
"Aku bisa menjelaskannya," ucap Gemilang dengan gugup. Meraih tangan Mou dan menggenggamnya kuat-kuat, seolah mengisyaratkan ketakutan mendalam jika Mou salah paham.
Senyuman hambar terlukis pada sudut bibir Mou. "Iya, Mou paham. Abang cuma cinta dan sayang sama Mou saja kan." Suara Mou bergetar saat mengucapkan hal itu.
Tangan kokoh milik Gemilang segera merengkuh tubuh Mou. Memeluknya erat-erat saat wanita itu malah tersenyum.
"Dia cuma mantan aku.. dan--"
Mou tiba-tiba melepaskan pelukan itu, mengusap rahang kokoh Gemilang. "Beri Mou waktu, sebentar saja."
Melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Hatinya terlalu rapuh untuk menerima kenyataan ini.
"Mou!" teriak Gemilang.
Langkah kaki Mou terhenti saat di ambang pintu lalu menoleh. Lagi-lagi batin Gemilang menjerit saat Mou terus tersenyum padanya.
"Mou nggak marah kok sama Abang. Kasih Mou waktu sebentar saja, nanti Mou balik kesini lagi."
"Tapi sayang.."
"Tunggu sebentar ya." Melangkahkan kakinya dan benar-benar meninggalkan Gemilang.
.
.
.
Laki-laki berparas rupawan itu tampak mondar-mandir dengan khawatir. Sedangkan tangannya sibuk menempelkan ponsel pada telinganya. "Kamu kemana?" geramnya yang sudah menahan emosi sedari tadi.
"Kalian gimana sih, nyari satu orang saja tidak becus!" bentaknya pada semua anak buahnya yang tengah berdiri berjejer di hadapannya.
Langit sudah hampir menggelap. Sedangkan pujaan hatinya tidak kunjung pulang. Betapa bodohnya ia membiarkan Mou keluar sendirian dari resort ini.
"Sayang angkat dong," ucap Gemilang menatap ponselnya dengan frustrasi. Tangannya menjambak rambutnya sendiri. Ia akan benar-benar gila jika terjadi sesuatu pada Mou.
"Tidak ada yang boleh pulang kesini sebelum istri saya di temukan!" teriakan Gemilang begitu menggelegar memenuhi seisi ruangan.
Melangkahkan kakinya untuk mencari sendiri wanita itu. Semua anak buahnya memang tidak ada yang becus, di pastikan habis ini mereka akan menyerahkan surat pengunduran diri jika Mou tidak di temukan.
__ADS_1
Gemilang seperti orang gila, berlari kesana-kemari untuk mencari wanitanya. Sudah berteriak-teriak sampai tenggorokannya begitu sakit.
Matanya teralihkan pada sosok cantik yang tengah duduk memeluk kedua lututnya. Menatap kosong pada deburan ombak di hadapannya.
Menghela nafasnya dengan lega, Gemilang segera menghampiri istrinya. Menatap punggung wanita ini yang tidak menyadari kehadirannya.
Maaf, telah menyakiti hatimu. Aku bersumpah tidak pernah ada wanita lain di hati ku kecuali dirimu..
Mengusap rambut Mou dengan lembut, hingga sang pemiliknya pun menoleh.
"Sayang, ayo pulang." Gemilang berkata tanpa senyuman di wajahnya. Ia benci melihat senyuman palsu wanita ini.
Mou tetap tersenyum. "Mou sudah terlalu lama ya, maaf ya bang. Mou hanya suka melihat ombak." Menggenggam tangan Gemilang dan segera berdiri.
.
.
.
Satu piring nasi goreng spesial dengan telur setengah matang baru saja Mou letakkan di meja. Tak lupa mengambilkan air mineral untuk Gemilang.
"Kamu nggak makan?" tanya Gemilang yang enggan untuk makan di saat seperti ini. Seleranya menghilang sejak tadi.
"Mou sudah makan, mau mandi dulu." Mengecup singkat pipi Gemilang. "Di habiskan ya," tersenyum manis pada laki-laki itu.
Aneh, Gemilang malah tidak nyaman Mou bersikap seperti itu. Seharusnya Mou marah padanya, atau apalah. Tidak seperti ini yang membuat dirinya semakin merasa bersalah.
Setelah menandaskan makanannya, Gemilang segera menuju kamarnya. Menutup jendela yang menampilkan gelapnya malam dengan riuh air bercampur angin.
Mou baru saja keluar dari kamar mandi. Menggosok-gosok rambutnya yang masih basah.
"Sayang," panggilan lembut nan merdu membuatnya menoleh.
"Abang, sudah selesai?" tanyanya saat Gemilang menghampiri dirinya.
Membantu mengusap rambut Mou, tanpa mempedulikan perkataan Mou. "Kalau mandi jangan lama-lama, lihat tangan mu membeku." Menggenggam tangan Mou yang sudah sedingin es. Entah apa yang di lakukan oleh wanita itu di kamar mandi.
Setelah membantu Mou mengeringkan rambutnya. Gemilang menuntun sang istri agar berbaring di ranjang. Menutup tubuh wanita itu dengan selimut tebal.
__ADS_1
"Tidurlah, kamu pasti lelah kan. Kemarin juga kurang tidur."
Mou hanya mengangguk, segera memeluk guling dengan posisi memunggungi Gemilang.
Gemilang hanya duduk bersandar pada ranjang tanpa berniat untuk tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Tidak membuat Gemilang beranjak dari tempatnya. Isakan kecil dari wanita itu membuatnya malah terdiam nyeri. Sudah cukup lama Gemilang membiarkan Mou menangis. Ia tahu betul Mou juga tidak tidur dari tadi.
"Kenapa tidak marah padaku." Suara dingin mengalahkan dinginnya malam di luar sana.
Mou perlahan menoleh dan mengusap air matanya. Tidak tahu jika Gemilang tidak tidur dari tadi.
"Abang.." lirih Mou segera bangkit dari tidurnya.
"Aku bertanya kenapa tidak marah saja!" Gemilang berkata dengan rahang yang mengeras. "Marah padaku Mou! apa susahnya marah dan membanting ponselku seperti ini saat melihat wanita lain meneleponku!" Gemilang melemparkan ponselnya hingga membentur lantai dan pecah menjadi beberapa bagian.
Mou tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh. Menutup mulutnya tak percaya saat melihat ponsel Gemilang hancur lebur.
"Kenapa, katakan? jangan membuatku seperti orang bodoh saat kamu menyimpan semuanya sendirian." Mengunci pandangannya dengan mata Mou yang sudah berurai air mata.
"Karena, ini semua salah Mou," lirih Mou dengan suara tercekat begitu menyayat hati Gemilang saat wanita itu kesusahan untuk sekedar berbicara. "Salah Mou yang meninggalkan Abang waktu itu dan membuat Abang memacari banyak wanita." Kata-kata itu akhirnya keluar juga.
"Itu bukan salahmu, itu salahku yang menjadi pengecut saat itu!" Mencoba meredam emosinya.
Mou menggeleng mengusap air matanya. "Ini salah Mou dan Mou mencoba untuk dewasa dalam hal ini. Status kita sudah suami istri, Mou tidak mau Abang nantinya akan risih jika Mou terus menangis dan marah-marah tidak jelas."
Segera merengkuh tubuh lemah Mou yang terus terisak. "Jangan menjadi orang lain untuk membuatku senang. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Aku lebih suka dengan Mou yang suka menangis dan akan marah-marah tidak jelas saat cemburu, daripada Mou yang memendam semuanya sendirian, sok keren seperti ini."
Mou meremas kuat kaos Gemilang dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang laki-laki itu. Menyembunyikan isakan payah dan menyedihkan ini.
"Dia hanya mantan yang bahkan tidak aku ingat namanya. Hanya seminggu aku berpacaran dengannya. Aku baru ingat saat tadi menelepon Ben. Karena aku tidak pernah memiliki rasa apapun dengan mereka. Hanya dirimu seorang, Mouresa." Gemilang berkata dengan begitu frustrasi apalagi saat mendengar isakan Mou.
.
.
.
LIKE, KOMEN, AND VOTE GAES 💋
__ADS_1
Herman deh, kenapa semuanya ngira di prank, emang aku YouTubers 🤣