
Elang menyerahkan kunci mobil pada Gemilang "anterin Mou" ucapnya yang membuat Gemilang tak henti-hentinya tercengang, pasalnya semua ini terlalu tiba-tiba dan seperti mimpi yang begitu indah.
Saat ini semua keluarga sudah berada di lobby restoran untuk pulang, hanya bincang-bincang ringan saja dipertemuan keluarga hari ini.
"Pak Toro saya pamit dulu ya, biar Mou diantar Gemilang" ucap Elang lalu segera berpamitan pada semua orang.
"Iya pak Elang" balas Toro tersenyum dan berjabat tangan dengan Elang dan Mila.
Lalu Gemilang dan Mou berpamitan pada semuanya, disambut hangat oleh Jen dan Roman berbeda dengan Toro dan Sam yang sepertinya acuh.
Gemilang segera melajukan mobilnya, masih terdiam seperti memikirkan sesuatu, dan Mou sangat tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Gemilang.
"Mou".
"Gem".
Ucap mereka secara bersamaan, dan saling berpandangan.
"Ladies first" ucap Gemilang tersenyum.
"Kamu pasti lagi mikirin bang Sam sama Papa ku kan" tebak Mou yang membuat Gemilang tersenyum kecil.
"Aku akan berusaha Mou, tidak peduli apapun" jawab Gemilang menggenggam tangan Mou, seolah meminta kekuatan.
Mou menggenggam tangan Gemilang tak kalah erat, memandangi laki-laki itu tanpa kata bosan "Rasanya masih tidak percaya kalau Abang yang dijodohkan dengan Mou" ucap Mou bersamaan helaan nafas lega nya.
"Mou, yang penting sekarang kamu percayakan saja semuanya padaku, soal Papa mu aku yakin dia hanya butuh waktu untuk mengenali aku lebih dekat dan soal Sam aku akan segera menyelesaikan masalahku dengan nya" ucap Gemilang meyakinkan.
Mou mengangguk "apapun itu, Mou percaya jika kita memang ditakdirkan untuk berjodoh, Tuhan akan mempermudah jalan kita".
"Lagian bang Roman sudah ada di pihak ku" ucap Gemilang terkekeh.
Mou berdecak mengingat hal itu, "kok bisa ya aku nggak ketemu kamu, padahal pas nikahan dan lahiran kak Jen aku selalu ke Jakarta".
Gemilang memberhentikan mobilnya di pinggir jalan yang berdekatan dengan taman. Lalu menoleh pada Mou.
"Ini takdir Mouresa" ucap Gemilang mengusap lembut rambut Mou "ayo" lanjutnya segera keluar dari mobil.
"Nanti kalo dimarahin Papa gimana nggak langsung pulang" ucap Mou khawatir ketika Gemilang mengajaknya turun dan menggenggam tangan nya untuk menyusuri taman.
"Bang Roman masih ada di pihak ku" jawab Gemilang terkekeh.
Mou ikut tersenyum melihat senyuman manis dan menawan dari Gemilang, lalu beralih menatap taman yang memang dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang sedang kasmaran.
"Bang mau pentol bakar dong" ucap Mou menunjuk pada deretan penjual yang berada disana.
"biar aku belikan, kamu duduk sini" ucap Gemilang menyuruh Mou untuk segera duduk disalah satu bangku taman.
"Oh ya" ucap Gemilang yang sudah melangkah dan berbalik kembali.
"Ada apa?" tanya Mou.
"pakai ini" ucap Gemilang melepaskan jas nya.
"aku nggak dingin" tolak Mou.
"aku tidak suka melihat calon istriku memakai pakaian terbuka seperti ini" ucap Gemilang segera memakaikan jas nya pada tubuh Mou, ia sempatkan untuk mencubit pipi Mou yang bersemu lalu pergi darisana.
__ADS_1
"Abang ih" ucap Mou tersipu senyumannya begitu malu-malu ketika melihat Gemilang melangkah pergi.
Mata Mou tak berkedip ketika memandangi laki-laki yang rela mengantri untuk membelikan dirinya pentol bakar, bahkan seorang Dirut Elang Group rela melakukan hal seperti itu.
Pipi Mou kembali bersemu tatkala Gemilang menatap kearahnya, tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya.
Duh, meleleh adik bang.
Namun Mou membelalakkan matanya ketika sekumpulan gadis-gadis ikut mengantri di belakang Gemilang, dan sepertinya mereka memang sedang mencari perhatian dari Gemilang.
Huh, kesal sekali.
Mengapa laki-laki itu harus setampan itu, dia selalu menjadi pusat perhatian di manapun ia berada, rasanya sangat tidak rela.
Sedangkan diseberang sana, Seorang gadis mencoba untuk mendekati Gemilang.
"Kak, boleh minta nomor nya" ucapnya malu-malu sembari menyodorkan ponselnya.
Gemilang tersenyum geli, bukan karena gadis ini namun gadis diseberang sana yang memberengut lucu jika sedang cemburu.
"maaf ya, saya sudah memiliki istri" ucap Gemilang menunjuk perempuan cantik yang tengah duduk diseberang sana.
"Ah, masak sih kak" ucap salah satu gadis disana tidak percaya.
"Iya, dia sedang mengidam pentol ini" ucap Gemilang tersenyum kecil lalu segera pergi darisana ketika pesanannya sudah siap.
.
"Seseneng itu ya?" tanya Mou jengkel ketika Gemilang tak henti-hentinya tersenyum.
"iya" jawab Gemilang lalu duduk disamping Mou "aku senang karena kecemburuan mu".
Gengsi sekali wanita ini, batin Gemilang.
"iya-iya nggak cemburu, makan dulu ini pentol nya" ucap Gemilang menyerahkan nya.
"Kamu tadi kasih nomor kamu ke dia?" tanya Mou begitu serius, namun begitu jengkel saat Gemilang membalasnya dengan senyuman.
"Tidak mungkin Mouresa, memilikimu adalah cukup bagiku" kalimat manis yang menghantam jantung Mou menjadi debaran kuat.
"Bener ya bang, Mou nggak mau Abang tebar pesona dimana-mana" ucap Mou sendu. Setidak rela itu dirinya jika Gemilang melirik wanita lain.
"Kamu lebih tahu kan aku orang yang seperti apa" ucap Gemilang membawa kepala Mou agar bersandar pada dada bidangnya.
Mou yang sibuk mengunyah terus menggerutu mengingat tadi Gemilang di dekati banyak gadis cantik.
"Makanya aku ingin kita segera menikah agar tidak ada yang berani melirik mu" ucap Gemilang mencuri satu tusukan pentol bakar yang berada ditangan Mou.
"Kok aku sih bang" ucap Mou yang masih bersandar lalu mendongak.
"Aku kan juga cemburu jika banyak yang melirik mu, apalagi dikantor" jujur Gemilang merasa kesal.
Tangan Mou terulur untuk mengusap sisa saus yang masih menempel pada ujung bibir Gemilang "Aku kira kamu tidak cemburu" ucap Mou tersenyum malu.
"Aku seorang pencemburu berat, dan itu hanya kepada mu Mouresa" ucap Gemilang begitu manis yang membuat Mou memalu dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Gemilang.
.
__ADS_1
.
.
Mobil sport mewah berwarna hitam baru saja memasuki rumah Roman, lalu Gemilang memarkirkan mobilnya disana.
"Kenapa pulang kesini?" tanya Gemilang membukakan pintu mobil untuk Mou.
"Semuanya lagi ada disini" ucap Mou menunjuk tiga laki-laki yang sedang duduk di teras.
Gemilang menelan ludahnya kasar ketika mendapatkan tatapan tak bersahabat dari Toro. Namun ia laki-laki yang harus berani dan tidak peduli dengan semua itu, yang terpenting saat ini adalah Mouresa Munaj harus menjadi istrinya.
"Darimana aja kalian" ucap Sam kesal sekaligus khawatir pada adiknya.
"Ta-tadi Mou pengen makan pentol bang, jadi mampir beli dulu" ucap Mou tersenyum kecut melihat raut wajah Sam.
"Mou masuk" ucap Toro begitu dingin.
"Tapi pa-".
"Maaf om" ucap Gemilang menundukkan kepalanya, merasa telah lancang mengajak Mou keluar di jam malam.
Toro berdiri menatap lalu mendekati Gemilang "Jangan kamu pikir setelah pertemuan keluarga ini saya akan suka sama kamu, dan jangan kamu pikir saya merestui hubungan kamu dengan putri saya".
"Pa" ucap Roman dan Mou bersamaan, merasa papanya sedikit keterlaluan.
"Jangan kamu pikir karena kamu kaya saya akan memberi restu, ingat itu" ucap Toro tersenyum licik.
"Mou masuk, biar Abang yang urus" ucap Roman mengusap rambut Mou.
"Tapi bang" ucap Mou takut-takut papa nya akan berbicara yang tidak-tidak pada Gemilang.
"Abang pastikan semua akan baik-baik saja" ucap Roman menenangkan.
Mou hanya mengangguk dan melangkah pergi dengan ragu, memandang Gemilang penuh kekhawatiran meskipun laki-laki terus tersenyum padanya dan nampak santai.
"Saya meminta restu om bukan karena saya kaya, saya ingin meminta restu sebagai laki-laki biasa yang menginginkan putri om" ucap Gemilang.
"pergi!" kekeh Toro.
"Papa jangan seperti ini" tegur Roman.
"nggak papa bang" ucap Gemilang yang tidak ingin mereka bertengkar hanya karena dirinya "Saya yakin om cuma butuh waktu untuk mengenali saya, dan saya akan meyakinkan om bahwa saya pantas untuk putri om". Setelah mengatakan itu Gemilang segera pamit pada mereka semua.
"Kenapa papa seperti ini" ucap Roman penuh kekecewaan.
"Papa hanya ingin dia membuktikan bahwa dia serius pada Mou, dan adik kamu terlalu berharga untuk untuk diserahkan begitu saja, Papa tidak ingin hanya karena dia kaya dia bisa semena-mena pada Mou nantinya, jadi papa perlu pembuktian bahwa dia benar-benar serius pada Mou" ucap Toro kembali duduk lalu tersenyum kecil sebelum menyesap kopi hitamnya.
"papa cuma mau ngetes dia doang" ucap Roman bingung.
"Bisa dikatakan seperti itu, tentang bagaimana nantinya terserah Mou saja" jawab Toro yang membuat Roman bernafas lega.
.
.
.
__ADS_1
SEDIKIT OBAT RINDU DARI AUTHOR, HAPPY NEW YEAR SEMUANYA.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋💋💋