
Mou tidak melepaskan tubuh Gemilang sejengkal pun, karena hantu terus bermunculan dilayar monitor 50 inchi. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil melihat Mou tak ingin lepas darinya, rencananya seratus persen berhasil, hahaha.
"Abang, takut." Rengek Mou untuk kesekian kalinya.
"Aku disini Mou, cium aku kalau nggak percaya." Celetuk Gemilang yang mendapatkan pukulan kecil pada dadanya.
"Orang serius juga," bibir mungil itu mengerucut lucu.
"Aku juga serius," Gemilang membawa dagu Mou agar menghadap pada matanya.
Mempertemukan dua manik mata yang mengisyaratkan dalamnya perasaan satu sama lain.
"Aku kangen sama kamu," ucap Gemilang menyorotkan keseriusan mendalam. Hampir satu bulan tidak bertemu dengan Mou rasanya hampir gila.
"Mou juga kangen sama Abang." Dengan bibir yang bergetar, Mou menjawabnya sepenuh hati.
Entah sejak kapan, detik selanjutnya bibir mereka sudah bertemu. Menyesap manisnya satu sama lain, bertautan seolah tak ingin dilepaskan. Mou mencengkeram erat kaus Gemilang ketika merasakan kupu-kupu berterbangan memenuhi sekujur tubuhnya.
"Aku sayang kamu," dengan nafas terengah Gemilang mengungkapkan sesuatu yang selama ini hampir meledak di hatinya.
Baru saja Mou membuka mulutnya hendak menjawab, tapi Gemilang meraup bibir tipis itu lagi.
Mereka berdua tampak acuh dengan suara pintu yang tak bisa terbuka. Ya, ini semua ide Gemilang, demi kelancaran mereka bersama dan malas baku hantam malam ini. Mengunci kamar Sam. Haha, tidak papa hanya satu jam saja, setelah ini pasti dibukakan.
.
.
.
Dengan tangan yang saling bertautan, sesekali bercanda satu sama lain, mereka menyusuri jalan malam ini.
Angin berhembus begitu kencang, Gemilang yang tak tega separuh hatinya kedinginan, segera membawa tangan Mou dalam saku Hoodie nya.
Setelah satu jam lebih menonton film horor di rumah, mereka memutuskan untuk mencari udara segar di taman kompleks rumah Mou.
Sembari mencari jajanan kesukaan Mou, entah mengapa wanita itu tidak merasa kenyang setelah menghabiskan dua mangkuk mie dan tiga snack untuk nonton film tadi.
__ADS_1
Mou menghela nafasnya begitu gugup semenjak tadi. Jantungnya berdegup kencang mencari waktu yang pas untuk memberitahu Gemilang.
"Kita duduk di sana ya," ucap Gemilang menunjuk sebuah bangku yang memanjang dipinggir jalan yang lumayan sepi.
Duduk berdua, masih bergandengan tangan. Mou menyandarkan kepalanya pada pundak kokoh milik Gemilang. Terus meneguk air mineralnya, meskipun tidak haus sama sekali.
Hanya saja gugup.
"Ada apa?" tanya Gemilang merasa aneh dengan sikap Mou.
"Ada yang mau Mou bicarakan dengan Abang." Genggaman tangan itu semakin erat.
"Apa?" jawab Gemilang membawa tangan Mou untuk ia kecup.
Mou menatap Gemilang dengan ragu, "tapi Abang janji ya bakal maafin Mou. Apapun yang Moh katakan nanti Abang janji jangan marah sama Mou."
Alis tebal Gemilang terangkat mendengar itu, masih bingung dengan apa yang dimaksud Mou.
"Kamu selingkuh?" ucap Gemilang tiba-tiba.
Mou tersenyum hambar mendengarnya, tidak pernah didalam pikirannya terlintas sedikitpun untuk selingkuh, ataupun memikirkan laki-laki lain selain Gemilang.
"Lalu?" tanya Gemilang menatap wajah cantik Mou dengan penuh tanya.
Tangan Mou menangkup rahang kokoh Gemilang, "Abang nggak boleh marah ya" menampilkan puppy eyes nya yang begitu menggemaskan.
Gemilang mencubit gemas hidung Mou. "Iya-iya," ucap Gemilang benar-benar kalah jika Mou sudah seperti ini.
Suasana menjadi hening dan lebih serius ketika Mou mendadak diam. "Mou benar-benar minta maaf sama Abang, jika Mou harus mengecewakan Abang lagi."
"Tentang Ibel?" potong Gemilang yang membuat Mou menggeleng cepat.
"Kali ini tentang masa depan Mou." Menghela nafas panjangnya sebelum berkata "Mou sudah memutuskan untuk melanjutkan S2 di London."
Dunia Gemilang bagai berhenti detik ini juga. Menatap Mou dengan ketidakpercayaan, kepalanya menggeleng "Jangan bercanda, nggak lucu." tertawa hambar sendirian.
Mou memalingkan wajahnya, tak mampu menatap wajah Gemilang yang sudah memerah. Dada laki-laki itu naik turun menahan gemuruh didalamnya.
__ADS_1
"Mou serius, Mou sudah daftar disalah satu universitas di London." Menoleh sekilas pada Gemilang.
Tangan Gemilang mengepal kuat hingga otot-otot itu terlihat menyembul. Dadanya begitu sesak, seperti diremas remas.
"Semudah itu?" Tersirat nada kekecewaan yang kental didalamnya.
Buliran bening lolos pada pipi mulus Mou. "Maaf," ucapnya sembari menunduk.
"Kamu anggap aku apa sih, Mou!" Suara Gemilang terdengar menyeramkan malam ini.
"Kamu anggap aku apa!, ha!" menepuk-nepuk dadanya yang seolah kehabisan udara untuk sekedar bernafas. "Sampai hal sepenting ini tidak kamu diskusikan dulu denganku."
Bahu Mou sudah bergetar, isakan kecil lolos dari bibirnya.
"Aku kecewa denganmu, dengan sikapmu yang selalu ingin menang sendiri." Memejamkan matanya sejenak dan menghela nafasnya, mencoba mengontrol emosinya. Tapi gagal.
"Jika jatuh cinta berdua, tapi kenapa kamu selalu menang sendirian. Aku selama ini acuh tentang Ibel dan mencoba lebih memahami mu. Tapi apa ini?" menggeleng lemah penuh kekecewaan.
"Aku harus sabar seperti apa lagi, harus berjuang seperti apa lagi. Aku harus terluka sejauh mana lagi, agar kamu mengerti bahwa aku tidak pernah main-main dengan hubungan kita!"
Selalu aku yang dikecewakan!
"Abang sudah janji nggak marah" lirih Mou dengan suara tercekat.
"Mengapa tidak kamu bunuh saja aku, biar ragaku sama hancurnya dengan hatiku!"
Mou menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sangat takut melihat Gemilang yang berapi-api, terus terisak begitu menyedihkan.
"Kita berpisah saja," ucap Gemilang dengan suara pelan. Mou perlahan menoleh pada Gemilang yang menatap kosong masih dengan rahang yang mengeras.
"Abang," lirih Mou menangis tersedu-sedu.
.
.
.
__ADS_1
LIKE,KOMEN, AND VOTE GAES 💋