
Di akhir pekan ini suasana di mall kota Jakarta ini begitu ramai, Mou berjalan sendirian menyusuri setiap toko yang berada disana.
Memang berbelanja adalah satu-satunya penenang untuk hidupnya yang begitu sepi dan hampa ini.
Sendiri dan sepi sudah menjadi temannya selama ini, ia tidak suka bergantung pada orang lain hanya karena hal-hal kecil seperti apapun itu.
tangannya terus membondong paper bag kesana-kemari, membeli perlengkapan untuk tinggal di Jakarta selama tiga bulan ke depan.
Dering pada telpon nya membuat ia menghentikan langkahnya kemudian mengangkat telepon itu.
"Halo bang"
"kamu di Jakarta Mou?" tanya sang Abang yang sepertinya sedang marah padanya.
"i iya"
"malem ini Abang ke hotel yang kamu tempati"
"iya bang"
"bisa-bisanya nggak bilang kalo mau kesini" gerutu Roman, kakak pertama Mou.
"maaf bang abisnya Mou--"
"jelasin aja nanti"
tut. . . .
"huh" Mou menghela nafasnya, ia benar-benar lupa untuk memberitahu abangnya tentang kedatangan nya ke Jakarta, hanya karena terus memikirkan si Bara sialan itu.
Mengingat tentang abangnya membuat Mou teringat sosok gadis kecil ponakannya itu, ia tersenyum saat melihat baju-baju mungil diujung sana.
Sungguh ingin sekali rasanya memberikan baju yang cantik untuk ponakannya yang menggemaskan itu.
Mou baru saja keluar dari toko perlengkapan bayi, namun matanya terkesiap ketika melihat sosok laki-laki yang sangat tidak asing baginya.
"Papa" setetes air mata membasahi pipinya ketika melihat sosok yang dirindukan itu sedang berjalan bersama wanita lain. iya, wanita itu pacar Papa nya semenjak dulu.
__ADS_1
Mou tidak suka dan benar-benar tidak suka, ia tidak suka posisi Mama nya tergantikan di hati Papa nya, juga tidak suka dengan perempuan yang jauh lebih muda dari Papanya itu.
Mou terus mengikuti langkah mereka dari belakang, sampai akhirnya mereka menuju lobby mall ini dan Papanya terlihat meninggalkan wanita itu entah kemana.
"Heh jalangg" ucap Mou menatap sinis wanita yang jelas-jelas hanya menggerogoti uang Papa nya itu.
"Mo-Mouu" wanita itu tampak kaget melihat Mou berada di Jakarta.
"udah berapa banyak uang Papa gue yang lo habisin" ucap Mou tak santai, bahkan orang-orang disana sudah memperhatikan mereka berdua.
"Mouresa sayang"
"nggak usah sok manis , cuih".
Wanita itu terlihat tersenyum mengejek "kan aku calon mami kamu".
"nggak Sudi, jangan ngarep lo!".
"sebentar lagi Papa kamu pasti nikahin aku, buktinya aja dia membiarkan kamu pergi dari rumah kan" ucapnya tersenyum mengejek.
"sialan!" Mou hendak melayangkan tamparan namun wanita itu berhasil menepisnya lalu mendorong tubuh Mou yang memang lebih kecil itu.
Mou memejamkan matanya ketika tubuhnya hendak terhempas ke lantai, namun seseorang menahan tubuhnya.
Matanya mengerjap pelan, namun begitu kaget setelah tahu siapa yang juga sedang menatapnya dengan jarak yang cukup dekat itu.
"Ka-kamu" ucapnya seolah tak percaya laki-laki itu berada disana.
Gemilang membantu Mou untuk berdiri , namun mata Mou teralihkan ketika wanita dihadapannya tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya sendiri ke lantai.
"Mou!" teriak Papa nya yang baru saja datang "kamu apain Tante Ayu" ucapnya kemudian membantu wanita itu untuk bangun.
Ayu tersenyum penuh kemenangan ketika melihat seorang sosok Bastoro Munaj menatap penuh kebencian pada putri semata wayangnya.
"Mou nggak apa-apain" jawab Mou dengan bibir yang terus bergetar.
Gemilang hanya mematung saat melihat interaksi diantara mereka, masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"kamu dorong Tante ayu kan" desak Papa nya.
Mou menggeleng bersamaan air mata yang jatuh begitu saja "Mou nggak dorong!" teriaknya.
"ngapain juga kamu disini" Papanya terlihat mengeluarkan ponselnya "Papa hubungin Ali , kamu pulang sore ini juga".
"nggak mau!" ucapnya mulai terisak.
"siapa laki-laki ini" tanya Papanya karena Gemilang terus berdiri disamping Mou.
"bukan urusan Papa, ayo pergi dari sini" ucap Mou menarik tangan Gemilang.
"Mouresa!" panggil Papa nya dengan geram, Mou menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Papanya.
"urusin aja jalangg Papa" ucap Mou yang membuat papanya menariknya dan hendak menampar nya, namun Gemilang menepisnya.
"kalo mau berantem sama saya saja om, jangan kasar sama wanita" ucapnya kemudian menoleh pada Mou.
"dia siapa kamu sih, Papa tiri kamu?" tanya nya mengejek laki-laki yang berada dihadapannya, bukan bermaksud kurang ajar namun ia benar-benar benci melihat kelakuan laki-laki tua ini terhadap Mou.
"sialan!" Toro baru saja hendak melayangkan pukulan nya pada Gemilang, namun tangan Gemilang menahannya lalu menghempaskan nya.
"Maaf om , saya takut kualat kalo ngeladenin om" ucapnya menepuk-nepuk pundak Toro.
"siapa kamu, kamu pasti yang bawa pengaruh buruk untuk anak saya kan!" ucapnya tanpa malu saat semua orang memperhatikan mereka.
"bukankah lebih buruk ketika seorang ayah tidak memperlakukan putrinya dengan benar, sedangkan ia memperlakukan wanita lain dengan mewah" ucapnya melirik paper bag branded yang berada ditangan wanita itu.
"bocah kurang ajar!".
"ayo pergi" ucap Gemilang menarik tangan Mou tanpa memperdulikan laki-laki tua itu.
Mou terus mengikuti langkah Gemilang dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
.
.
__ADS_1
.
TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR GAESSS 💋