Gemilang Ku

Gemilang Ku
81 ~ Rumah keluarga Munaj


__ADS_3

Mou tersentak kaget ketika mendengar suara yang tak asing baginya. Lalu menoleh pada sumber suara dengan mata yang membelalakkan sempurna.


Gemilang berjalan kearahnya dengan senyuman manisnya. Ia masih tercengang dengan panggilan sayang yang begitu nyaring. Namun, setelah tersadar semua mata tertuju padanya, ia segera menunduk karena malu.


"Kan aku udah bilang, telepon dulu kalo mau nyebrang." Meraih tangan Mou untuk digenggam.


"Tadi bareng sama temen-temen," ucap Mou tak berani mendongak, karena ternyata disana banyak teman sekampus nya.


"Yasudah, ayo." Gemilang segera mengajak Mou untuk bergabung bersama dua manusia yang berada di pojokan.


"Kamu kenapa sih?" tanya Gemilang saat Mou terus bersembunyi dibalik punggungnya.


Tersenyum hambar dan menggeleng, kalau ini sih sama saja mengumumkan bahwa mereka adalah sepasang. Semua mata tak berhenti menatap padanya dan Gemilang.


"Yang sabar ya Mou," ucap Ben ikut prihatin.


"Nggak papa kok, aku suka." Mou tersenyum, segera duduk disusul oleh Gemilang.


"Suka apa?" tanya Gemilang tak paham.


"Suka kamu." Jawab Mou yang membuat Ben dan Exel saling berpandangan, lalu menggeleng-gelengkan kepala.


"Mau muntah gue sumpah," Ben memasang wajah enek nya.


Mou terkikik melihatnya, "kalian baru sampai?" tanya Mou sembari menguncir rambut panjangnya.


"Dari tadi sih," jawab Exel menelan ludahnya ketika melihat leher jenjang yang begitu mulus.


Gemilang yang sadar akan hal itu segera melepaskan ikat rambut Mou. Karena semua laki-laki tadi juga menatap kearahnya.


"Kenapa?" tanya Mou menoleh.


"Jangan di kuncir," ucap Gemilang merapikan rambut Mou.


Mou segera mengangguk, dan meraih secangkir kopi dihadapannya. "Punya Abang?" tanya Mou.


Gemilang segera merebut kopi itu. "Iya, tapi jangan tadi udah diminum sama Ben, tunggu sebentar aku sudah pesan untuk mu."


"Kenapa sih, gue nggak rabies ya." Ben menatap malas manusia posesif di hadapannya.


Pandangan Mou tiba-tiba bertemu dengan segerombol laki-laki yang ternyata teman sekampusnya. Mou menunduk lalu tersenyum untuk sekedar menyapa.


"Jangan lihat-lihat," ucap Gemilang menggenggam tangan Mou.


"Temen sekampus Mou, Abang." Jelas Mou.


"Kenapa sih nih anak," ucap Exel geli sendiri melihat tingkah laku Gemilang, jujur saja ini baru yang pertama kalinya melihat Gemilang seperti ini pada wanita. Jadi, waktu Gemilang mengatakan bahwa ia menyukai Mou ia langsung mundur.


"Gue ada ide," ucap Ben tiba-tiba.


"Apa?" tanya Gemilang.


Bukannya menjawab Ben malah berdiri, "Permisi semuanya, yang merasa teman sekampus Mou, hari ini boleh makan disini sepuasnya. Yang traktir laki-laki di depan saya, calon suami Mouresa."

__ADS_1


Mou membulatkan matanya seketika, "Ben!" gerutu Mou.


Tapi semua orang tampak bertepuk tangan karena akan mendapatkan makanan gratis.


Ben kembali duduk, "Traktir semua orang disini nggak akan buat lo miskin, biar semua orang tahu bahwa Mouresa milik lo." jelas Ben.


"Lo ngerjain Gemilang kan," tuduh Exel terkekeh.


"Nggak lah, biar sekali-kali hartanya itu ada gunanya." Ben menyembunyikan senyumnya.


"Jadi, maksud lo itu harta gue nggak ada gunanya. Asal lo tahu, nasib beribu-ribu karyawan bergantung pada harta gue." Jelas Gemilang jengkel.


"Eh, bukan gitu." Elak Ben. "Kan selama ini lo beli apa-apa buat diri lo sendiri."


"Siapa bilang!"


"Udah-udah jangan berantem," ucap Mou beralih menatap Gemilang. "Abang maaf ya," ucapnya begitu sungkan.


Gemilang menggeleng "Nggak papa, bukan masalah besar."


"Biar Mou saja yang bayar," mendengar hal itu membuat Gemilang tersenyum. Mou selalu sesungkan itu pada dirinya.


"Jangan Mouresa," ucap Gemilang meraih dompetnya. Menyerahkan dompet kulit berwarna hitam itu pada Ben. Tentu saja Ben sudah tahu tugasnya, segera menuju meja kasir untuk membayar.


"Mou, rumah lo jauh ya dari sini?" tanya Exel.


"Enggak kok, kalian mampir ke rumah aku dulu saja. Sudah disiapkan makan siang sama Bi Eti," ucap Mou menoleh pada Gemilang. "Papa nyuruh Abang sama yang lainnya kesana dulu, kalau nanti malam mau ke hotel gapapa."


"Oke," jawab Gemilang. "Tapi nanti sore main ke pantai ya."


Mou mengangguk dan sangat bersemangat. Ia, pantai, dan Gemilang. Hem... benar-benar indah.


.


.


.


"Jangan sungkan, ayo masuk." ucap Toro mempersilahkan.


"Baik pak," jawab Ben dan Exel segera memasuki rumah megah dengan cat putih yang mendominasi ini.


"Mau dihalaman belakang aja?" tawar Mou pada mereka.


"Terserah." jawab Exel.


"Jangan dong Mou, masak tamu disuruh duduk halaman belakang." Ucap Toro, meskipun ia tahu Mou suka udara terbuka.


"Di ruang tengah saja," ucap Toro kemudian. "Bibi sudah menyiapkan makanan disana."


"Iya, Pa." jawab Gemilang.


Ben dan Exel saling berpandangan ketika Gemilang memanggil Toro dengan sebutan papa.

__ADS_1


Mereka menuju lantai dua. Layar monitor 50 inchi, dikelilingi sofa memanjang tertata rapi disana. Jendelanya dibiarkan terbuka sehingga angin berhembus masuk dalam rumah, bunga-bunga cantik juga bermekaran diluar jendela.


"Kalian santai disini dulu saja ya, saya mau ke bawah sebentar." Toro berlalu darisana, membiarkan para anak muda berbincang-bincang.


"Enak ya punya rumah disini," ucap Ben mengamati luar jendela. Rumah keluarga Munaj ini memang dikelilingi oleh pohon-pohon besar, yang membuat udara begitu segar tanpa polusi.


Gemilang segera merebahkan tubuhnya pada sofa, sengaja berbantal paha Mou yang sudah duduk manis disana.


"Kayaknya gue juga mau beli rumah disini aja deh." Exel mendekati jendela, menikmati keindahan alam.


Mou meraih remote control untuk menyalakan televisi. "Silakan dimakan," ucap Mou menunjuk dengan dagu pada meja yang penuh dengan aneka kue dan camilan.


Ben segera berbaring pada sofa yang nyaman, "kayaknya asik juga kalo jadi mantunya pak Toro."


Satu bantal sofa langsung melayang pada wajah Ben.


"Abang," gerutu Mou memegangi lengan Gemilang yang hendak melemparkan bantal lagi.


"Iya-iya," jawab Gemilang menghela nafasnya. Membawa tangan Mou agar memeluk tubuhnya.


Mou tersenyum memandangi sosok rupawan yang tengah berbaring di pahanya. Mengusap rambutnya penuh sayang. Debaran jantungnya semakin kencang tatkala netra tajam itu juga menatapnya.


Tatapan yang begitu menghujam, membuatnya tersipu dan segera mengalihkan pandangannya.


Gemilang terkekeh melihatnya, "kenapa malu?" tanya nya menangkup wajah Mou.


"Gak papa," jawab Mou mengalihkan pandangannya pada layar televisi.


"Pipi kamu merah," ucap Gemilang lagi mencubit gemas pipi bulat itu.


"Abang" gerutu manja yang membuat Gemilang selalu ingin menjahilinya.


"Kita serasa ngontrak ya," ucap Exel mengambil satu kue dan melahapnya.


Ben yang sedang sibuk dengan ponselnya menoleh, "bodo amat, males banget gue."


"Dek!" satu suara yang membuat Gemilang segera terbangun. Ia sangat mengenali suara itu.


"Kayaknya bang Roman deh," ucap Mou bersemangat.


Gemilang menelan ludahnya kasar ketika melihat Roman yang menggendong Ara yang tengah terlelap menuju kearahnya. Lalu beralih menatap Exel yang juga nampak terkejut.


"Sayang, kayaknya botolnya Ara ketinggalan deh," ucap wanita cantik yang berada di balik punggung Roman, masih sibuk mencari sesuatu di tas nya.


Namun tas itu terjatuh ketika melihat sosok tegap tengah berdiri disana dan pandangan mereka bertemu detik itu juga.


.


.


.


LIKE, KOMEN, AND VOTE GAESSS 💋

__ADS_1


__ADS_2