Gemilang Ku

Gemilang Ku
64 ~ Untuk hubungan kita


__ADS_3

Senyuman simpul terus terulas dibibir menawan milik Gemilang, setidaknya satu langkah telah terlewati. Bukankah itu artinya pak Toro memberi lampu kuning untuknya.


"Kenapa bapak harus serepot ini?" tanya Yohan yang sedari tadi memendam rasa ingin tahunya.


Mereka saat ini sudah perjalanan pulang ke Jakarta, bahkan tanpa mampir makan atau apalah, setelah menemui seorang Bastoro Munaj Gemilang langsung meluncur ke Jakarta.


"Memangnya siapa putri pak Toro?" imbuhnya, ia heran melihat Gemilang yang sesenang ini, seperti apa wanita yang berhasil menaklukkan hati seorang Gemilang Galaxio Kusuma.


"dia Papanya Mouresa, dan saya sedang meyakinkan beliau supaya cepat untuk memberikan restu untuk hubungan saya" Ucap Gemilang yang membuat Juna menaikkan alisnya, ia memang sudah mendengar gosip yang beredar tentang kedekatan Mou dan Gemilang, namun tidak menyangka Gemilang sudah sangat seserius ini.


"Ba-bapak ingin menikahi Mou?" tanya Yohan.


"iya han, magang Mou akan berakhir satu bulan lagi kan. Sebelum itu saya harap pak Toro sudah memberikan lampu hijau. Sehingga setelah Mou wisuda kita bisa langsung melaksanakan pernikahan" ucap Gemilang begitu yakin, rencana ini sudah jauh-jauh hari ia buat.


Menikah dengan Mou, kedengarannya sangat menarik dan menyenangkan. Membayangkan nya saja sudah membuat jantungnya berdebar.


Yohan menganggukkan kepalanya, Gemilang adalah orang yang penuh perhitungan sebelum melakukan apapun.


"Semoga saja pak" ucap Yohan ikut bahagia, akhirnya Gemilang bisa jatuh hati juga pada wanita. Dulu, hampir saja Yohan mengira bahwa Gemilang memiliki kelainan, karena selalu mengabaikan klien yang berparas cantik.


.


.


.


Suasana hari ini tidak baik untuk Mou, tidak melihat Gemilang setengah hari saja sudah membuatnya gundah gulana.


Rasanya kurang saja jika tidak ada laki-laki itu di perusahaan ini, rasanya jadi hambar.


"Apakah siang ini kita ada jadwal" tanya Ben membuyarkan lamunan Mou.


"Iya pak, satu jam lagi ada pertemuan dengan Bu Indar ATC Group" ucap Mou kemudian berdiri "Saya sudah reservasi restoran pak".


"Batalkan, kita langsung ke ATC Group saja" ucap Ben berlalu darisana.


Mendengus kesal ingin sekali Mou melempari Ben dengan tumpukan kertas tebal dihadapannya. "sebel,sebel,sebel" gumam Mou sembari meraih ponselnya. Kalau begini kan ia jadi ganti rugi.


.....


Mou terus mengikuti langkah kaki Ben, menyeimbangkan langkah kaki yang begitu cepat itu, susah sekali menyusul Ben dengan heels setinggi ini dan juga rok nya yang minim.


Pertemuan itu dilakukan secara singkat, seperti biasa Ben yang mudah akrab dengan siapapun berhasil membuat kliennya tak butuh waktu yang lama untuk berkerja sama.


"Kita cari kopi sebentar ya Mou" ucap Ben yang saat ini sudah berada didalam mobil dengan Mou, dengan supir tentunya.


"iya pak" ucap Mou yang masih sibuk dengan beberapa berkas.

__ADS_1


"Gemilang belum balik ya?" tanya nya yang membuat Mou menoleh.


"Kurang tahu pak" jawab Mou karena terakhir kali Gemilang berpamitan akan keluar kota pagi tadi.


Mobil Ben berhenti di kafe shop yang lumayan ramai, "bapak mau ikut masuk atau tunggu sini?" tanya Ben pada supir pribadinya.


"Tunggu disini saja pak" jawabnya.


"Oke pak, nanti saya bungkusin" ucap Ben lalu mengajak Mou masuk kedalam kafe shop.


"Bapak duduk saja dulu, biar saja pesankan" ucap Mou nampak memilah menu.


"Nggak usah Mou, kamu saja yang duduk dulu" ucap Ben ketika mengingat bahwa wanita ini adalah calon bosnya, bisa habis ditangan Gemilang jika ketahuan ia sering menyuruh-nyuruh Mou. Sepertinya mulai sekarang ia harus mulai baik pada Mou, siapa tahu gajinya naik hahaha.


"Ben!" panggil seseorang diseberang sana.


Mata Mou dan Ben menoleh ke sumber suara, dua laki-laki paruh baya yang tengah mengobrol santai.


"Papa" ucap Ben.


"Loh, itu kan Papii nya Abang" ucap Mou kemudian menatap Ben.


"Kan calon Papii kamu juga nantinya" goda Ben tersenyum "ayo kesana".


"pak Ben" gerutu Mou malu.


"Kamu kok bisa sama mantu om" ucap Elang tersenyum pada Mou.


"Mantu" sahut Tino yang hendak menyemburkan kopinya ketika mendengar perkataan Elang.


"Iya, gimana cantik kan" tanya Elang menyombongkan.


"Cantik" jawab seseorang yang baru saja datang, menutup mata Mou dari belakang.


Dari bentuk tangannya, parfumnya yang menyeruak Mou sangat mengenali orang ini, sangat mengenalinya.


"Abang" ucap Mou lirih, namun telinga Gemilang masih mendengarnya.


Gemilang menjauhkan tangannya dari mata Mou yang membuat Mou segera menoleh "A-abang juga disini" ucapnya gugup setelah bertatap muka sedekat ini.


"duduk" ucap Gemilang menarik kursi agar Mou segera duduk.


"Gimana Gem?" tanya Elang ambigu.


Gemilang yang baru saja mendaratkan bokongnya pada kursi disebelah Mou tersenyum "aman Pap" jawabnya. Sebenarnya Gemilang tidak memberitahukan bahwa papa Mou tidak suka padanya, ia hanya mengatakan bahwa ingin saling mengenal saja, makannya mengajukan kerjasama ini.


"Ben, papa juga pengen cepet-cepet punya mantu" ucap Tino meneguk kopi yang masih mengepul itu.

__ADS_1


"Tapi bukan dia" lanjutnya.


"Ben nggak akan nikah pa kalau nggak sama dia" ucap Ben begitu dingin.


"Oke, jangan menikah kalau begitu". Pembicaraan seperti ini bahkan berulang kali mereka ucapkan, intinya keluarga Ben tidak menyetujui hubungan nya dengan Raisa karena perbedaan usia yang cukup jauh ditambah lagi Raisa adalah seorang janda.


"sudah-sudah" ucap Elang menengahi, lalu mengalihkan pandangannya pada dua manusia yang seolah tak ingin berjauhan "kalau kalian begini terus rasanya Papii ingin segera kalian menikah".


Mou sontak menjauh dari Gemilang, pipinya sudah bersemu mendengar kata-kata menikah.


"Apa Papii perlu bilang ke pak Toro kalau pernikahannya harus segera dilaksanakan" ucap Elang lagi.


"nggak usah Pap, mungkin papa ingin kita pelan-pelan saling mengenal" jawab Mou begitu gugup.


Ben yang tidak berselera untuk meminum kopi pun berdiri "Sepertinya saya harus pamit dulu" ucapnya menatap pergelangan tangannya "Mou kamu langsung pulang saja, semuanya saya duluan ya" ucapnya lalu beranjak dari sana.


"Kamu pinter cari pacar Gem" ucap Tino memecahkan suasana yang menjadi kaku itu.


"Kamu model?" tanya nya pada Mou.


Elang dan Gemilang sontak tertawa mendengarnya "Sa-saya sekretaris pak Ben" jawab Mou tersenyum kecut.


"apa?" ucap Tino tercengang.


"Jangan salah sangka dulu, dia itu lagi magang di perusahaan dan menggantikan sekretaris Ben untuk sementara" sahut Elang mengusap rambut Mou, ternyata begini rasanya punya anak perempuan. Selalu ingin menjaganya, apalagi anaknya menggemaskan seperti Mou.


Memang setelah Mou ke rumah Gemilang kemarin, ia menjadi begitu dekat dengan kedua orang tua Gemilang, yang kini menganggapnya sebagai anak sendiri.


Setelah berbincang-bincang sejenak dengan mereka, Gemilang mengajak Mou untuk segera pulang, untuk bersiap-siap menghadiri pernikahan Bara.


"Abang baru pulang tadi?" tanya Mou, saat ini mereka sudah berada di mobil di bangku belakang, diantar supir untuk pulang.


Gemilang terus menyandarkan kepalanya pada pundak Mou "iya capek banget" jawab Gemilang lemas.


Mou mengusap rahang Gemilang dengan lembut lalu melabuhkan ciuman pada kening laki-laki itu "Gara-gara Mou ya" ucapnya merasa bersalah.


Gemilang meraih tangan Mou dan menggenggamnya "kamu tahu?" tanya nya mendongak.


Mou mengangguk dengan mata yang sedikit basah "Gimana papa?" tanya nya begitu terharu setelah tahu apa yang Gemilang lakukan untuk hubungan mereka.


.


.


.


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS BAGI TIP SEIKHLASNYA 💋

__ADS_1


__ADS_2