tangan satunya masih fokus mengemudi.
__ADS_1
"Aku sudah nggak sabar bawa kamu pulang ke rumah." Mengusap-usap tangan lentik itu dengan lembut.
"Sepertinya banyak hal yang belum kita bicarakan. Tentang pernikahan juga kehidupan selanjutnya setelah menikah." Gemilang menatap sekilas pada Mou.
"Kalau Mou sih terserah Abang saja. Mou nggak mau bantah Abang lagi." Rasa bersalah benar-benar bersemayam di hati Mou selama ini.
Gemilang mengangguk, memberhentikan mobilnya yang sudah sampai di rumah Sam.
"Jadi kamu nganter Sam tadi." Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu dengan tindakan bodohnya. Traumanya terlalu dalam hingga tak berpikir jernih.
"Iya," ucap Mou segera keluar dari mobil.
Berjalan beriringan dengan saling bergandengan tangan, seolah tak mau lepas satu sama lain.
"Abang ngira Mou pergi lagi ya," goda Mou tersenyum jahil.
"Iya, puas." Gemilang mengatakannya dengan jengkel. "Jadi kamu mau aku berlutut lagi di hadapan mu."
"Bukan seperti itu." Terus bergelayut manja pada lengan kokoh Gemilang.
"Kalo udah baikan aja kayak surat sama perangko." Toro memutar bola matanya melihat dua remaja yang tengah di mabuk asmara itu.
Mou segera menghampiri Toro yang tengah duduk di ruang tamu. Memeluk laki-laki paruh baya itu dengan senang. Hatinya memang sedang berbunga-bunga saat ini.
"Ingat ya belum sah."
Gemilang segera bergabung untuk duduk di sana. "Iya, Pa. Masih batas aman kok."
"Bagus, tunggu seminggu lagi masa udah nggak betah."
"Sebenarnya sih udah nggak pa," jawab Gemilang terkekeh dan sangat jujur sebenarnya.
"Abang!"
Mou tampak membolak-balik halaman buku tebal itu. Tinggal sentuhan terakhir semua persiapan untuk pernikahannya selesai. Hanya tinggal mengecek dan memastikan semua sesuai keinginannya dan sudah siap.
"Sayang," panggil laki-laki yang baru saja datang.
Mou menoleh dengan kening yang berkerut. "Abang, ngapain?" tanyanya melihat jam pada tangannya. Waktu makan siang kantor sudah habis satu jam yang lalu.
Segera duduk di sebelah Mou dan merebut buku itu. "Kata Mamii kamu memilih wedding garden party." Membuka buku dan membolak-balik halaman.
"Iya, aku pilih yang ini." Mou menunjuk salah satu design di sana.
"Bagus," ucap Gemilang mengangguk. "Apa lagi yang kamu perlukan saran dariku."
"Sepertinya tidak ada, semuanya sudah beres. Abang kan yang bilang kalau semua terserah Mou."
Gemilang menoleh mengusap lembut rambut Mou. "Maaf ya, gara-gara aku sibuk kamu jadi menentukan semuanya sendirian."
__ADS_1
Mou tersenyum, "nggak papa Abang. Mou malah suka kalau kita nggak harus berdebat tentang hal itu," bohongnya.
"Aku benar-benar sibuk menyelesaikan pekerjaanku Mou, agar kita bisa menikmati honeymoon kita dengan tenang."
Tangan lentik Mou membenarkan dasi Gemilang yang sedikit miring. "Iya Abang. Mou ngerti kok."
"Nanti malam kita jalan ya," ucap Gemilang menatap mata indah di hadapannya.
"Kemana?"
"Cari udara segar, untuk membicarakan masa depan dan juga sebentar lagi kan kita di pingit." Mengusap kecil dagu Mou.
Mou mengangguk setuju. "Setelah di pikir-pikir Abang memang belum menjelaskan semuanya pada Mou, termasuk masalah Jasmine."
"Aku akan menjelaskan semuanya, tanyakan apapun yang masih mengganjal di hatimu. Supaya nanti setelah kita menikah, lebih bisa saling terbuka satu sama lain."
Mendengar hal itu benar-benar membuat Mou terharu, bersandar pada pundak kokoh itu sembari menggenggam tangannya. "Mou juga mau bercerita tentang sesuatu."
"Apa sayang." Mengusap-usap rambut lembut Mou, yang wanginya menyeruak masuk dalam indera penciumannya.
"Nanti malam saja kalau begitu."
"Mou sayang sama Abang," ucap Mou tiba-tiba.
"Aku lebih sayang dan cinta sama kamu," ucap Gemilang tak mau kalah.
"Mau punya anak berapa?" tanya Gemilang yang menghancurkan suasana haru ini.
"Abang, ih." Memukul pelan tangan laki-laki itu.
"Aku serius Mou, bukankah kita harus membicarakan ini." Mencubit gemas pipi bulat Mou. "Kita bukan anak muda lagi yang harus malu membicarakan hal itu bukan, bahkan umurku sudah menginjak dua puluh tujuh."
"Mou nurut sama Abang," ucap Mou menunduk. "Terserah Abang mau punya anak berapa."
"Sebelas mau."
Moh membelalakkan pada Gemilang, "nggak gitu juga Abang."
CUP. . .
Laki-laki malah terkekeh geli dan mencium singkat pipi Mou. "Gemesin banget, calon istri siapa sih."
"Pak Gemilang Galaxio Kusuma." Mou membalas kecupan itu pada bibir Gemilang, seketika laki-laki itu tercengang.
"Mou.." ucapnya pelan.
"Apa sayang."
**Yang mau gabung GC sudah di buka ya.
__ADS_1
Syarat agar di ACC. Pertama, garus ada jejak komentar pada salah satu karya author. Kedua Sebutkan lima pemeran novel author bebas, tulis di permintaan gabung ya.
Silahkan**...