
"Sebenarnya, aku pernah berhutang nyawa padanya." Mou menghela nafas panjangnya.
"Beberapa tahun lalu, entah kamu sudah mengenalnya atau belum. Waktu itu, ada musuh Papa yang berusaha untuk mencelakai aku. Aku yang sudah tahu akan hal itu tentu sangat ketakutan. Tapi Ibel dengan santainya, meminjam bajuku, dia bilang akan menghadapi mereka."
Mou menatap netra tajam yang terus menatapnya itu. "Dan benar, mereka mengira Ibel adalah aku. Ibel ditabrak lari oleh mereka, dan berbaring lemah di ranjang rumah sakit selama satu bulan lebih."
Tangan Mou terulur untuk mengusap rahang tegas Gemilang. "Jadi Gem, menurutmu apakah aku harus setega itu, menyakiti hati sahabatku."
Gemilang tidak tahu lagi harus berkata apa.
"Hanya Ibel satu-satunya sahabatku yang perduli padaku. Bahkan ia menginap disini selama satu bulan setelah kematian Mama."
"Kamu segalanya bagiku, tapi Ibel juga penting."
Segera membawa tangan Mou untuk dikecup, "Kamu juga berhutang nyawa padaku" ucap Gemilang.
Mou menaikkan alisnya "maksud kamu?"
"Di pantai waktu itu, aku menyelamatkan mu" jawab Gemilang.
"Jadi kamu ingat waktu di pantai" ucap Mou kesal.
"Aku sangat ingat"
"Lalu mengapa, saat di kafe Juna, pura-pura tidak mengenali ku." Mencubit pelan perut Gemilang.
"Aw" Gemilang mengaduh kesakitan. "Galak banget sih!"
Kesal sekali Mou, membalikkan tubuhnya dan hendak beranjak. Tapi lagi-lagi Gemilang menariknya dalam dekapannya yang nyaman.
"Aku juga kesal padamu, karena tidak mengingat pertemuan kita di tenda." Jelas Gemilang mencium kening Mou bertubi-tubi.
Baru saja Mou hendak membuka bibirnya, namun Gemilang menempelkan jari telunjuknya pada bibir tipis itu.
"Jangan dibahas lagi" tatapan Gemilang menjadi serius.
"Dengarkan aku Mou, kamu cukup fokus saja dengan skripsi mu" menghirup rambut wangi Mou dalam-dalam.
"Jangan memikirkan apapun yang akan menyakiti dirimu sendiri. Belum ada satu bulan, kamu sudah bolak-balik rumah sakit dua kali kan." Gemilang membuang nafasnya merasa begitu berat.
"Kamu tahu?" tanya Mou.
"Tentu, aku tidak akan membebani mu lagi. Cukup pikirkan skripsi mu saja, tapi ijinkan aku menemui mu satu minggu sekali."
__ADS_1
Tapi selama itu juga, aku akan memikirkan cara agar kita tetap bersama.
"Gem" gerutu Mou dengan wajah memelas.
"Aku mohon, setelah kamu wisuda. Aku akan menerima apapun jawabanmu."
Mou tampak menimang-nimang hal itu.
"Aku janji, Ibel tidak akan tahu hal itu." sahut Gemilang lagi.
"Tapi bagaimana jika jawaban ku kekeh ingin melepaskan mu" ucap Mou yang membuat hati Gemilang begitu ngilu tatkala mendengarnya.
"Apapun jawabanmu, yang pasti ijinkan aku untuk terus menemui mu." Suara Gemilang terdengar berat saat mengucapkannya.
"Setelah itu, aku benar-benar tidak akan memaksamu lagi." Ada rasa perih di hati mereka berdua.
Mou mengangguk, "aku setuju" ucapnya bersamaan dengan air mata yang menetes.
"Aku benar-benar benci melihatmu menangis." Gemilang segera mengusap air mata Mou, memeluknya dengan erat.
"Tidurlah, aku akan memeluk mu malam ini. Jangan meminum obat itu lagi." Membawa selimut tebal berbulu untuk menyelimuti tubuh mereka berdua.
Mou semakin menelusupkan kepalanya pada dada kokoh yang begitu hangat, aroma maskulin menyeruak harum dalam Indera penciuman nya.
Laki-laki itu tersenyum lembut. "Ya, kamu bulan sabit ku. Waktu aku bertanya siapa namamu, ternyata aku salah dengar. Aku pikir namamu Moon, bulan. Ternyata namamu Mou". Gemilang terkekeh geli mengingat hal itu.
Mou ikut tersenyum, kembali memeluk tubuh laki-laki itu, "syukur lah" lirih Mou pelan.
"Syukur, apa?" Gemilang masih bisa mendengar hal itu.
"Aku kira itu sebutan untuk wanita lain."
"Kamu butuh bukti yang seperti apalagi, untuk percaya bahwa hatiku sudah seutuhnya milikmu." Nafas Gemilang terdengar begitu berat.
"Aku percaya" pangkas Mou.
"Bahkan malam ini, aku menyiksa tubuhku sendiri." Kata Gemilang begitu frustasi.
"Maksud kamu?"
"Sudah lah, ayo tidur saja." Segera memejamkan matanya meskipun sulit.
.
__ADS_1
.
.
"Oh, jadi kalian mau segera di nikahkan ya!" Suara itu sangat mengusik tidur Mou, pagi ini. Padahal guling nya nyaman sekali.
"Mou!" teriak Toro lagi.
Mou mengerjap-ngerjap menyesuaikan pandangannya yang masih buram.
"Apa sih, Pa." mengusap matanya yang masih ngantuk. Namun ia terkejut sendiri ketika melihat tubuh tegap memunggungi nya. Segera melepaskan pelukannya.
"Aaaaaa!" teriak Mou terkejut, ketika menyadari bahwa Gemilang berada disana.
"Papa nikahkan baru tahu rasa." Toro segera duduk disofa masih memandangi dua manusia itu.
"Saya mau segera di nikahkan, Pa" mata yang masih terpejam itu bersuara.
"Kamu sudah bangun?" Mou mengguncang punggung Gemilang.
"Kalian ngapain saja tadi malam" ucap Toro lagi yang membuat Mou menelan ludahnya kasar.
"Pa, papa salah paham." Mou begitu gugup karena ketahuan tidur berdua dengan Gemilang.
"Papa ingin segera memiliki cucu kan," ucap Gemilang menahan senyumnya dan segera beranjak. Ya, Gemilang yang merencanakan semua ini, dan untungnya Toro menyetujui dengan syarat tidak akan macam-macam pada Mou. Meskipun, ia hampir saja ia khilaf.
"Gem!" gerutu Mou membulatkan matanya, bagaimana bisa Gemilang sesantai itu saat ketahuan begini.
"Cepat mandi, Papa tunggu kalian di bawah untuk penjelasannya." Toro segera berlalu dengan wajah serius nya.
"Gem, kita harus bilang apa ke Papa." ucap Mou mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Minta menikah saja." Gemilang segera berlari ke kamar mandi sebelum Mou melemparnya bantal.
"Abang!"
.
.
.
LIKE,KOMEN AND VOTE GAESSS 💋
__ADS_1