Gemilang Ku

Gemilang Ku
71 ~ Malam ini milik kita


__ADS_3

Gemilang terus menggenggam tangan Mou, mengajaknya untuk segera masuk ke rumah megahnya yang bak istana dalam dongeng itu.


Dengan tangan yang saling melekat satu sama lain, Mou justru bersembunyi dibelakang Gemilang ketika Gemilang mengajaknya menuju ruang keluarga.


Suara televisi terdengar nyaring disana, Mou tidak berani dan terlalu malu untuk berada dirumah ini sebenarnya. Yang pertama karena penampilannya, yang kedua karena ia pikir memang tidak pantas perempuan ke rumah laki-laki di jam yang tidak seharusnya.


"Mamii" panggil Gemilang.


Mila yang tengah menonton televisi bersama mertuanya pun menoleh. Lalu tersenyum ketika melihat sosok cantik yang tengah bersembunyi dibelakang punggung Gemilang.


"Selamat malam Mamii" ucap Mou tersenyum kikuk menatap mereka.


"Sayang, kamu sudah datang" ucap Mila sumringah.


Gemilang memberikan isyarat agar Mou segera mendekati sang Mamii, dan dijawab anggukan kecil oleh wanita itu.


Segera mencium tangan Mila dan Oma secara bergantian. "Oh, jadi ini calon kamu Gem" ucap Oma tersenyum "Cantik" pujinya.


"Iya dong Oma" ucap Gemilang penuh kesombongan. Meskipun Oma bukan orang pertama yang berkata sedemikian.


"Pinter kamu Gem, nggak kaya" ucap Oma melipat bibirnya ketika melihat sosok tegap menghampiri mereka.


"Nggak kaya siapa?" ucap Elang malas, selalu disindir seperti ini hanya karena mantan pacarnya dulu.


"Eh, ada Mou" ucap Elang ketika matanya bertemu dengan sosok manis itu.


Mou segera mencium tangan Elang.


"Sudah dari tadi" ucap Elang menepuk-nepuk kepala Mou.


"Baru kok Pap" jawab Mou yang masih canggung.


"Yaudah, nginep aja kan udah malam" ucap Elang yang membuat Mou membulatkan matanya seketika. Bagaimana keluarga mereka sesantai ini.


Mila segera merangkul pundak Mou "iya nginep aja sayang, Gem tadi udah bilang kok kalo mau kangen-kangenan" goda Mila menoel hidung Mou.


Gemilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memang baru kali ini ia dan keluarga kedatangan tamu wanita yang sangat spesial seperti ini.


"Iya, boleh berduaan asalkan jangan di kamar" ucap Elang kemudian.


"Iya Pap" jawab Gemilang meraih tangan Mou "Ayo Mou".


Mou tampak ragu dan sungkan tentunya, ia kan baru datang tidak sopan kan kalau langsung begitu.


"Sudah, nggak papa ikut Gemilang saja kamu" ucap Mila tersenyum. Ia sangat menantikan bersatunya mereka berdua.


.


.


.


Gemilang mengajak Mou untuk ke tempat favoritnya. Ia mengajak Mou untuk duduk di sofa putih pinggir kolam ikan itu.


Hawa nya begitu tentram dan menenangkan, ketika melihat ikan yang berenang kesana-kemari juga gemercik air yang mengalir membuat pikirannya begitu damai.

__ADS_1


Temaram lampu kuning yang tak begitu silau, lampunya memang dibuat redup agar terasa menenangkan.


Mou tersenyum melihat itu semua, mendongak menatap gelapnya langit diatas sana yang terpampang begitu jelas.


"Ini tempat aku berdiam diri" ucap Gemilang bersandar pada sofa, ikut melihat langit malam itu.


"Kenapa atapnya terbuka?" tanya Mou tak mengalihkan pandangannya pada langit.


"Agar aku bisa melihat bulan sabit ku" Gemilang menjawab dengan sorot mata yang begitu dalam ketika menatap wajah cantik wanita itu.


"Abang sering sekali berkata seperti itu, jangan sampai aku cemburu dengan bulan sabit mu ya" ucap Mou terkekeh.


Genggaman hangat pada tangan Mou membuatnya menoleh.


"Bulan sabit ku sedang berada didepan mata sekarang. Aku menatap langit ketika aku merindukan nya. Dan sekarang, aku rasa tidak perlu melakukan itu, ketika aku bisa menyentuhnya secara nyata".


Mendengar hal itu Mou segera merebahkan tubuhnya pada pundak kokoh berotot itu, dengan wangi maskulin favoritnya. Ini benar-benar nyaman dan membuatnya tak ingin meninggalkan nya.


Tapi, apakah boleh seperti itu.


"Abang, Mou mau terus begini sebentar saja" ucap Mou memejamkan matanya yang sedikit basah.


Gemilang mengangguk, mengusap rambut Mou dengan lembut "Malam ini milik kita berdua" ucapnya yang membuat Mou tidak bisa lagi menahan air matanya.


Kenapa hanya malam ini saja, bagaimana dengan malam-malam ku selanjutnya. Apakah aku masih bisa merengkuh tubuhmu secara nyata. Apakah aku masih pantas untuk sekedar berharap kamu datang dalam mimpi ku.


Apakah dimalam selanjutnya aku hanya bisa memeluk harapan sembari memegang erat sebuah kenyataan. Sendiri berselimutkan dingin tanpamu di sisiku lagi.


Mata Mou terus terpejam tanpa mampu berkata apa-apa.


Terdiam membisu, pikirannya berkelana kesana-kemari. Padahal yang berada disana adalah seseorang yang saat ini tengah dipeluknya. Namun tetap saja memikirkan bagaimana kedepannya tanpa bersama seperti ini.


"Bobok ya, sudah malam" ucap Gemilang memberi beberapa kecupan pada rambut Mou.


"Abang ngantuk?" tanya Mou mendongak, menatap wajah tampan itu dengan sayu.


Membelai lembut pipi halus milik Mou, Gemilang tersenyum "Dingin Mou, nggak baik lama-lama diluar" ucap Gemilang.


Tidak sedikitpun dingin menembus tubuhnya diposisi seperti ini, namun Mou segera berdiri dan mencoba untuk tersenyum.


"Ayo" ucapnya menuntun tangan Gemilang untuk segera masuk.


.


.


.


"Kamu tidur sini ya" ucap Gemilang yang sibuk mencari sesuatu di lemari pakaiannya.


"Te-terus Abang?" tanya Mou begitu gugup, tidak mungkin kan.


Menunjuk kening Mou dengan jari telunjuknya Gemilang tersenyum "Belum boleh tidur bareng" ucapnya terkekeh.


"Bukan gitu maksudnya" ucap Mou kesal.

__ADS_1


"Tuh kan pipinya merah".


"Abang" ucap Mou mencubit gemas perut Gemilang.


"Aw!".


"Sukurin, salah sendiri" ucap Mou menjulurkan lidahnya.


Gemilang sungguh gemas dengan tingkah laku wanita itu, segera mengejarnya untuk balas dendam. Tapi Mou malah berlari.


"Abang, jangan kejar" ucap Mou yang terus menghindar, melompat lompat pada kasur milik Gemilang, beralih pada sofa lalu ditangkap Gemilang di sudut pintu.


"Mau lari kemana lagi" Gemilang menggelitik perut Mou sampai wanita itu meminta ampun.


"Abang!" ucap Mou tertawa menahan geli sembari memberontak agar Gemilang melepasnya.


"Ampun nggak" ucap Gemilang malah mempererat pelukannya.


"I-iya ampun".


Gemilang segera melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Mou, memberikan ciuman bertubi-tubi pada pipinya "gemes" ucapnya yang benar-benar ingin menggigit wanita itu.


"Abang ih".


"Yaudah, ganti pakek baju aku kalo mau tidur"


Mou mengangguk "Baju yang mana?" tanya nya.


"Terserah, kamu cari sendiri saja. Toh, sebentar lagi juga akan menjadi milikmu semuanya".


Lagi-lagi ucapan Gemilang hanya membuat Mou tersenyum hambar "iya".


"Nanti kamu biar ditemani Mamii" ucap Gemilang mengecup kening Mou "Cepetan tidur ya, udah malem".


Mou mengangguk lalu tersenyum "Abang juga" balasnya lalu berjinjit untuk mengecup rahang Gemilang.


Senyuman Gemilang tidak bisa tertahankan, ia segera keluar dari kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga. Ingin rasanya ia bersorak atas kebahagiaan nya malam ini.


Sedangkan Mou segera memilih baju Gemilang yang akan ia kenakan. Kaos polos berwarna hitam dengan celana training abu yang kebesaran menjadi pilihannya.


Mou segera merebahkan tubuhnya pada ranjang nyaman yang masih beraromakan laki-laki itu. Menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal yang setiap hari dipakai oleh Gemilang. Rasanya begitu hangat dan nyaman sekali.


Baru saja Mou hendak memejamkan matanya, namun ia teringat akan sesuatu, hingga ia terbangun. Ia tidak membawa sesuatu yang seharusnya menemani disetiap malamnya.


Mou menghela nafasnya, dan kembali merebahkan tubuhnya dengan nyaman.


Semoga tidak ada apa-apa dan akan baik-baik saja.


Hanya itu harapan nya sebelum ia benar-benar terjun ke alam mimpi yang begitu menakutkan.


.


.


.

__ADS_1


LIKE, KOMEN AND VOTE GAESSS 💋


__ADS_2