Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 141 ~ Gemilang POV


__ADS_3

Rasa kantuk yang melanda, hilang seketika saat mendengar bayi mungilku menjerit-jerit. Mataku yang masih setengah terpejam langsung terbuka dengan sempurna.


Aku tersenyum manis pada sosok mungil di samping ku. Matanya sudah basah dengan wajah yang memerah. Kakinya menendang-nendang terlihat begitu kesal saat di biarkan sendirian.


"Maafin Daddy ya." Aku segera membawa tubuh mungil itu dalam gendonganku. "Tadi Daddy ngantuk, ketiduran, capek banget." Hobi baruku adalah mengadu pada putri kecilku. Menumpahkan segala keluh kesal ku pada kesayanganku ini.


"Meskipun begitu, rasa lelah Daddy hilang kalau melihat putri cantik." Aku tak kuasa untuk mencium gemas pipi bulatnya. Aroma ini benar-benar menjadi candu kedua setelah Mommy nya Mezza.


"Mezza haus ya?" ucap seseorang yang tiba-tiba mengalihkan perhatianku, bahkan duniaku juga ikut teralihkan saat melihatnya hanya mengenakan selembar handuk dan menampilkan kulit mulusnya.


"Sayang, pakai baju dulu," omel ku saat dia malah mendekati ku.


Istriku malah tersenyum jahil dan melingkarkan tangannya pada bahuku. "Padahal tadi lagi pengin sama kamu, tapi Mezza bangun nggak jadi deh," ucapnya menggodaku. Kesal sekali, istriku selalu tersenyum penuh kemenangan saat waktu untukku dicuri oleh Mezza.


"Cepat sana ganti baju," ucapku pura-pura kesal. Mou hanya akan memperhatikanku saat aku merajuk, semenjak ada Mezza waktu kita berdua benar-benar kurang, bahkan terpangkas habis. Tidak apa-apa yang penting waktu tengah malam dia hanya milikku saja, itupun jika Mezza tidak terbangun.


"Iya-iya Abang." Senyuman Mou yang seperti ini yang selalu membuat pertahanan ku runtuh. Bagaimana tidak, setiap harinya dia melayani ku dan juga merawat anakku dengan sangat baik. Hal itu mampu membuatku jatuh cinta lagi padanya di setiap detik.


Setelah berganti pakaian santai, Mou kembali mendekat padaku dan Mezza yang terus merengek.


"Cup sayang, ini Mommy sudah selesai." Mengambilalih tubuh mungil itu dariku menimang buah hati kami penuh sayang. Mataku tak teralihkan sedikitpun pada dua sosok cantik dihadapan ku.


"Duduk sini," ucapku menepuk-nepuk sisi kosong di sampingku.


Mou segera duduk dan menyusui Mezza. Aku menyandarkan kepalaku pada bahu Mou yang penuh dengan kehangatan. Tangan besarku merengkuh tubuh mereka bersamaan agar damai di pelukanku.


"Kalau ngantuk tidur aja, Abang pasti capek kan," ucap istriku mencuri satu kecupan singkat pada keningku.


"Iya, tapi masih kangen banget sama kalian berdua," ucapku yang terus bersitatap dengan mata sipit putriku. Tidak bertemu dua puluh empat jam saja rasanya seperti setahun.


"Mezza juga waktunya bobok kok, nanti kalian berdua tidur saja biar aku masak."

__ADS_1


Aku menggeleng cepat, rinduku padanya sudah membeludak dan siap untuk dileburkan. "Nggak usah masak, biar bibi aja. Aku lagi pengin makan kamu."


Matanya mendelik ke arahku. "Siang-siang bolong begini?" tanyanya begitu menggemaskan.


"Iya tunggu Mezza tidur," jawabku menaruh telapak tangan besarku pada depan wajah Mezza dan segera mencicipi rasa manis dari bibir kenyal istriku.


"Abang!" gerutu Mou saat aku tak kunjung mengakhiri ciuman panas itu.


Aku malah terkekeh geli melihatnya dan beralih pada Mezza yang ternyata sudah terlelap. "Tuh kan tidur," ucapku dengan gembira.


"Sekarang giliran Daddy mu ya anak cantik," ucapku yang mendapatkan sikutan dari istriku tercinta.


"Hahahaha..."


.


.


.


Detik selanjutnya ia malah terbangun sembari memegangi selimut yang masih melilit tubuhnya. "Mezza mana?" ucapnya dengan khawatir.


Aku terkekeh geli melihatnya lalu menarik tangannya agar kembali berbaring dan berbantal lenganku. "Sama Mamii, sekarang waktunya buat kita berdua. Biar Mezza main sama Mamii Papii dulu."


Mou tersenyum kecil dan segera memeluk tubuhku. Mengendus-endus aroma tubuhku yang belum mandi dan habis berkeringat.


"Kamu kemarin keluar?" tanyaku sembari mengecup manja rambut wanginya.


"Nggak," jawab Mou yang aku sudah tahu pasti ia berbohong.


"Kemarin kamu ke SA Resto kan?" ucapku tersenyum kecil membawa dagunya agar menatapku.

__ADS_1


"Nggak Abang," jawab Mou masih mengalihkan pandangannya.


Ku kecup bibirnya dengan manis dan aku bisiki. "Aku dan Della hanya rekan kerja sayang, kenapa kamu masih meragukan kesetiaan ku."


Dia hanya terdiam dan menatap dalam padaku, detik selanjutnya cairan bening mulai luruh dengan derasnya. "Tapi dia mantan kamu," ucapnya dengan tercekat.


Hatiku bagai terkoyak-koyak ketika melihatnya sesedih ini. "Sayang, sssstttt... bukan dia mantanku." Aku membelai pipinya dengan lembut menghapus setiap tetes air mata yang jatuh.


"Maksud Abang?" tanyanya begitu penasaran.


"Mereka kembar," ucapku terkikik. "Mantanku itu Dilla bukan Della." Satu cubitan mendarat pada perut ku yang tak lagi sispack.


"Sakit sayang," keluhku.


"Abang jahat!" Tubuh seksi nan sintal itu hendak menjauh tapi aku tahan dan segera ku rengkuh.


"Tidakkah kamu melihat seberapa besarnya cintaku padamu." Mengecupi pipinya bertubi-tubi seolah itu saja tak cukup untuk membuktikan perasaanku yang selalu membuncah saat dekat dengannya.


"Kamu adalah duniaku, Mouresa. Tempat dimana aku dan Mezza berlabuh, tempat kami pulang. Terimakasih sudah menjadi rumah senyaman ini."


Aku tatap mata indah itu dalam-dalam, menyelami dalamnya perasaan diantara kita berdua. Ingatan sewaktu pertama kali bertemu membuatku semakin berdegup, gadis menyedihkan di dalam tenda ini mampu membuat hatiku terkunci dengan rapatnya. Dari dulu hingga saat ini hanya dia di dalamnya.


Setelah beberapa tahun tidak bertemu dia bahkan berubah menjadi gadis cantik yang luar biasa. Bahkan aku yakin hanya dengan menghirup aromanya saja bisa membuat orang jatuh cinta. Apalagi sikapnya yang selalu hangat dan penuh dengan perhatian.


Wanita yang penuh dengan kelembutan berbanding terbalik denganku yang begitu keras dan mudah emosi. Terimakasih sudah melengkapi perbedaan ini. Hanya seorang Resa Moon yang mampu meredam amarahku. Meleburkan bongkahan es dengan segala kehangatannya.


Mungkin duniaku akan benar-benar runtuh jika Mou tidak kembali dari London waktu itu. Menikah dengannya dan memiliki anak dari wanita yang sangat aku cintai adalah sebuah anugerah terindah.


"Aku mencintaimu, bulan sabit ku." Mengecup kening istrinya ku dengan lembut bukti tulusnya cintaku padanya.


Belum sempat ia menjawab, bibirku sudah berlabuh di bibir tipisnya. "My moon, tetap di sampingku selamanya ya."

__ADS_1


Oh, astaga tiba-tiba saja mataku ikut basah. Membuat istriku tersenyum manis dan mengangguk. Membawa aku dalam dekapannya.


"I love you, Mouresa Munaj."


__ADS_2