
Seorang wanita cantik yang mengenakan rok span diatas lutut dengan kemeja panjang nya, memasuki Elang Group.
ia berjalan dengan anggunnya bak model catwalk , tentu semua mata tertuju padanya, karena ia adalah sosok baru disini dan selain itu ia juga sedikit berbeda dari orang Indonesia kebanyakan.
Kulitnya lebih putih, matanya sipit dan tubuh molek nya adalah bonus baginya. . .
"pagi mbak Raisa" sapa nya sopan pada wanita yang sudah berkutik pada layar komputer nya itu.
"pagi Mou" sapa Raisa, memang mereka sudah berkenalan beberapa hari yang lalu, dan tentu saja Ben sudah menceritakan semuanya tentang Mou.
"boleh duduk" tanya Mou menunjuk kursi dihadapan Raisa.
"oh iya, santai aja" jawab Raisa mempersilahkan.
Mou tampak menoleh pada pintu yang tertutup diruangan besar itu, mencari sosok laki-laki yang katanya sudah sembuh.
"pak bos belum Dateng" ucap Raisa yang mengerti hal itu.
"Eh" sontak Mou tersenyum kikuk karena itu.
"Mou ini jadwal pak Ben selama kedepannya, Bu Dessy sudah menitipkan ini kemarin" ucap Raisa menyerahkan secarik kertas pada Mou.
"untuk sepekan ini, jadwal pak Ben lumayan longgar jadi kamu tidak perlu khawatir karena pak Ben sendiri yang akan mengajarimu" ucap Raisa kemudian tersenyum.
Mou masih menganga mendengarnya, cara berbicara Raisa sungguh luar biasa , bahkan ia menyebutkan pak pada Ben pacar nya sendiri, jadi bisa Mou simpulkan bahwa Raisa memang sosok yang profesional.
"Terima kasih mbak" ucap Mou lalu tersenyum.
"Bu Dessy buru-buru cuti , karena perkiraan lahirannya dipercepat, jadi beliau tidak sempat mengajari mu Mou" jelas Raisa kembali menatap layar komputernya.
"iya mbak , nggak papa kok" ucap Mou kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki yang baru saja datang.
"Ben" sapa Mou kemudian tersenyum, lalu dibalas senyuman oleh Ben.
"kamu bisa memanggil nya bapak Mou" ucap Raisa tersenyum sopan.
"santai, belum jam kerja" ucap Ben yang memang sudah biasa dengan sikap Raisa, wanita itu bagaikan robot jika sudah bekerja.
Setelah itu Ben mengajak Mou untuk keruangan nya yang terletak di samping ruangan Gemilang.
"ini meja kamu Mou" ucap Ben menunjuk meja yang berada didepan pintu, "dan yang disana meja kerja saya" ucap Ben menunjuk meja yang cukup besar juga dengan sofa di depannya.
Ruangan Mou dan Ben hanya dibatasi oleh rak buku saja, sehingga mereka tetap bisa berkomunikasi ataupun bertatap mata secara langsung.
Mou mengangguk paham "mohon bantuannya ya pak Ben" ucap Mou yang membuat Ben terkekeh geli.
"nggak pantes banget sih" ucapnya kemudian melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya dan diikuti oleh Mou.
"kamu nggak pantes Mou kalau jadi robot kayak Raisa" ucap Ben menghempaskan tubuhnya pada kursi besarnya.
"masa pacar sendiri dibilang robot sih" ucap Mou kemudian melipat bibirnya "Eh keceplosan, harus nya formal ya" ucap Mou memamerkan gigi cantiknya.
"kalo di depan orang-orang aja, kalo lagi berdua santai aja" ucap Ben.
__ADS_1
"iya pak".
"Pagi ini saya ada meeting di meeting room satu, jadi tugas kamu belajar saja, saya sudah mengirimkan email mengenai tugas-tugas kamu kedepannya".
"Baik pak".
Namun pandangan mereka berdua teralihkan pada suara pintu yang terbuka...
Ceklek
Sosok laki-laki yang gagah itu tersenyum lebar pada mereka berdua, dan langsung menghampiri mereka.
"Morning" sapa nya tersenyum manis pada Mou.
"Ngapain Lo disini" ucap Ben manatap malas padanya.
"ngapel" jawabnya sembari mengerlingkan sebelah matanya.
Ben hanya berdecak kesal mendengarnya, namun ia mengingat sesuatu "Lo ikut meeting?" tanya nya.
"Menurut Lo" ucap Exel lalu duduk dihadapan Ben, sedangkan Mou yang masih berdiri hanya menatap sinis pada Exel.
"meeting nya jam sembilan bambangg, ngapain Lo dateng jam segini" ucap Ben.
"Lo ngapain sih sensi, gue kan cuma mau melihat keindahan Tuhan yang satu ini" ucap Exel tersenyum manis pada Mou.
"maaf pak Ben, jika sudah tidak ada yang bapak bicarakan saya mau ke meja kerja saya dulu" ucap Mou tanpa memperdulikan Exel.
"iya Mou, lebih baik kamu segera pergi ada predator disini" ucap Ben yang membuat Exel ingin sekali melemparkan buku tebal dihadapannya ini pada nya.
Setelah itu entah apa yang Ben dan Exel bicarakan, Mou tak paham karena suasana yang tadinya penuh candaan seketika berubah menjadi mencekam , tampaknya mereka membicarakan masalah perkejaan hingga keduanya nampak serius.
Mou menatap monitor didepannya, ia membaca email yang sudah dikirim oleh Ben, tugasnya selama menjadi sekretaris wakil direktur.
Mou menghela nafasnya, ternyata tidak semudah yang ia bayangkan , karena kadang jadwal Ben begitu sibuk setiap harinya.
.
.
.
Pada pukul sebelas tiga puluh, semua karyawan nampak meninggalkan pekerjaannya masing-masing, waktunya mengisi perut untuk menambah kembali stamina.
Namun tidak dengan Mou, ia terus mempelajari beberapa file yang sudah diberikan oleh Ben, sedangkan Ben ia tidak kembali keruangan nya setelah berpamitan untuk meeting dengan Exel.
Ketukan di pintunya membuat Mou menoleh.
"iya".
Ceklek
"Mou tolong anterin makanan yang di meja aku ke ruangan Dirut sebentar ya, aku kebelet pipis" ucap Raisa yang nampak tergesa gesa.
__ADS_1
"iya mbak" ucap Mou segera beranjak.
Mou mengambil kantong plastik yang sepertinya berisikan box makanan itu dan juga minuman yang sudah tersedia di nampan.
Tangan lentik Mou mengetuk pintu ruangan itu dengan ragu.
"masuk" sahutan suara didalam sana, Mou menggunakan sikunya untuk membuka pintu.
"permisi pak" ucapnya dengan sopan menatap tiga laki-laki yang saat ini juga tengah menatapnya.
Gemilang segera berdiri menghampiri Mou dan mengambil alih nampan yang nampaknya terlalu berat untuk Mou bawa.
Mou baru saja hendak protes namun Gemilang malah melangkahkan kakinya seenak jidatnya.
"wah, jarang-jarang dilayanin sama pak bos hahahaha" ucap Ben terkekeh.
"makasih Mou" ucap Exel tersenyum manis pada Mou, sungguh Gemilang ingin muntah melihatnya.
"sama-sama" jawab Mou kemudian mengeluarkan box makanan itu dan menaruhnya pada meja.
"silahkan dimakan" ucap Mou yang hendak berbalik.
"kamu udah makan?" tanya Gemilang yang membuat bibir Mou terangkat sekilas, lalu ia menoleh "saya nggak biasa makan pak" ucapnya tersenyum, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.
Apa maksud nya? tidak biasa makan.
"Mou!" panggil Exel.
Lagi-lagi Mou menoleh "iya pak" ucapnya dengan sopan.
"kamu cantik" pujinya dengan terang-terangan, bukannya menjawab Mou hanya mendengus kesal kemudian segera menutup pintu.
"Lo gila ya" ucap Ben yang tak habis pikir dengan buaya darat ini.
"ayolah brother, kaum wanita suka dipuji" ucapnya meraih jus yang tadi dibawakan oleh Mou, lalu meneguknya.
"nggak tau lagi deh gue, siapapun Lo gituin, Lo Embat aja semua sana".
"iri aja Lo" ucap Exel tersenyum mengejek "body nya bagus juga kalo pakai rok yang begitu" ucap Exel membayangkan betapa indahnya tubuh wanita itu.
Rahang Gemilang mengeras semenjak tadi, mencoba untuk tidak menghajar laki-laki dihadapannya.
Namun tetap saja Gemilang tidak berhak akan hal itu, ia masih tahu diri . . . dan ini justru membuat semangat nya berkobar untuk mendapatkan Mou, agar ia berhak pada wanita itu, agar Gemilang bisa memiliki hak untuk menghajar laki-laki manapun yang berani mendekati Mou.
Sedikit saja Mou memberikan harapan padanya, Gemilang pastikan tidak akan ada laki-laki manapun yang berani mendekati nya termasuk si Exel sialan ini.
Namun Gemilang tidak mau gegabah, toh sepertinya Mou juga tidak tertarik dengan Exel.
"Gem panas ya" ucap Ben tersenyum penuh arti "mau gue gedein lagi AC nya hahahaha" Ben tertawa renyah ketika melihat wajah Gemilang menahan emosinya.
.
.
__ADS_1
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS , KALIAN INSPIRASI KUH 💋