
Duduk disofa sembari memeluk kedua lututnya, Mou menatap gemerlap lampu dibawah sana, termenung sepi dalam sunyi, ia sudah biasa seperti ini.
Namun kehadiran sosok laki-laki yang beberapa jam yang lalu menemaninya disini membuat Mou benci sendiri dalam sepi seperti ini.
Ingatan tentang Bara kembali memenuhi kepalanya, jika ditanya mengapa ia tidak menangisi Bara yang babak belur seperti itu.
Jawabannya adalah itu sudah sangat biasa, bahkan Bara pernah dihajar oleh Abang-abang nya karena berlaku kasar padanya.
Jadi selama bertahun-tahun ini memang Bara selalu seperti itu padanya ketika sedang marah, tapi kadang juga berubah menjadi lembut.
Mou sendiri kadang heran dengan tingkah laku Bara yang sudah tidak bisa ia pahami lagi, jadi memang benar harus begini.
Hubungan ini memang harus benar-benar berakhir, berpisah adalah pilihan terbaik.
ia membenamkan wajahnya pada kedua lututnya memeluk erat-erat lututnya, berharap mimpi indah akan segera menghampiri nya.
.
.
.
Setelah mandi , Gemilang mengeringkan rambut nya dengan handuk kecil sembari terus tersenyum kecil menatap jaket yang saat ini terletak di sofa.
Sepertinya ia memang sudah tidak waras, hanya karena aroma yang menenangkan dari gadis itu membuatnya tak tega memasukkan jaket itu kedalam keranjang baju kotornya.
"Gem" panggil seorang diseberang sana yang membuat Gemilang sedikit terkejut, karena tidak sadar jika Papii nya masuk dalam kamarnya.
"iya pap"
Elang duduk disofa sembari menyilangkan kakinya "segera bawa pulang kalo kamu udah cocok" ucapnya begitu santai.
"ma-maksud Papii" tanya Gemilang bingung.
Tentu saja Elang bisa menebak apa yang terjadi dengan putra semata wayangnya, Gemilang tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya.
"kamu sedang jatuh cinta kan?" tanya Elang karena Gemilang terus tersenyum saat ia memasuki kamarnya.
__ADS_1
Gemilang mengangkat kedua bahunya "tidak tahu pap, aku sendiri belum pernah merasakan jatuh cinta".
"Papii harap kamu bisa membedakan suka dengan cinta"
Gemilang ikut duduk berhadapan dengan Papii nya "jadi apa bedanya?"
"suka hanya sebatas mengagumi karena dia masuk dalam kriteria mu" ucap Papii nya yang membuat Gemilang berpikir.
Mou bukan kriterianya, hanya cantik yang menurutnya relatif, namun sikapnya. . . entahlah?
"tapi cinta adalah ketika kamu membutuhkannya, dan dengan bentuk seperti apapun dia yang terpenting dia adalah dia , sikapnya yang tidak bisa kamu temukan pada siapapun , dia yang bisa membuat mu nyaman".
Gemilang sepertinya memang belum paham betul apa itu cinta.
"kamu bingung?" tanya Papii nya lagi.
"bagaimana jika ia tidak memilihmu dan memilih laki-laki yang lain" ucap Elang yang membuat Gemilang membulatkan matanya.
"Pap--"
"sepertinya tidak bisa" gumam Gemilang sembari terus berpikir, sepertinya ia memang ketagihan kontak fisik dengan nya.
Astaga!
.
.
.
"Ngapain sih ngajak berangkat pagi-pagi gini" gerutu Ben yang semenjak tadi terus mengomel.
Gemilang duduk dengan santai dikursi penumpang, tanpa memperdulikan Omelan Ben.
"kenapa nggak suruh jemput Yohan aja coba" omel Ben lagi.
"B*cot mulu, mampir ke kafe depan aja ngantuk banget" ucap Gemilang menguap, sebenarnya ia masih sangat mengantuk , akan tetapi demi menghindari Omelan Mamii nya lebih baik ia segera berangkat ke kantor.
__ADS_1
Ben berhenti tepat disebuah kafe yang tak jauh dari Elang Group, Gemilang berjalan mendahului nya.
Sungguh kesal sekali dengan makhluk satu itu yang selalu menyusahkan dirinya.
Setelah mereka memesan secangkir kopi dan beberapa camilan, Ben akhirnya mengingat sesuatu.
"Lo belum jelasin ya tentang muka Lo yang bonyok" ucap Ben sembari duduk dihadapan Gemilang.
Gemilang melepaskan kacamata hitam nya , lalu menghela nafasnya, sahabat nya satu ini memang cerewet sekali.
Akhirnya Gemilang memilih menceritakan semuanya tentang perkelahian nya dengan Bara, karena memang tidak ada yang bisa ia tutupi dari Ben.
"gila!" seru Ben masih tak percaya.
"Lo berantem hanya karena cewe" Ben menggelengkan kepalanya.
"gue nolongin !"
"Lo selalu cuek dan gak perduli!, sejak kapan Lo perduli sama makhluk yang bernama wanita" ucap Ben mengingatkan.
"ya kan gue kasihan" elak Gemilang.
Ben melirik Gemilang dengan sinis tatapan menghunus bagai pisau "seorang Gemilang Galaxio Kusuma tidak pernah seperti ini, ada apa dengan gadis itu?"
Gemilang menghembuskan nafas kasarnya "Lo inget cewe yang pernah gue ceritain dulu sewaktu SMA, cewe yang sering gue sebut My Moon".
Kini Ben membelalakkan matanya tak percaya mendengar hal itu "ja-jangan bilang kalo dia cewe--".
Gemilang mengangguk. . .
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE LIKE YA , KOMENTAR JUGA UNTUK MEMBANGUN IDE CERITA , DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA. 💋
__ADS_1