Gemilang Ku

Gemilang Ku
63 ~ Perjuangan dimulai


__ADS_3

"Besok mau aku jemput?" tanya Gemilang pada Mou.


Suasana rumah sudah sepi, kini Mou mengantarkan Gemilang di depan pintu rumah. Untung saja Sam sudah tidur karena kelelahan bekerja, jadi Gemilang tidak perlu beradu mulut dengannya.


"Nggak usah, aku dianter bang Roman besok" ucap Mou menatap malu-malu pada Gemilang, kenapa selalu seperti ini jika tinggal berdua saja.


Jantungnya benar-benar membuat tubuhnya lunglai, memang tak sehat lama-lama berdekatan dengan Gemilang.


Tapi Mou suka.


"Yaudah, besok aku ada jadwal pagi. Kemungkinan sore baru balik kantor dan malem kita ke acara nya mantan kamu" kata-kata mantan Gemilang ucapkan dengan jengkel. Membayangkan Mou pernah berpacaran dengan laki-laki itu membuat darahnya mendidih.


"Abang nggak capek?" tanya Mou yang sebenarnya sudah tahu jadwal Gemilang setiap hari memang seperti itu. Tapi hebatnya laki-laki itu selalu bisa mengatur waktu untuk dirinya, makan siang atau kencan malam setelah pulang kerja.


Gemilang tersenyum kecil menatap bulan sabitnya "Aku lelah, sangat" jujurnya.


"Tapi ada sesuatu yang harus aku perjuangkan. Perusahaan, mimpi-mimpi aku dan juga" ucap Gemilang menggantung.


"Apa?" ucap Mou penuh tanya.


"Kamu, Mouresa" meraih tangan Mou untuk digenggam.


Mou tersipu karena itu, mana ada wanita yang tidak bahagia sih kalau Gemilang selalu seperti ini.


"Aku akan segera menjadikan kamu milikku" ucap Gemilang begitu tidak rela jika nanti akan ada laki-laki yang mendekati Mou.


Tidak boleh!


"Makannya jangan berantem terus sama bang Sam" ucap Mou mencebikkan bibirnya, mereka selalu adu mulut seperti itu bagaimana abangnya luluh.


"Kenapa kamu mikirin Sam, dia sudah pasti setuju. Yang perlu kamu pikirkan itu papa kamu" ucap Gemilang lemah mengingat hal itu.


Mou mengeratkan genggaman tangannya "Abang semangat ya" ucap Mou mengusap-usap lengan Gemilang dan segera merapatkan tubuhnya, mencari kehangatan pada laki-laki itu.


"Kalo kamu nempel gini terus sih, semangatnya bukan main" ucap Gemilang tertawa dan mengacak-acak rambut Mou.


"Abang ih" gerutu Mou merapikan rambutnya, senyuman manis terselip di bibir mungilnya.


"Aku bisa gila jika tidak cepat-cepat menjadikan mu milikku" Gemilang benar-benar mendambakan bibir itu, apalagi disaat Mou tersenyum dengan mata yang menyipit.


Ciptaan mu begitu luar biasa Tuhan.


.

__ADS_1


.


.


"kamu yakin Gem akan menjalankan rencana itu untuk mendekati Papa" ucap Roman diseberang sana.


"iya bang, aku nggak bisa berdiam diri lebih lama lagi" ucap Gemilang yang baru saja memasuki jet pribadi miliknya, tangannya terlihat sibuk membolak-balik halaman map.


"Jangan sampai Papa tersinggung dengan rencana mu, hati-hati . . .kamu tahu sendiri kan beliau bukan orang yang mudah luluh begitu saja, kamu cukup buktikan saja jika kamu memang pantas untuk Mou" Jelas Roman panjang lebar.


"iya bang, thanks buat support nya. Sekarang aku harus segera berangkat" ucap Gemilang melihat jam tangannya.


"Iya Gem, Abang juga mau nganter Mou dulu ini"


"Salam rindu buat Mou ya bang" ucap Gemilang terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri, disusul tawa renyah Roman.


"Jangan lebay Gem, Abang tahu kalian kemarin di teras sampai larut malam kan".


"Eh, ketahuan deh. . . ahahahahahah".


.


.


.


Perjuangan dimulai!.


"Sudah buat janji pak?" tanya seorang resepsionis, membungkukkan badannya sopan pada mereka.


"Sudah, atas nama Elang Group" jawab Yohan, sedangkan Gemilang terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Pak Gemilang" sapa orang diseberang sana.


Sebenarnya Roman sudah membuatkan Gemilang janji dengan Papa nya, tanpa sepengetahuan Toro tentunya, ia hanya memberitahu assisten pribadi Papa nya.


"Iya" jawab Gemilang tampak acuh, selalu kesal dengan cara wanita memandangnya.


"Mari sudah ditunggu pak Toro" ucapnya tersenyum. Yohan yang paham akan situasi itu segera menghampiri dan berjalan ditengah-tengah mereka.


"Silahkan masuk pak" ucap wanita itu membukakan pintu, bahkan matanya tak berkedip menatap Gemilang. Bukan hanya kaya namun juga ketampanannya yang jarang ia tunjukkan pada media. Gemilang sangat pelit foto dan selalu menghindari wartawan.


Gemilang menghela nafasnya dan memasang senyuman ketika memasuki ruangan itu "Selamat pagi pak Toro" sapaan Gemilang yang membuat laki-laki paruh baya yang tengah bergelut dengan laptopnya itu menoleh.

__ADS_1


Toro mengernyitkan keningnya ketika melihat sosok tak asing tengah menghampirinya. Sampai memakai kacamatanya tak percaya melihat sosok Gemilang berada disana.


"Kamu" ucapnya tak percaya ketika Gemilang sudah sampai dihadapannya.


Gemilang tersenyum "iya pak Toro, ini saya Gemilang Galaxio Kusuma".


"Ada perlu apa sampai repot-repot datang kesini" ucap Toro menyeringai, ia segera berdiri dan duduk disofa, tanpa disuruh Gemilang pun mengikutinya.


"Han" Gemilang memberi isyarat dengan tangannya, lalu Yohan segera memberikan dokumen itu pada Toro .


"Itu surat kerjasama antara Elang Group dan Munaj Hotel's" ucap Gemilang yang sebenarnya mulai berdebar jantungnya "Kerjasama untuk pembangunan Munaj Resto yang sudah saya dan bang Roman rencanakan satu bulan yang lalu" jelasnya panjang lebar.


Toro meneguk kopi hitam pekat yang baru saja dibawakan oleh assisten pribadi nya "mau nyogok kamu?" ucap Toro tersenyum kecil.


"Ini simbiosis mutualisme pak Toro, dengan begini impian anda untuk membangun Munaj resto di seluruh kota akan terwujud dan juga saya bisa lebih mengenal bapak lebih dekat lagi, untuk bisa menyakinkan bapak bahwa saya laki-laki yang pantas untuk putri bapak".


Oh, Toro sungguh tak habis pikir. Antara pintar dan licik, dan sebenarnya Gemilang terlalu muda untuk berpikir sejauh itu.


"Jadi sekali lagi ini bukan menyogok pak Toro, Toh kita juga bagi hasil meskipun sepenuhnya yang dipakai adalah nama brand dari keluarga bapak, tapi nama sponsor yang digunakan tetap Elang Group".


Toro tak bisa berkata-kata dibuatnya.


"Jangan berpikir semudah itu untuk menerima mu sebagai menantu saya" ucap Toro nampak tenang dari biasanya.


"Bapak tenang saja, ini real kerja sama. Anggap saja saya mencari keuntungan dari hal itu, karena dengan proyek itu saya bisa mengenal bapak lebih jauh pun dengan bapak sebaliknya" ucap Gemilang tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Tidak ada alasan untuk bapak menolak, sekali lagi ini bukan sogokan, karena ini sudah bang Roman ajukan sejak beberapa bulan lalu".


Toro nampak menimbang sejenak, sebelum akhirnya membalas jabat tangan Gemilang.


"Oke, saya setuju. Buktikan jika kamu adalah orang yang layak untuk putri saya satu-satunya" ucap Toro tegas. Ia menghargai usaha Gemilang untuk secara langsung datang jauh-jauh kesini hanya untuk itu. Bahkan ia bisa menyuruh karyawan-karyawan nya sebenarnya, atau membicarakannya dengan Roman.


"Mood saya sedang baik" ucap Toro segera melepaskan jabat tangan nya "Jangan terlalu percaya diri dulu, tidak akan semudah itu".


.


.


.


👭 : Thor kenapa sih up nya nggak sesering dulu.


✒️ : Kebanyakan mikir bikin stres 😌, sellow enjoy aja biar otak nya fresh 😄 (banyakin komentar aja biar kebuka jalan pikiran author wkwk)

__ADS_1


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋


__ADS_2