
Satu piring nasi goreng spesial kini sudah berada dihadapan Toro, kemudian Mou menyodorkan segelas air putih untuk sang Papa.
"terimakasih" ucap Toro menatap Mou dengan sendu, ia sangat rindu pada putri semata wayangnya.
"Papa makan dulu, Mou mau mandi sebentar" pamitnya lalu beranjak meninggalkan Papa, sejujurnya Mou tidak bisa menahan air matanya ketika melihat Papa nya.
Laki-laki yang dulu sangat kuat, kokoh bahunya dan begitu hebat di hidupnya, bahkan Papa tidak pernah menunjukkan kelemahannya di hadapan anak-anaknya.
Tapi kini tanpa Mou sadari laki-laki itu ternyata sudah semakin menua, rambutnya yang dulu hitam kini bercampur dengan putih, tubuhnya tidak lagi sekokoh dulu mekipun wajahnya tetap sama tampannya.
Mou menangis terisak didepan pintu kamarnya, ia terduduk dilantai , ia sungguh tidak tega melihat Papa nya sakit dan terlihat begitu lelah.
Setelah puas menangis Mou segera membersihkan dirinya agar Papa nya tidak tahu jika ia habis menangis.
Mou melangkahkan kakinya keluar dari kamar, matanya fokus pada sosok laki-laki yang sedang duduk disofa menunggu dirinya.
Mou duduk disebelah Papa nya "sudah habis ya?" tanya Mou begitu canggung, sudah lama hubungannya tidak sebaik ini.
"sudah , kamu nggak makan?" tanya Papa.
"sudah, Mou sudah makan diluar tadi sama temen" jawab Mou meraih bantal dan meletakkannya di pangkuannya.
"sama yang tadi" ucap Papa berubah menjadi serius.
"bu-"
"Mou, Papa ingin kamu segera menikah tapi bukan dengan laki-laki tadi ataupun Bara" tegas Papa yang membuat Mou terdiam,
Sebenarnya bukan tanpa alasan Toro menyuruh Mou untuk segera menikah, ia kasihan pada Mou yang memilih hidup sendiri seperti ini dan meskipun Mou menolak untuk hidup dengannya setidaknya ada laki-laki yang bisa dipercayai untuk menjaga putrinya.
"Papa akan memilihkan mu pria yang tepat, yang lebih dewasa daripada kamu, yang bisa menjaga kamu nantinya" lanjut Papa menatap Mou.
"Pa-"
"Mou turuti Papa kali ini saja, selama ini kamu selalu membantah Papa" ucap Papa yang membuat hati Mou berdenyut nyeri, bahkan saking bencinya ia dengan pacar Papa nya ia menjadi sekurang ajar ini pada Papa nya.
"Maafin Mou pa" ucapnya menundukkan kepalanya "maafin Mou selalu ngebantah Papa".
"maka dari itu kali ini saja Mou, Papa mohon turuti kata-kata Papa" ucap Toro.
Mou mendongak menatap mata yang tajam itu begitu dalam "apakah jika Mou menuruti kata-kata Papa, Papa juga akan menuruti kata-kata Mou untuk menjauhi Tante Ayu" ucap Mou.
Papa tercengang mendengarnya, namun mengingat hubungannya dengan Mou sudah sedikit membaik membuatnya tersenyum tipis "Papa akan mempertimbangkan nya".
Mou mengangguk bersamaan dengan air mata yang jatuh "Mou mau pa, Mou mau , asalkan Papa nggak sama Tante Ayu lagi" ucap Mou, mengingat memang wanita itu sebenarnya licik dan hanya menggerogoti harta Papa nya saja membuat Mou khawatir, Tante Ayu akan melakukan apapun untuk ambisinya.
Papa mengusap air mata Mou "Papa akan segera menemukan orang yang tepat untuk mu" ucap Papa dengan dada yang sesak.
Mou memeluk Papa dengan erat, menumpahkan segala kerinduannya pada sosok Papa yang selama ini lama sudah tidak ia dapatkan kasih sayangnya.
dan malam ini mereka berdua benar-benar menumpahkan segalanya, Toro juga menangis tersedu-sedu dipelukan putri cantiknya.
__ADS_1
"Mou sayang sama Papa" ucap Mou sesenggukan.
Toro hanya mengangguk karena tenggorokannya tercekat dan terasa berat untuk mengatakan bahwa ia juga lebih menyayangi putri nya.
.
.
.
Mou menatap kosong pada langit-langit kamarnya, laki-laki yang kapan hari mengajaknya untuk menikah itu bahkan tidak lagi muncul dihadapannya selama tiga hari ini.
Sebenarnya kemana dia?
Ah, yasudah lah untuk apa juga memikirkannya.
Namun satu hal yang ia syukuri saat ini, hubungannya dengan Papa nya sudah selangkah lebih maju, Papa nya selalu menyempatkan untuk mampir setelah pulang kerja, meskipun beberapa hari lagi Papa nya akan kembali ke Bali.
Ceklek. . .
pintu kamar Mou terbuka "dek, udah siap belum, ayo kok malah ngelamun" ucap Roman menghampiri adiknya.
Mou segera bangkit dari tidurnya "udah bang hehe" ucapnya nyengir kuda lalu merapikan bajunya yang sedikit terlipat.
Malam ini ia sangat bahagia karena bisa dinner bersama keluarganya, bahkan Abang nya repot-repot menjemputnya kesini.
"ayo kak Jen udah nyampe katanya" ucap Roman sembari melihat ponselnya.
.
.
.
Restoran mewah sudah di reservasi oleh Roman untuk dinner bersama keluarganya, ia memilih tempat VVIP mengingat Ara, putri kecilnya tidak terlalu suka dengan keramaian.
"kak Jen" sapa Mou yang baru saja datang dengan Roman, ia segera mencium tangan kakak iparnya.
"makin cantik aja kamu" puji Jen mencubit gemas pipi Mou.
"kakak , selalu deh" gerutu Mou malu.
"Ara sini ikut pipi" ucap Roman merentangkan kedua tangannya, dan disambut baik oleh gadis mungil yang begitu manis itu.
"adu. . adu. . ponakan aunty emesss banget sih" ucap Mou mengusap rambut Ara.
"Papa masih lama ya?" tanya Jen mengambil buku menu.
"sebentar lagi juga sampai kok sayang" ucap Roman yang sibuk dengan putri kecilnya.
"nah itu dia" ucap Mou menunjuk laki-laki paruh baya yang begitu gagah itu.
__ADS_1
"udah nunggu lama ya" ucap Papa segera bergabung bersama mereka.
"baru kok pa, aku sama Mou juga baru nyampe" ucap Roman.
"sayangnya opa makan apa" ucap Papa melihat Ara dengan gemas.
"makan kukis opa" jawab Jen.
"udah pesen" ucap Papa menatap Mou.
"belum pa".
Setelahnya mereka menikmati makan malam dengan hangatnya kebersamaan bersama dengan keluarga.
Lalu mereka mengobrol dan sesekali tertawa karena tingkah gemas Ara.
"Sam kapan pulang man?" tanya Papa, Karena hubungan Papa dengan Samudra Barindra Munaj, lebih buruk lagi dibandingkan dengan Mou.
Karena semenjak Papa nya memiliki kekasih, mungkin hanya Roman saja yang berhubungan baik dengan Papa nya.
"paling bulan depan dia pulang pa" jawab Roman, ia menatap sendu pada Papa nya, karena ia tahu betul Papa nya merindukan adiknya itu.
"bang Sam, janji kok mau kesini kalo pulang" ucap Mou "Mou marahin terus bang Sam karena nggak pulang-pulang" ucap Mou yang membuat mereka semua terkekeh. Bisa dibilang Mou memang sangat dekat dengan Sam , abangnya.
Namun dahi Mou mengernyit ketika menerima pesan dari Ben.
Ben : Mou, minta alamatnya Bara, alamat apapun itu kantor atau rumah semuanya kirimin ke aku ya sekarang.
Perasaan Mou tidak enak ketika membaca pesan itu, ia segera pamit untuk ke kamar mandi pada keluarganya, lebih tepatnya ia pamit untuk menelpon Ben.
"halo" ucap Ben diseberang sana.
"ada apa Ben?" tanya Mou sangat penasaran, mengapa Ben meminta alamat Bara.
Terdengar helaan nafas panjang dari Ben "Mou ada sesuatu yang penting , sebenarnya aku udah janji sama Gemilang untuk tidak mengatakan ini padamu" ucap Ben begitu serius.
"ada apa sih Ben?" tanya Mou bertambah panik.
"tiga hari yang lalu, ada mobil yang sengaja menabrak mobil Gemilang , dia saat ini masih dirawat dirumah sakit dan aku mencurigai Bara, aku harus segera menyelediki nya Mou , karena aku tahu bukan orang sembarangan yang bisa menghilangkan jejak atas kecelakaan itu".
DEG!
Jantung Mou nyaris berhenti detik itu juga saat mendengarnya, seluruh tubuhnya terasa lunglai.
"rumah sakit mana Ben" ucap Mou dengan bibir yang bergetar, ia segera meraih tas nya lalu melangkahkan kakinya dengan terburu-buru.
.
.
.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋