Gemilang Ku

Gemilang Ku
S2 113 ~ Ada aku


__ADS_3

"Eh, sorry." Exel yang baru saja membuka pintu balkon sedikit terhenyak ketika melihat dua manusia yang saling menempel itu.


Gemilang segera menjauhkan tubuhnya. "Ada apa?" tanya nya mendekati Exel.


"Gue mau pulang, di sini cuma ada satu kamar Gem. Masa gue harus tidur di sofa mana dingin banget."


"Kalian berdua tidur saja di kamar, biar aku yang tidur di bawah." Mou segera melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban mereka tetapi cekalan pada lengannya membuat ia menoleh.


Tersenyum kecil saat yang menyentuhnya adalah Gemilang.


"Kamu tidur di kamar saja, biar aku sama Exel tidur di bawah."


"Gem, sofa itu terlalu kecil, hanya muat untuk satu orang. Bagaimana jika kita bertiga tidur di kamar saja, biar Mou di ranjang kita di sofa." Exel berkata dengan bersemangat.


"Jangan harap! ayo cepat tidur." Gemilang merangkul bahu Exel untuk segera pergi dari sana.


.


.


.


Gemilang menatap malas pada manusia yang tengah berbaring di sofa. Tidak bisa tidur apanya, pulas begini.


Akhirnya ia mengalah untuk tidur dengan posisi duduk, daripada Exel pulang dan meninggalkan dirinya dan Mou berdua saja.


Segera memejamkan matanya, dan bersandar pada sofa.


Gemilang sayup-sayup membuka matanya ketika mendengar jeritan seseorang. Bergegas menaiki tangga dengan langkah terburu-buru.


Setelah membuka pintu hal pertama yang ia lihat adalah wanita yang tengah duduk bersandar pada ranjang. Nafasnya terlihat begitu tidak teratur, dengan buliran keringat pada dahinya.


Mou terus memejamkan matanya, sembari mengatur nafasnya.


"Apakah kamu masih mimpi buruk?" tanya Gemilang sembari memegang bahu Mou, pegangan itu menjadi remasan pelan ketika Mou terus terdiam.


"Mou," panggilnya.


"Mou takut," lirih Mou bersamaan dengan buliran bening yang menetes.


Gemilang segera duduk dan merengkuh tubuh itu. Mengusap-usap rambutnya dan memberi ketenangan. "Tidak apa-apa, aku di sini."


Mou mengangguk, memeluk tubuh Gemilang begitu erat. "Jangan tinggalin Mou," lirihnya.


"Aku ambilkan minum dulu ya," ucap Gemilang setelah membiarkan Mou tenang untuk beberapa saat.


Mou menggeleng, tidak melepaskan pelukan itu sedikit pun. "Mou mau tidur saja, Abang tetap di sini ya," pintanya dengan tatapan memohon.


Mou berbaring perlahan, di susul oleh Gemilang. Mou mengernyit ketika laki-laki itu juga ikut berbaring. Padahal ia kan hanya minta di temani, bukan tidur bersama.

__ADS_1


"Tidurlah," ucap Gemilang menatap langit-langit kamar. "Aku tadi lupa membawa obatmu."


Mou mengikuti pandangan Gemilang, memeluk selimutnya begitu erat, tiba-tiba menjadi gugup. "Sebenarnya obat aku sedang habis," ucap Mou yang membuat Gemilang menoleh.


"Aku kira kamu sudah sembuh dan tidak meminumnya lagi," Gemilang kira Sam sudah memberitahu semuanya pada Mou, setelah bertahun-tahun.


"Sembuh bagaimana, malah makin parah," Mou menghela nafasnya. "Abang juga tahu kan kalau bang Sam mengganti obatku, setelah bertahun-tahun bahkan aku baru tau dua bulan kemarin."


Gemilang menghadap pada Mou, merasa khawatir sekaligus penasaran. "Bukankah itu artinya kamu sembuh, buktinya kamu baik-baik saja tanpa obat itu."


Mou menggeleng lemah, "malah bertambah parah, ketika aku tahu itu bukan obat penenang."


"Tidurlah," ucap Gemilang berbalik memunggungi Mou. Akan tetapi terkesiap ketika Mou tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang.


"Mou.."


"Hanya tidur bersama dengan Abang yang akan membuat Mou tidak mimpi buruk lagi." Menyandarkan kepalanya pada punggung kokoh itu.


Gemilang hanya terdiam lalu memejamkan matanya.


.


.


.


"Masih sangat sulit pak, pasalnya berita ini sudah go internasional." Gemilang segera mematikan ponselnya, saat Mou memasuki kamar dengan tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya nya mencoba menyembunyikan ponselnya.


"Ayo belanja dulu, kita akan kelaparan nanti." Setelah mengatakan hal itu Mou buru-buru menutup pintu kamar. Gemilang sedang bertelanjang dada, tidak baik untuk kesehatan jika melihat tubuh kekar itu.


.....


"Kenapa Exel tidak pamitan dulu?" tanya Gemilang yang sudah mengemudikan mobilnya.


"Katanya takut kamu nggak bolehin, jadi dia pulang dari pagi-pagi banget." Mou terus menatap sosok tampan di sampingnya.


Ya jelas Gemilang tidak akan mengijinkan Exel meninggalkan dirinya berdua saja dengan Mou.


"Abang."


"Hem," tanpa menoleh terus menatap jalanan bergelombang ini.


"Abang sudah bilang sama keluarga Mou, kalau Abang bawa Mou kesini?" tanya Mou yang sebenarnya penasaran dengan hal itu.


"Sudah, aku sudah bilang sama papa mu, beliau memintaku untuk menjaga mu."


Mou mengangguk, jadi karena papanya Gemilang berbuat sejauh ini.

__ADS_1


"Disini pasarnya?" tanya Gemilang memberhentikan mobilnya.


"Iya mungkin," ucap Mou segera mengenakan maskernya.


Mereka segera turun dari mobil. Gemilang terus mengikuti langkah kaki Mou yang begitu lihai memilih sayuran.


Baru kali ini ia ke pasar tradisional seperti ini. Bukannya jijik atau apa, tapi rasa ingin mengembangkan pasar tradisional di tanah air yang ada di benaknya.


"Abang," pekik Mou saat masker yang ia kenakan putus talinya dengan tiba-tiba dan terjatuh. Semua orang sontak menoleh padanya.


"Oh itu yang di televisi ya.."


"Itu kan Resa Moon yang pelakor itu."


"Dasar perusak rumah tangga orang!" Tiba-tiba saja segerombolan ibu-ibu melemparinya dengan sayur-sayuran.


Gemilang dengan sigap melindungi tubuh Mou, dan membawa ia pergi.


"Stop!" teriak Gemilang yang sudah jengah dengan ini semua. Sepanjang perjalanan hujatan dan lemparan barang terus mereka ucapkan.


"Jika bapak dan ibu tidak tahu tentang apa pun, jangan berbicara sembarang." Menatap Mou yang terus mencengkeram erat kausnya.


"Ayo pergi," ucap Gemilang merengkuh tubuh Mou untuk pergi dari sana, tidak peduli meskipun mereka melemparinya. Hanya memastikan setelah ini mereka akan menyesal karena tidak tahu siapa Gemilang.


Setelah memasuki mobil, Gemilang membersihkan rambut Mou yang di penuhi dengan kotoran. Tangannya sampai bergetar dan berkeringat dingin.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya nya.


Tersenyum samar, Mou mengangguk. Padahal Gemilang yang lebih kotor darinya.


"Jangan berbohong," ucap Gemilang menatap netra cantik itu dengan serius.


"A-aku hanya tidak tahu jika berita itu sudah tersebar luas.. aku benar-benar tidak memiliki hubungan apapun dengan kak Edwin." Suara Mou tercekat saat mengatakannya, air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah begitu saja.


"Kita ke villa dulu, sehabis itu langsung pulang ke Jakarta." Gemilang segera melajukan mobilnya.


"Tapi bagaimana jika nanti.." ucap Mou tampak khawatir.


"Ada aku, tenang saja." Sebenarnya hujatan di media sosial lebih menyayat hati. Berharap Mou tidak membaca komentar-komentar pedas itu.


"Aku akan membantu mu, tetapi kamu juga harus menuruti apapun kata-kata ku."


.


.


.


LIKE, KOMEN AND VOTE GAES 💋

__ADS_1


__ADS_2