
Dengkuran halus terdengar merdu menusuk telinga Mou. Gemilang sudah tertidur satu jam yang lalu. Sepertinya suaminya sedang kelelahan karena banyaknya tanggung jawab yang harus ia pikul.
Menjadi pimpinan dengan selalu ada untuknya bukanlah hal yang mudah dan Mou tau itu. Jadi ia tidak ingin merepotkan suaminya. Mengusap perutnya yang sudah berbunyi.
"lapar ya, sabar ya nak," ucapnya segera beranjak. Tujuannya adalah dapur yang sudah menjadi tempat favoritnya semenjak hamil.
Meraih satu sereal rasa cokelat dan menuangkan susu sapi di mangkuk itu. Segera melahapnya dengan pelan hingga tandas tak menyisakan apapun.
Setelah habis satu mangkuk sereal, ternyata tidak membuatnya kenyang. Kembali membuka kulkas dan mengambil satu butir telur asin.
"Masih lapar ya?" tanya Gemilang yang membuat Mou terlonjak.
"Abang.."
"Sudah aku bilang kalau lapar bangunkan aku, Mouresa." Mengambil telur yang berada di tangan Mou. "Biar aku kupasin."
"Abang nggak perlu bangun kok." Mengekori langkah kaki Gemilang lalu duduk di sana.
"Mau makan apalagi?" tanya Gemilang menyerahkan telur yang sudah terkupas itu.
Menggeleng cepat dan menggigit telur asin miliknya.
Gemilang menepuk-nepuk rambut Mou. "Pokoknya kalau mau makan apa-apa harus bilang. Nggak usah sungkan, ini buat anak kita juga kan. Kasihan kalau nggak di turutin."
Mou sungguh terharu dengan perkataan suaminya. Tiba-tiba saja matanya basah saat merasakan perhatian seperti ini.
"Loh kok nangis," ucap Gemilang segera membawa Mou dalam pelukannya.
"Mou nggak tahu lagi gimana kalau nggak ada Abang di hidup Mou. Waktu pulang dari London Mou sudah memutuskan tidak akan menikah dengan laki-laki manapun kecuali sama Abang. Lebih baik melajang seumur hidup daripada menikah dengan selain Abang."
"Iya, yang penting kan sekarang aku sudah milikmu seutuhnya Mouresa. Jangan nangis terus nanti baby ikutan nangis sayang." Mengecup pipi Mou yang sudah basah.
.
.
.
"Abang nggak kerja hari ini?" tanya Mou yang baru saja melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dengan handuk yang masih membalut tubuhnya.
Menoleh pada Mou dan menutup laptopnya. "Aku berangkat agak siangan, ada tamu pagi ini."
"Siapa?" tanya Mou menuju walk in closet. Memilah satu baju dan keluar lagi.
"Nanti kamu juga tahu." Mata Gemilang teralihkan oleh celana pendek berbahan jeans yang hendak di pakai oleh Mou. "Sayang, jangan pakai itu. Kamu lagi hamil loh."
__ADS_1
"Tapi bagian perut masih longgar kok," ucap Mou dengan tatapan memohon.
Gemilang menggeleng tegas. "Pakai dress saja lebih aman. Nanti pulang kerja aku belikan daster."
Dengan bibir yang mengerucut Mou hanya mengangguk dan kembali menuju walk in closet untuk berganti pakaian.
"Mau sarapan apa?" tanya Gemilang menghampiri istrinya yang tiba-tiba diam saat dirinya menyuruh untuk berganti pakaian.
"Terserah," jawab Mou segera keluar dari kamar.
"Sayang." Gemilang segera beranjak untuk mengikuti jejak istrinya.
.
.
.
"Masih ngambek?" tanya Gemilang setelah satu piring nasi pecel ludes di hadapan Mou.
"Mou nggak ngambek, cuma kesel aja padahal kan cuma hal sepele." Mou jadi kesal sendiri dengan dirinya yang berlebihan begini.
"Yasudah, nanti kita belanja ya buat balikin mood kamu." Tersenyum sembari mengusap rambut istrinya.
"Iya, tapi online. Kamu pilih di hp nanti biar di anterin sama orang."
Senyuman Mou memudar, padahal kan ia sudah membayangkan betapa asyiknya berbelanja dan menjelajahi kuliner di mall.
"Ingat kata dokter, kamu belum boleh banyak gerak dulu. Masih untung nggak di suruh bed rest." Gemilang mencubit gemas hidung Mou.
"Iya-iya Abang," ucap Mou begitu pasrah.
"Tuan, ada tamu." Seorang ART mendekati mereka lalu menunduk.
"Siapa, Bi?" tanya Mou.
Belum sempat bibi menjawab Gemilang sudah meraih tangan Mou terlebih dahulu. "Sudah ayo, kita lihat saja. Tolong buatkan minuman ya, Bi."
Sosok laki-laki yang sepertinya Mou kenali tengah duduk di sofa dengan posisi membelakangi mereka. Genggaman pada tangan Gemilang semakin ia eratkan tatkala sudah berjarak dengan dekat.
Laki-laki itu menoleh, tersenyum dengan jambang tipis pada wajahnya.
"Ada aku, jangan takut." Gemilang merengkuh tubuh istrinya agar menempel padanya.
"Abang.." ucap Mou dengan ragu.
__ADS_1
"Ayo duduk saja," sahut Gemilang menuntun Mou untuk duduk di hadapan Edwin.
Mou terus menunduk ketika mata Edwin terus tertuju padanya.
"Jangan membuang-buang waktu. Aku memang mengijinkan mu untuk berbicara dan menemui istriku tapi jangan menyepelekan kebaikanku." Gemilang menatap tajam pada manusia di hadapannya.
Edwin berdehem sejenak, tersenyum tulus pada dua manusia yang terus menempel satu sama lain. Memporak-porandakan sesuatu yang berada di dalam dadanya, perasaan salah dan juga terlarang ini memang harus disudahi dengan sangat berat hati.
"Baik, sebelumnya terimakasih atas kesempatan ini. Bapak Gemilang, terimakasih juga sudah membantu saya untuk menemukan anak dan istri saya."
Mou menoleh pada suaminya, segerombol pertanyaan memberontak ingin di keluarkan.
Edwin beralih menatap Mou. "Aku lega, kamu dan bayimu baik-baik saja."
Mata Mou hanya terfokus pada balutan perban pada lengan Edwin. Rasa bersalah kembali mengguncang perasaannya.
"Tidak akan ada ampun lagi jika kamu berani mendekati Mou." Seorang Gemilang sudah cukup bersabar untuk membiarkan Edwin datang ke rumahnya.
"Tenang saja," ucap Edwin membuang napasnya. "Aku akan mengubur perasaan ini. Tapi Mou, jika boleh aku sarankan, jangan terlalu baik pada orang. Semua orang bisa dengan mudah jangan jatuh hati pada seseorang sepertimu."
"Aku sangat bersyukur karena Mou berjodoh dengan seorang seperti anda, Pak Gemilang." Edwin mencoba tersenyum melihat rahang Gemilang yang sudah mengeras.
Kemudian Edwin berdiri dan membungkukkan badannya. "Maaf telah membuatmu dengan perasaan terlarang ini. Mulai sekarang aku adalah Edwin, sahabat abangmu yang tidak akan memiliki perasaan apapun pada seorang Resa Moon." Melangkahkan pergi dengan perasaan lega.
"Kak Edwin." Satu panggilan yang membuat langkahnya terhenti menoleh pada wanita yang tengah berdiri dan memegangi perutnya.
Gemilang menggenggam erat tangan istrinya, takut Mou akan berkata apa yang ia tidak harapkan.
"Terimakasih sudah menyelamatkan aku dan anakku. Semoga kak Laura bisa menerima kakak kembali. Jangan pernah mengulangi hal ini lagi dan menyakiti banyak hati nantinya."
Edwin tersenyum kecil dan mengangguk, kembali melangkah dengan mata yang berkilau namun segera ia tepis.
Mou segera duduk di pangkuan Gemilang. Memeluk laki-laki itu dengan eratnya. "Terimakasih sudah menjadi suami sehebat ini."
"Aku akan melakukan apapun untukmu sayang." Tangan Gemilang terulur untuk mengusap perut Mou yang sedikit membuncit.
"Enaknya dia panggil aku apa ya nanti?" tanya Gemilang yang membuat dahi Mou mengernyit.
.
.
.
MAAF BARU BISA UP DI KARENAKAN MASALAH PRIBADI. TERIMAKASIH SUDAH SETIA MENUNGGU.
__ADS_1