Gemilang Ku

Gemilang Ku
88 ~ Menikmati waktu


__ADS_3

Kamar Mou terlihat lebih berantakan dari biasanya, kertas-kertas yang berhamburan menjadi saksi bisu perjuangannya untuk skripsi tahun ini. Pokoknya ia harus lulus dengan nilai yang memuaskan agar bisa kuliah di London secepatnya.


Wanita cantik itu masih sibuk dengan laptopnya, sesekali mencacat hal-hal penting pada selebaran kertas. Membolak-balik halaman buku tebal disamping laptopnya.


Hari ini adalah jadwal konsultasi dengan dosen galaknya. Tidak papa, semakin galak semakin menantang untuk segera menyelesaikannya.


Saat alram ponselnya berbunyi, Mou segera beranjak untuk mandi. Mou benar-benar memperhitungkan jadwalnya akhir-akhir ini.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Mou memasukkan laptop dan buku-bukunya pada tas ransel.


Memoleskan sedikit makeup pada wajah cantiknya.


"Finish." Gumam Mou segera memakai sepatunya.


Menuruni tangga dengan terburu-buru. "Sayang makan dulu." Teriak Toro dari meja makan.


Mou berlari kecil kearah Papa nya, mencium sekilas pipi laki-laki paruh baya itu. Mengambil sandwich yang terletak di meja sebelum akhirnya melangkah pergi lagi.


"Mou buru-buru, Pa."


Toro hanya geleng-geleng kepala melihat Mou yang super sibuk akhir-akhir ini.


.


.


.


Langit mulai menggelap, matahari mulai membenamkan sinarnya. Mou melangkah gontai menuju rumahannya, lemas sekali rasanya perjuangannya hari ini.


Sudah hampir pukul enam sore, ia baru menginjakkan kakinya di rumah. Sejak pagi hanya sempat menelan sandwich dan beberapa camilan saja. Belum menyentuh nasi sama sekali.


Jadi, tujuannya adalah dapur. Sudah tersedia banyak makanan disana. Mengambil piring dan langsung mengisi perutnya dengan berbagai makanan ini.


"Enak" Seseorang tiba-tiba muncul dari kamar mandi dapur.


"Bang Sam," ucap Mou dengan mulut penuh.


"Makan dulu," ucap Sam mempersilahkan.


Moh mengangguk dan mengangkat jempolnya.


"Papa kemana?" tanya Mou yang sudah berhasil menandaskan makanannya, lalu meneguk segelas air putih.


"Udah berangkat ke Jakarta." Mendengar nama kota itu membuat Mou teringat seseorang, sudah minggu ketiga tapi Gemilang belum juga kesini. Katanya Gemilang sedang ada proyek besar diluar kota.


Alhasil, Mou masih belum membaca tentang niatnya untuk kuliah ke luar negeri.


Helaan nafas panjang Mou membuat Sam paham apa yang tengah dipikirkan adiknya.


"Kenapa nggak telepon dia kalau kangen." Memejamkan matanya sejenak kemudian menatap Sam. "Mou sudah telepon kapan hari, yang penting dia baik-baik saja."

__ADS_1


Sam mengangguk, "jangan bilang Papa kalau Abang menginap disini."


Mou tertawa kecil karena itu, memang abangnya satu ini sangat menjunjung harga diri. "Memang kenapa kalau papa tau, bukannya sudah baikan."


"Sudahlah menurut saja." Sam mengacak-acak rambut Mou sebelum pergi meninggalkan dapur.


"Bang Sam!" gerutu Mou.


.


.


.


Mou membenamkan wajahnya pada kedua lengannya. Wajah wanita itu terlihat sangat lelah sekali, sampai-sampai tertidur di bangku perpustakaan.


Buku yang ia baca masih terbuka, bahkan tangannya masih memegang pulpen di posisi yang seperti itu.


Usapan lembut pada pipinya membuat Mou menggeliat. "Papa, Mou masih ngantuk." Gumam Mou masih dengan mata yang terpejam.


"My moon, jangan tertidur disembarang tempat." Suara khas yang dimiliki oleh laki-laki itu membuat Mou membuka matanya.


Mou sampai mengucek-ngucek matanya karena tidak percaya melihat Gemilang disini.


"Kamu?"


"Iya, aku Mouresa." Gemilang tersenyum kecil sebelum merengkuh tubuh Mou dalam dekapannya.


Biarlah pelukan hangat ini sebagai bukti bahwa mereka saling merindukan satu sama lain. Tidak perduli dengan mata yang memandang kearahnya.


"Abang kapan pulang dari luar kotanya?" tanya Mou merenggangkan pelukannya, menatap netra tajam yang sangat ia rindukan itu.


Gemilang mengusap lembut rambut Mou. "Tadi pagi, terus langsung kesini."


Mou mengangguk memeluk tubuh itu sekali lagi. Gemilang terkekeh melihat Mou yang begitu manja.


"Kita pulang ya, jangan tidur-tiduran sendiri di perpustakaan lagi, bahaya." Peringat Gemilang.


.


.


.


Mou mengajak Gemilang kerumahnya yang kebetulan sedang sepi. Tidak ada siapapun, Bang Roman dan Jen sudah kembali ke Jakarta beberapa hari lalu. Sedangkan bang Sam katanya pergi bersama teman-temannya.


Setelah menyuruh Gemilang membersihkan diri dan makan. Kini mereka berada di ruang tengah, membiarkan Gemilang berbaring di sofa berbantal pahanya.


"Capek ya?" tanya Mou karena terlihat sekali lingkaran hitam dibawah mata Gemilang.


Gemilang mengangguk dan tersenyum. Membawa tangan Mou agar memeluk tubuhnya. "Aku mau tidur sebentar saja, setelah itu baru kita kencan ya."

__ADS_1


"Iya, Abang tidur saja."


Mou mengusap lembut rambut Gemilang, sesekali meninggalkan kecupan manis disana. Matanya memanas seketika ketika membayangkan betapa nanti Gemilang akan kecewa pada dirinya.


Sebelumnya ia memang tak pernah berpikir sedikitpun untuk kuliah di London. Tapi mengingat sikapnya yang masih seperti ini membuat Mou tidak ingin lagi ada yang kecewa karena dirinya.


Menepis buliran bening yang jatuh, menghela nafas panjangnya. Bagaimanapun setelah ini ia harus mengatakan semuanya pada Gemilang.


.


.


.


"Kalian ngapain di rumah berduaan." Sam menatap sengit pada sang rival.


Gemilang yang sedang melahap bakso langganan Mou pun menoleh, menatap malas pada manusia satu itu.


"Ini, makan." Jawab Mou dengan polosnya.


Terkekeh geli Gemilang segera mencubit gemas pipi bulat Mou.


"Abis ini mau kencan sih," ucap Gemilang penuh kesombongan.


"Jangan ngarep gue ijinin ya."


"Mou udah ijin kok sama Papa." Gemilang kali ini menertawakan Sam begitu puas, senang sekali melihat wajah kesal laki-laki itu.


"Terserah deh." Sam mendengus kesal sebelum melangkahkan kakinya menaiki tangga.


"Mau kencan kemana?" tanya Gemilang.


Mou tampak berpikir, "hari ini di rumah saja ya, kasihan Abang kayaknya capek."


"Nggak papa kok Mou sudah biasa, tapi kalau kamu maunya di rumah juga nggak papa. Asalkan Sam nggak keluar kamar." Gemilang menatap malas pada sosok yang baru saja memasuki kamarnya.


"Kita nonton saja gimana?" tanya Mou bersemangat.


"Setuju, tapi harus horor ya" ucap Gemilang tersenyum jahil.


Bibir Mou mengerucut ketika mendengar kata horor. Menggeleng kuat dan berkata "Mou takut."


"Kan ada Abang," ucap Gemilang menepuk-nepuk dadanya lalu mengedipkan sebelah matanya.


.


.


.


MAAF BARU SEMPAT UP, LAGI SIBUK.

__ADS_1


LIKE,KOMEN, AND VOTE GAES. 🥰


__ADS_2